Bab Empat Belas
Halaman (1/3)
Bab Empat Belas
Tempat Yao Huan menemukan Feng Yi berada sangat jauh dari gua tempat tinggalnya, bahkan terpisah sejauh puluhan ribu kilometer. Biasanya ia membanggakan diri memiliki kekuatan yang sanggup menembus langit, tetapi menggotong seorang pertapa yang telah berkultivasi selama lebih dari seratus tahun ke atas gunung tetap saja menguras tenaganya.
Setelah terbang sempoyongan hingga tiba di atas gua, ia tanpa basa-basi menjatuhkan Feng Yi ke tanah, lalu menukik masuk ke dalam gua untuk berendam.
Feng Yi yang tergeletak di tanah telah kehausan karena sepanjang perjalanan terus memaki. Setelah terengah-engah dua kali, ia menoleh dan mengamati gua di hadapannya.
Segel pembatas di tubuhnya belum dilepas, sehingga ia belum dapat bergerak bebas. Satu-satunya bagian tubuh yang masih bisa digerakkan hanyalah kepalanya di atas leher.
Feng Yi telah hidup lebih dari seratus tahun, tetapi sungguh tidak pernah menyangka dirinya akan berada dalam keadaan sememalukan ini.
—
Pagi-pagi sekali, Wu Jing pergi mengumpulkan embun pagi. Dalam perjalanan pulang, ia mendengar para siluman yang memenuhi seluruh penjuru gunung sedang asyik membicarakan berbagai kejadian hari itu.
Sebagian besar siluman di Gunung Tanpa Nama menjalani hidup santai. Setiap hari, selain berkultivasi, mereka hanya mengadakan pertemuan sambil minum teh.
Hari ini mereka membicarakan siluman babi hutan dari sebelah timur yang kembali menaruh hati pada siluman cantik mana dan hendak meminangnya. Besok mereka akan membicarakan siluman rubah dari sebelah barat yang lagi-lagi memikat pria macam apa untuk dibawa pulang ke guanya.
Sebagian besar siluman tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada siluman rubah di sebelah barat, yang telah lenyap karena menyimpan niat tidak senonoh terhadap Yao Huan. Mereka hanya tahu bahwa siluman rubah itu dan Yao Huan bertarung hingga sama-sama terluka. Setelah itu, siluman rubah tersebut tidak pernah terlihat lagi. Tak ada yang merasa heran; mereka hanya mengira ia kembali turun gunung untuk menggoda pria.
Gosip itu telah dibicarakan berulang-ulang selama beberapa hari. Namun hari ini, mereka sudah memiliki bahan pembicaraan baru.
Siluman ular yang sedang mengunyah biji bunga matahari melirik Wu Jing yang hendak lewat. Tanpa merasa perlu menyembunyikan apa pun, ia melanjutkan perkataannya tadi.
“Kalian tahu apa yang kulihat? Pagi ini si naga kecil nakal itu menangkap seorang pria dewasa dan membawanya kembali ke gua. Pria itu seorang pertapa, dan pakaiannya compang-camping sampai tubuhnya hampir tak tertutup. Melihatnya saja membuatku malu setengah mati.”
Sekelompok tumbuhan dan bunga yang mendengarkan cerita itu ada yang menangkupkan wajah, ada pula yang menutupi mata. Satu per satu mereka tersipu dengan pipi memerah.
Langkah Wu Jing terhenti. Ia melirik ke samping dan menatap tajam siluman ular itu.
Siluman ular dikenal luas sebagai penggosip nomor satu di Gunung Tanpa Nama. Ia bukan hanya cerewet, tetapi juga gemar menambah-nambahi cerita, membolak-balikkan fakta, dan mencampuradukkan segala hal. Para siluman kecil yang tak tahu apa-apa selalu senang mengerumuninya dan memanggilnya, “Nyonya Ular.”
Ditantang tatapan Wu Jing, siluman ular membalas dengan mendengus dan memutar matanya.
“Dulu saat kubilang si naga kecil nakal itu paling suka menguping urusan siluman rubah, kalian semua tidak percaya. Sekarang ia bertarung dengan siluman rubah itu sampai mengusirnya, lalu menangkap pertapa yang pernah menjalin hubungan dengannya dan membawanya naik gunung. Bukankah itu berarti ia hendak mengikuti jalan kultivasi siluman rubah? Kudengar pertapa itu bahkan pernah menjadikan Kaisar Empat Laut sebagai gurunya. Kalau seorang makhluk abadi seperti Kaisar Empat Laut mengetahui semua ini, bukankah ia akan marah sampai-sampai memenuhi kembali keempat lautan?”
