Bab Seratus Tiga Puluh Sembilan: Pemerasan Sepuluh Juta
Nyonya Pang bertengkar dengan Pang Qingtian tadi malam. Pagi-pagi sekali, ia mengusir suaminya itu untuk mencari cucu mereka yang hilang. Nyonya Pang sendiri kemudian bersiap-siap, merias diri, dan setelah sarapan, ia pun berniat keluar untuk mencari peruntungan. Bagaimanapun, sebagai seorang wanita terpandang, ia tidak boleh tampil sembarangan di depan umum. Baru saja ia melangkah ke pintu, telepon rumah berdering.
Asisten rumah tangga, Mbok Zhang, yang sedang membereskan piring langsung berlari mengangkat telepon. "Nyonya, ada yang mencari."
"Siapa?" Nyonya Pang yang sudah bersiap pergi terpaksa kembali.
"Cucumu ada di tanganku. Siapkan sepuluh juta tunai dalam dua hari. Jangan gunakan uang berseri, jangan lapor polisi, dan tunggu panggilanku lagi," suara pria kasar terdengar dari seberang telepon. Sebelum Nyonya Pang sempat bereaksi, sambungan langsung diputus.
"Halo, halo..." Nyonya Pang berteriak panik ke arah gagang telepon, namun tidak ada jawaban.
Begitu menerima telepon dari Nyonya Pang, Pang Qingtian segera menghubungi Xiao Cui.
"Xiao Cui, apa yang kau lakukan? Kenapa menelepon dan memeras uang sepuluh juta dariku?"
"Ada yang memerasmu? Bagus sekali," jawab Xiao Cui dari seberang telepon tanpa rasa kaget, justru terdengar antusias.
"Bukankah kau yang menyuruh orang untuk menelepon?"
"Pang Qingtian, aku tidak punya waktu luang untuk bermain sandiwara penculikan denganmu. Tapi aku peringatkan, batas waktu satu minggu sudah hampir habis. Saat itu tiba, jangan katakan sekadar menculik, membunuh sandera pun akan kulakukan."
Setelah menutup telepon, Pang Qingtian mengertakkan gigi karena marah. Dari ucapan Xiao Cui, jelas bukan dia yang melakukan pemerasan itu. Lalu, siapa pelakunya? Berita hilangnya sang cucu kini telah bocor, dan ia khawatir akan ada lebih banyak orang yang mencoba memanfaatkannya. Ia harus segera menyelesaikan masalah ini secepat mungkin.
Dashu dan Pei Feng kembali. Tidak ditemukan kejanggalan pada rekening istri Wang Kui, pun tidak ada yang aneh dari keterangan tetangga mengenai kejadian Wang Kui melompat dari gedung. Konon, saat itu ekspresi Wang Kui sangat tenang, seolah tidak ada lagi yang perlu disesali di dunia ini. Meski para tetangga membujuk, ia bergeming dan akhirnya melompat tanpa ragu.
Wang Kui sendiri adalah orang yang pendiam dan jarang berinteraksi dengan tetangga karena pekerjaannya sebagai sopir truk yang berangkat pagi pulang malam. Namun, istrinya berhenti bekerja sejak memiliki anak dan sering menghabiskan waktu bergosip tentang orang lain.
Penghasilan Wang Kui tidaklah besar. Setelah membayar cicilan rumah, uang yang tersisa hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari yang pas-pasan. Namun, sejak ia didiagnosis menderita kanker kulit, keluarga kecil itu benar-benar hancur. Tawa berubah menjadi pertengkaran tanpa henti. Ditambah lagi, karena kulitnya yang membusuk, Wang Kui dikucilkan oleh tetangga dan dibenci keluarganya sendiri. Ia pun jarang pulang dan menjadikan truknya sebagai tempat tidur. Banyak yang mendengar rumor bahwa mereka akan bercerai, bahkan ada yang curiga istri Wang Kui telah berselingkuh.
"Bagaimana menurut kalian?" Lin Jinghao ingin mendengar pendapat kedua bawahannya.
"Menurut saya, seorang pria yang bunuh diri dalam kondisi seperti itu bisa dimaklumi. Secara permukaan, tidak ada yang mencurigakan," jawab Pei Feng.
"Bagaimana denganmu, Dashu?" Lin Jinghao beralih pada Dashu karena jawaban Pei Feng tidak memuaskannya.
"Ada pepatah, 'Suami istri bagaikan burung dalam satu hutan, saat bencana tiba, masing-masing terbang sendiri.' Saya merasa, jika istrinya tahu ada orang yang melunasi cicilan rumah mereka dan menyisakan dua ratus ribu tunai di rekening, dia mungkin justru berharap Wang Kui cepat mati."
"Apa yang kau katakan? Dashu, kenapa pikiranmu negatif sekali?" Pei Feng tidak senang mendengarnya.
"Kamu yang masih lajang tahu apa? Tahu tidak apa itu realita? Realita itu egois. Saat tidak ada masalah, semua baik-baik saja. Begitu ada masalah, hubungan seerat apa pun tidak ada gunanya. Apalagi dengan kondisi Wang Kui, tamatnya hidupnya hanya masalah waktu."
"Kepala Lin..." Pei Feng tidak bisa mendebat Dashu dan menatap Lin Jinghao memohon bantuan.
"Apa yang dikatakan Dashu ada benarnya. Pemicu utama kasus ini adalah yayasan amal 'Penyelamat' itu. Merekalah yang seolah mendorong Wang Kui dari lantai atas."
