Pendahuluan

Festa Agitada Bei Qing 1323kata 2026-08-01 00:38:57

Prolog:

Konon katanya, setiap naga yang lahir ke dunia sudah membawa harta karun, kekayaannya setara dengan sebuah negara. Namun, Yao Huan... hanyalah seekor naga yang lahir di lembah pegunungan. Ia tak punya harta karun, juga sama sekali tidak kaya.

Gua tempat tinggalnya pun bukan warisan turun-temurun, melainkan hasil ia membantingkan ekor ke tanah hingga terbentuk lubang. Mata air jernih di dalam gua juga dia gali sendiri dengan cakarnya. Bahkan tetangganya yang tinggal di sebelah, itu pun hasil ia pungut di jalan...

Tetangganya adalah Kaisar Empat Lautan.

Beberapa tahun lalu, di musim panas, hujan deras turun berturut-turut selama beberapa hari. Gua Yao Huan kebanjiran, tak ada tempat untuk tidur. Ia pun berguling-guling di lereng gunung, mencari Dewa Tanah agar dibuatkan gua baru. Tanpa sengaja, ia tergelincir jatuh dari gunung, lalu berjumpa dengan Kaisar Empat Lautan yang datang menembus angin.

Anehnya, sejak kehadiran tetangga barunya itu, cuaca di tempat ini selalu cerah.

Yao Huan pun memungutnya dan menjadikannya tetangga.

Namun, tak lama kemudian, Yao Huan menyesal.

Sebab, meski tampaknya Kaisar Empat Lautan berwajah tampan dan tak berbahaya, aslinya ia sangat licik dan usil. Ia sering sekali menarik ekor Yao Huan, mengangkatnya seperti anak ayam.

Usia Yao Huan dari lahir sampai sekarang bahkan belum seujung kuku usia Kaisar Empat Lautan. Ilmu dan kekuatannya pun rendah, tak ada pula yang mengajarinya bagaimana cara berlatih. Sehari-hari, kegemarannya hanyalah mencuri telur burung atau berburu tikus tanah. Jika sudah berhadapan langsung dengan urusan seperti ini, jelas ia bukan tandingan siluman tua berusia ribuan tahun itu.

Sesama bangsa naga, Kaisar Empat Lautan selalu menghela napas tiap kali melihatnya, lalu berkata bahwa Yao Huan mempermalukan bangsa naga.

Yao Huan benar-benar tak mengerti.

Karena keberadaannya, para penduduk desa di sekitar gunung ini setiap hari memilih jalan memutar agar tak harus melewati sarangnya. Kalau ada rakyat nekat yang ingin menaklukkannya, baru sampai depan pintu saja sudah dibuat lari terbirit-birit gara-gara bersin Yao Huan.

Lama-kelamaan, ia pun dikenal luas sebagai naga jahat yang ditakuti.

Ia tak paham, dengan reputasi segagah ini, bagaimana mungkin ia mempermalukan bangsa naga?

Sang Kaisar meneguk minumannya, menatap laut jauh di ufuk sana, matanya penuh makna, “Penguasa lautan seharusnya bukan sosok sepertimu.”