Para siluman kecil itu serempak mengangguk dan menyetujui.
Wu Jing menyimpan botol penampung embun pagi di dekat tubuhnya. Ia melirik siluman ular yang sedang berbangga diri, lalu memetik beberapa kelopak bunga segar sambil berkata pelan, “Siluman rubah yang kalian bicarakan itu bukan turun gunung untuk menggoda pria. Banyak hal yang terjadi di belakang gunung hari itu tidak kalian ketahui.”
Wu Jing memiliki paras yang begitu cantik. Bahkan ketika mengerutkan dahi dan memelototi seseorang, ia tetap tampak seperti gadis yang sedang merajuk. Tatapannya memesona.
“Siluman rubah itu berbicara kurang ajar dan menyinggung Yao Huan, sehingga langsung dilenyapkan. Kalian juga tahu sifat Yao Huan. Ia pemarah dan selalu memilih bertindak lebih dulu daripada berdebat. Ketika tahu siluman rubah itu dikirim untuk terlahir kembali hanya karena tidak berhati-hati dalam berbicara, aku sendiri sempat sangat terkejut.”
Ia terkekeh pelan sambil mengusap kelopak bunga yang lembut dengan ujung jarinya. Seolah-olah sekadar mengingatkan, ia berkata, “Jadi, Nyonya Ular, lain kali berhati-hatilah saat berbicara. Jangan sampai karena terlalu dekat dengan siluman rubah, kau ikut tertular kebiasaan buruk yang tidak pantas.”
Setelah berkata demikian, Wu Jing tidak tinggal lebih lama. Ia menyimpan kelopak-kelopak bunga itu, lalu pergi dengan langkah tenang.
Siluman ular ditinggalkan dengan wajah pucat pasi karena murka. Segenggam biji bunga matahari di tangannya bahkan telah diremas hingga hancur menjadi bubuk.
Begitu keluar dari jangkauan pandangan siluman ular, Wu Jing segera menanggalkan ketenangan yang tadi ditampilkannya. Ia menoleh ke belakang, lalu dengan cepat mengendalikan angin dan melesat menuju gua.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Ketika tiba di gua, Yao Huan baru saja selesai mandi. Rambut panjangnya yang basah tergerai di belakang, membasahi gaun merah muda berkabut yang baru saja ia wujudkan. Rambut itu menjuntai hingga menyentuh tanah, menyerupai kain sutra hitam, membuatnya tampak seperti bunga teratai yang baru saja diguyur hujan. Kelopak-kelopaknya seolah dihiasi mutiara yang berkilauan, mekar dengan anggun.
Yao Huan langsung berseri-seri. Langkahnya yang semula hendak menuju Feng Yi—yang dibuangnya di bawah pohon seperti membuang sampah—seketika berbelok dan berlari ke arah Wu Jing.
Semalam ia mengikuti Kaisar Empat Laut mempelajari ilmu sihir sepanjang malam. Keempat anggota tubuhnya terasa lemas karena kelelahan, dan ia sebenarnya hendak meminta sedikit embun pagi kepada Wu Jing untuk diminum. Namun, setelah mendekat, ia baru menyadari bahwa wajah Wu Jing tampak tidak baik.
Yao Huan segera berkacak pinggang. Dengan mata melotot dan wajah garang, ia bertanya, “Siapa yang berani mengganggu Wu Jing-ku?”
Setelah berubah wujud, raut wajahnya memang belum sepenuhnya matang, tetapi sudah terlihat kecantikan yang kelak akan memikat hati. Namun, dengan tangan di pinggang dan berpura-pura galak seperti itu, ia sama sekali tidak tampak mengintimidasi seperti ketika masih dalam wujud aslinya. Ia malah lebih mirip anak kecil yang sedang marah karena ingin dibelikan gula—membuat orang merasa gemas dan iba, bukan takut.
Wu Jing tersenyum, dan wajahnya pun sedikit melunak.
“Aku mendengar dari siluman ular bahwa kau membawa seorang pertapa pulang. Apakah Kaisar Empat Laut mengetahui hal ini?”
Meskipun tidak memahami alasan Wu Jing bertanya demikian, Yao Huan tetap mengangguk.
“Kaisar Empat Laut sudah menyetujuinya.”
Wu Jing mengembuskan napas lega, lalu melongok ke dalam gua.
“Kau menaruh orang itu di dalam gua?”
“Tidak.” Yao Huan menunjuk ke bawah pohon. “Dia terlalu kotor, jadi aku asal membuangnya ke sana.”