"Kepala Lin, tidak bisa berkata begitu. Kalau mereka tidak memberi sumbangan, nasib Wang Kui akan lebih menderita. Mungkin saja dia sudah bunuh diri saat pergi ke gunung waktu itu." Ucapan Dashu sangat realistis, namun saat dikaitkan dengan hilangnya sang anak, terasa ada sesuatu yang janggal.
"Tidak bisa melacak latar belakang yayasan ini?" Lin Jinghao bertanya setelah terdiam sejenak.
"Di situs resmi, kami hanya bisa melihat informasi dasar. Tapi saya meminta bantuan 'teman' di luar negeri. Kabarnya, yayasan ini sangat misterius. Pendirinya adalah seorang sosialita yang sering masuk ke kalangan atas Prancis. Ada rumor keterkaitannya dengan mafia Korsika. Ini foto yang dikirim teman saya." Soal teknologi internet, Pei Feng jauh lebih unggul dari Dashu.
"Teman macam apa itu? Jangan-jangan peretas!" ujar Dashu dengan ekspresi berlebihan saat melihat foto di ponsel Pei Feng.
Di dalam foto, seorang wanita dengan rambut hitam ikal seperti rumput laut menjuntai ke dada, mengenakan gaun malam hitam dengan bahu terbuka dan belahan tinggi, menonjolkan kulit seputih salju. Sepatu hak tinggi dengan tali hitam memperlihatkan sepasang kaki yang jenjang dan menggoda.
'Wanita ini saat muda pasti sangat cantik!' batin Lin Jinghao.
"Wanita ini pasti sudah empat puluh tahun, kan?" Dashu ikut berkomentar.
"Dia sudah lima puluh lebih," sahut Pei Feng meremehkan.
"Gila, perawatannya bagus sekali! Dasar orang kaya, memang beda," gumam Dashu iri.
'Wanita ini... sepertinya pernah kulihat di suatu tempat...' Lin Jinghao terus menatap foto itu, merasa familier namun tidak bisa mengingatnya.
*Tok, tok, tok.* Pintu kantor dibuka paksa. Instruktur masuk dengan tergesa-gesa, membuat Pei Feng buru-buru menyembunyikan ponselnya.
"Kepala Lin, kalian masih sempat mengobrol? Terjadi masalah besar!"
"Masalah besar apa?" Lin Jinghao berdiri seketika melihat kepanikan instruktur.
"Soal cucu keluarga Pang yang hilang. Saya sudah bilang jangan urusi hal lain dan fokus cari anak itu. Sekarang, seseorang menelepon keluarga Pang dan memeras sepuluh juta!"
"Keluarga Pang melapor ke polisi?" Lin Jinghao tidak menyangka kasus ini berkembang sedemikian rupa. 'Jangan-jangan, ini bukan sekadar kasus penculikan biasa!'
"Keluarga Pang tidak melapor, tapi Zhang Tao sudah membawa tim reserse kriminal kota ke sana. Kalau dia yang memecahkan kasus ini lebih dulu, semua usaha kita selama ini akan sia-sia." Instruktur terlihat cemas akan persaingan posisi kepala kantor cabang.
"Tidak melapor, lalu kenapa mereka turun tangan?" Lin Jinghao bingung.
"Kepala Lin, jangan kira orang lain tidak peduli. Mereka kalah dari kita kemarin dan selalu menunggu kesempatan untuk membalas." Kalimat instruktur membuat Lin Jinghao merasa canggung. Ia memang tidak terlalu mempedulikan jabatan itu.
"Lalu harus bagaimana?"
"Bagaimana lagi? Kita hanya bisa berharap keluarga Pang tidak ingin melibatkan polisi. Dengan begitu, kita masih punya kesempatan untuk balapan dengan tim Zhang." Instruktur menatap tajam, seolah tidak percaya kepala kantor yang biasanya cerdas ini begitu lamban dalam urusan karier.
Setelah Pang Qingtian pergi, Xiao Cui menelepon seorang pria asing. Setelah berbincang singkat dalam bahasa Prancis, ia memastikan sang anak masih dalam kendali mereka, lalu menutup telepon dengan puas.
Tampaknya, pemeras itu hanyalah orang yang mengetahui rahasia hilangnya cucu keluarga Pang dan mencoba mengambil keuntungan di tengah kekacauan. 'Siapa orang ini?'
Satu-satunya orang yang tahu keberadaan anak itu, Wang Kui, sudah mati. Seharusnya Xiao Cui bisa tenang, kecuali... sebelum mati, Wang Kui membocorkan rahasia itu kepada orang lain!
Xiao Cui kembali mengangkat telepon. Meski ia telah menyuap Wang Kui, siapa yang bisa menjamin orang yang akan mati tidak akan membocorkan rahasia kepada orang lain?
Malam tiba, Lin Jinghao memutuskan untuk mendatangi lokasi bunuh diri Wang Kui. Setelah dinasihati instruktur, ia menyadari bahwa ia memang berhutang pada anak buahnya yang menantikan promosi jabatan bersamanya.
Menurut definisi jiwa yang pernah dikatakan Pang Yu, jiwa seseorang yang baru saja meninggal seharusnya masih bisa ditemui. Wang Kui pasti tidak mati atas kemauannya sendiri, jiwanya mungkin masih tertahan di tempat ia enggan pergi.
Bulan Maret, angin musim semi berhembus lembut. Udara tidak terlalu dingin atau panas. Lin Jinghao, dengan pakaian lari hitamnya, kembali muncul di jalanan yang gelap.