Wu Jing mengikuti arah jarinya dan sekilas langsung melihat Feng Yi yang sedang memejamkan mata sambil mengatur napas. Ketika pandangannya jatuh pada Pedang Penakluk Siluman yang digenggam erat di tangannya, wajah Wu Jing mendadak berubah. Ia segera melangkah cepat menghampirinya.
Yao Huan tidak memahami apa yang terjadi dan ikut mendekat. Melihat Wu Jing sedang mengamati pedang itu, ia menghiburnya, “Kalau kau suka pedang itu, nanti akan kurampas untukmu.”
Begitu kata-kata itu jatuh, Feng Yi membuka mata dan melotot ke arahnya.
Semula ia ingin mengejek naga muda yang tidak tahu diri itu. Namun, setelah menatapnya, ia justru hampir tidak mampu mengalihkan pandangan.
Tadi malam ia belum sempat melihat wajah Yao Huan dengan jelas. Kini, setelah mandi, rambut hitam legamnya tergerai di belakang. Warna sepekat tinta itu semakin menonjolkan wajahnya yang bersih dan putih, halus seperti porselen. Raut wajahnya begitu sempurna, seakan-akan digambar oleh seorang pelukis dengan sapuan kuas yang tepat—tidak lebih dan tidak kurang sedikit pun.
Selama bertahun-tahun berkelana turun gunung, ia telah melihat banyak wanita cantik. Namun, baru kali ini ia menyaksikan gadis jelmaan naga yang kecantikannya menyerupai bunga teratai dari Langit Kesembilan yang belum mekar sepenuhnya. Bahkan dalam keindahannya yang memesona terselip kelembutan yang tertahan, jernih dan seringan roh.
Ia sama sekali tidak tampak seperti naga.
Sebaliknya, ia lebih menyerupai dewi dari Kolam Giok.
Yao Huan tidak suka ditatap orang, terlebih lagi tatapan lurus tanpa berkedip dari seorang pertapa seperti ini. Ia segera mengangkat kaki dan menendangnya, lalu memerintah dengan galak, “Jangan lihat aku! Lihat lagi, akan kukorek bola matamu!”
Feng Yi tersadar dan mendengus dingin.
“Kau harus membunuhku terlebih dahulu jika ingin mendapatkan pedang ini.”
Yao Huan hanya menyukai mutiara yang berkilauan dan permata berwarna kuning keemasan. Senjata yang tampak mengerikan seperti itu sama sekali bukan seleranya. Namun, setelah mendengar perkataan Feng Yi, ekornya tak kuasa bergoyang.
“Pedang ini mahal?”
Feng Yi memalingkan wajah. Ia sangat meremehkan ketidaktahuan Yao Huan.
“Sebagai anggota ras naga, kau bahkan tidak tahu bahwa ini adalah pedang nomor satu di tiga alam?”
Sejak langit dan bumi tercipta, hanya ada satu Pedang Penakluk Siluman. Bagaimana mungkin nilainya diukur dengan uang?
Begitu perkataannya selesai, Yao Huan yang matanya berkilauan dengan paksa membuka kelima jari Feng Yi yang mencengkeram gagang pedang. Ia sama sekali tidak memedulikan noda darah di sana dan langsung menggenggam pedang itu dengan tangannya sendiri.
Sejak kecil, Feng Yi dibesarkan dalam sekte pertapa yang menjunjung aturan dan tata krama. Ia belum pernah bertemu seseorang seperti Yao Huan, yang langsung merampas barang orang lain hanya karena tidak cocok dengan perkataannya.
Seketika amarahnya naik ke ubun-ubun. Ia begitu murka sampai matanya berputar ke atas, nyaris berbusa di mulut.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Setelah akhirnya pulih, ia kembali memaki dengan suara lantang.
Semula Yao Huan agak gentar terhadap aura pedang yang memancar dari Pedang Penakluk Siluman. Namun, begitu mendengar bahwa pedang itu merupakan pedang pertama—eh, bukan, pedang nomor satu—ia tidak lagi merasa keberatan.
Ia mengusap-usapnya berkali-kali, lalu dengan enggan menyerahkannya kepada Wu Jing dan dengan murah hati memutuskan untuk menghadiahkannya.
Wu Jing menerimanya tanpa berkata apa-apa. Ketika ujung jarinya menyentuh bilah pedang, energi pedang yang dilepaskan senjata itu langsung membakar kulitnya seolah-olah dipanggang di atas api. Namun, ia sama sekali tidak menyadarinya. Setelah mengamati pedang itu lama sekali, ia menunduk menatap Feng Yi yang masih terus mengomel, lalu bertanya, “Dari mana kau mendapatkan pedang ini?”
Mendengar itu, Feng Yi berhenti memaki.
Karena telah dua kali menggali lubang untuk dirinya sendiri, ia merasa semua siluman di gunung ini licik dan penuh tipu daya. Apa pun yang ditanyakan Wu Jing, ia tidak mau lagi membuka mulut.
Wu Jing memendam banyak pikiran. Ia hanya berpesan kepada Yao Huan agar menjaga nyawa Feng Yi, lalu pergi sambil membawa pedang itu. Ia tidak mengatakan hendak pergi ke mana, ataupun kapan akan kembali.
Yao Huan menatap Feng Yi yang tampak putus asa setelah kehilangan pedangnya. Dengan kesal, ia menginjak kakinya sekali, lalu berbalik mencari Kaisar Empat Laut.
Tugas Kaisar Empat Laut setiap hari adalah menyirami bunga dan tanaman di halaman kediamannya. Ketika Yao Huan tiba, ia telah berganti pakaian dan sedang duduk di bangku batu sambil memangkas daun bunga peoni dalam pot.
Sisi wajahnya bermandikan cahaya matahari. Tenang dan lembut. Hanya dengan memandanginya, hati Yao Huan sudah terasa geli.
Ia mendekat sedikit dan hendak duduk di bangku batu di samping Kaisar Empat Laut.
Kaisar Empat Laut mengangkat kepala dan melihatnya. Tatapannya berputar sejenak di wajah Yao Huan, lalu jatuh pada rambutnya yang masih basah kuyup.
“Kenapa tidak kau keringkan?”
Yao Huan tersenyum lebar dan mendekatkan kepalanya dengan sikap tanpa malu sedikit pun.
“Aku belum terbiasa.”
Kaisar Empat Laut mengangkat tangan. Kelima jarinya menyatu seperti sisir, lalu ia menyisir rambut Yao Huan dari pangkal hingga ujung. Rambutnya yang sehitam tinta membuat telinga Yao Huan tampak semakin mungil dan elok, dengan kulit putih berkilau seperti batu giok. Melihatnya, warna mata Kaisar Empat Laut menjadi sedikit lebih gelap.
Rambut basah itu terasa dingin. Kaisar Empat Laut menyisirnya tiga kali, dan rambut panjang Yao Huan pun mengering.
Yao Huan mengambil sedikit rambutnya, mendekatkannya ke ujung hidung, lalu mengendus.
“Wu Jing bilang di dunia manusia ada jamur obat yang harum. Katanya, setelah rambut dicuci, rambut akan menjadi wangi.”
Dalam wujud naga, Yao Huan memang selalu suka berdandan. Sesekali, ketika sedang bersemangat, ia akan membujuk bunga lili kecil di gunung untuk dibuatkan mahkota bunga. Namun, kepalanya terlalu besar, sehingga mahkota itu terasa seperti lingkaran penyiksa yang mengencang. Tak lama kemudian ia selalu bosan memakainya.
Kaisar Empat Laut meliriknya dan tersenyum tak berdaya.
“Memang ada. Kalau kau begitu ingin melihat dunia fana, mengapa belum pernah mencoba meninggalkan tempat ini?”
Yao Huan terdiam. Ia menopang wajah dengan kedua tangan dan berpikir lama, sampai akhirnya berhasil menangkap sepotong ingatan yang samar-samar dari dalam benaknya.
“Aku lahir di sini. Para siluman yang lahir di gunung ini baru meninggalkan tempat ini setelah berubah wujud. Setelah berubah wujud, Wu Jing tetap tinggal di sini untuk menemaniku. Aku tidak tega meninggalkan Wu Jing…”
Setelah berkata demikian, ia melirik wajah Kaisar Empat Laut, lalu buru-buru menambahkan dengan nada menjilat, “Aku juga lebih tidak tega meninggalkan Kaisar.”
Benar saja, Kaisar Empat Laut tampak sangat puas dan mengusap kepalanya.
Yao Huan memejamkan mata karena nyaman dibelai. Kepalanya bahkan semakin mendekat ke dada Kaisar Empat Laut. Sebuah pertanyaan yang baru saja melintas di benaknya pun terlontar begitu saja tanpa dipikirkan.
“Kaisar, kau mengajariku ilmu sihir, tetapi tidak menjadikanku muridmu. Apa karena kau malu memberitahuku bahwa sebenarnya kau adalah ayah kandungku yang tidak bertanggung jawab?”
Tangan Kaisar Empat Laut yang sedang mengusap kepala Yao Huan mendadak kaku.
Pada detik berikutnya, setelah sekian lama tidak mengalaminya, Yao Huan kembali diangkat terbalik dengan ekornya oleh Kaisar Empat Laut dan digantung di pohon akasia di depan pintu.
Halaman (3/3)