Bab 40: Dituduh Tanpa Alasan
Setelah mereka tiba, Li Ping'an kebetulan mendengar percakapan antara Tuan Tanah Zhu dan tetua keluarga. Ia memberi isyarat kepada ketiga orang lainnya agar tidak mendekat, karena ia ingin melihat situasi terlebih dahulu.
“Guru, mereka hendak membakar putri sulung keluarga Zhu! Kalau tidak dihentikan, arwah gentayangan putri itu akan terus menggangguku, bukan?” tanya Yang Hu dengan cemas.
“Pendeta itu bukan hendak membakar jenazah, tapi ingin menggunakan hawa jahat kuburan liar untuk menyempurnakan mayat,” jawab Li Ping'an. Sambil berbicara, ia sudah memahami dengan jelas susunan di sekitarnya.
“Lalu, bagaimana ini?” Yang Hu tetap gelisah. Menurutnya, baik membakar maupun menyempurnakan mayat, itu semua tampaknya tak ada hubungannya dengan arwah gentayangan.
“Kakak kedua, ada guru di sini, kenapa kau panik?” ujar Yang Biao. Jelas bukan karena ia percaya pada Li Ping'an. Namun, ia pernah bertemu dengan pendeta yang melakukan ritual itu. Orang itu adalah kepala Biara Angin Kuning, Pendeta Angin Kuning. Di ibu kota, setiap keluarga pejabat yang mengalami kejadian aneh pasti memanggil dia untuk mengusir roh jahat. Lama kelamaan, ia pun menjadi tamu kehormatan para pejabat tinggi. Sosok seperti itu, apapun yang hendak dilakukan, bukanlah sesuatu yang bisa diganggu oleh rakyat kecil seperti mereka. Itulah sebabnya ia menasihati adiknya. Asal Li Ping'an yang bertindak, itu urusan para ahli, mereka jangan sekali-kali ikut campur agar tak dimusuhi.
Pengurus rumah tangga keluarga Zhu melihat ke arah tuannya, lalu melirik Li Ping'an. Setelah ragu sejenak, ia bertanya, “Guru, bolehkah aku memberi tahu tuan agar ia mengulur sedikit waktu?”
“Tak perlu, nona rumahmu masih hidup. Ilmu penyempurnaan mayat sementara ini takkan berhasil,” jawab Li Ping'an.
Perkataan Li Ping'an itu membuat saudara-saudara Yang dan pengurus rumah tangga keluarga Zhu terkejut bukan main.
“Guru, jika nona Zhu masih hidup, lalu siapa yang muncul dalam mimpiku?” Yang Hu yang mulai bisa berpikir jernih malah semakin takut.
“Ada satu keadaan manusia yang disebut mati suri. Itu karena tiga jiwanya tidak utuh dan tujuh rohnya terlepas dari tubuh. Orang yang kau lihat memang benar nona Zhu.”
Li Ping'an cukup terkesan dengan kejujuran Yang Hu, maka ia memberi penjelasan lebih.
Baru setelah itu Yang Hu merasa lega.
Di saat mereka berbicara, kepala keluarga telah menyampaikan perkataan sang pendeta kepada Tuan Tanah Zhu. Tuan Tanah Zhu pun benar-benar marah. Dendam lama dan baru membuncah; ia tak peduli lagi soal adat dan tata krama. Ia menatap kepala keluarga dengan dingin, “Ketua tua, selama bertahun-tahun, aku yakin tak pernah berbuat salah pada siapa pun di keluarga kita. Sekolah dan klenteng keluarga dibangun dan kurawat dengan uangku. Siapa pun yang kesulitan selalu kubantu. Kali ini, anak perempuanku terkena musibah, demi kebaikan keluarga, aku bahkan tidak menguburnya di makam leluhur, melainkan dengan berat hati memakamkannya di kuburan liar. Kini, istriku hanya ingin melihat putri kami sekali saja, tapi kalian semua menolak. Bahkan kalian sampai mengutuk putriku, katanya tak akan bereinkarnasi dengan baik. Ini sudah keterlaluan! Bukan aku yang durhaka pada keluarga, tapi kalianlah yang sudah melampaui batas.”
“Hari ini, aku, Zhu Chongwang, bersumpah di hadapan semua warga desa, mulai sekarang keluar dari keluarga Zhu, mendirikan keluarga sendiri. Mulai saat ini, aku tak punya urusan lagi dengan Klan Zhu.”
Dengan bersimpuh, Zhu Chongwang bersumpah di hadapan langit. Setelah itu, ia berdiri dan memerintahkan para pelayannya, “Cepat suruh orang-orang yang mengangkat peti mati itu, bawa pergi peti putriku! Aku akan mencari tempat pemakaman yang lebih baik, agar putriku mendapatkan pemakaman yang layak.”
“Baik!” Para pelayan setia Zhu Chongwang segera mengiyakan dan mengatur orang-orang untuk mengangkat peti mati.
Pendeta yang berdiri di atas panggung tiba-tiba melompat turun dan menghadang Zhu Chongwang. Dengan tatapan tajam ia membentak, “Dasar iblis jahat! Kau telah mencelakai putri Zhu, kini hendak mencelakai Tuan Zhu pula. Aku takkan membiarkanmu!”
Sambil berbicara, pedang kayu persik di tangan sang pendeta langsung diarahkan dengan kuat ke dada Tuan Tanah Zhu.
Ritual mengurung hawa jahat dan menyegel mayat hari ini tak boleh digagalkan oleh siapa pun. Ini berkaitan dengan rencana besar gurunya. Bila berhasil, kelompok mereka tak perlu lagi bersembunyi dan memakai identitas palsu. Mereka bahkan bisa melampaui Gunung Naga-Macan dan Gunung Kura-Kura.
Namun, saat pedang kayu persik itu hampir menusuk dada Tuan Tanah Zhu, sebuah tangan menahan serangan penuh tenaga itu. Seketika, pedang kayu persik itu remuk menjadi beberapa bagian di tangan tersebut.
Pendeta itu menatap pedang pemberian gurunya yang dengan mudah dihancurkan lawan. Ia begitu marah hingga giginya bergemeletuk, menatap Li Ping'an yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Siapa kau? Mengapa melindungi makhluk jahat?”
Perkataannya kali ini cukup mengandung maksud tertentu.
Karena ia sadar tak mampu melawan, ia pun bermaksud memanfaatkan situasi. Ia belum menunggu jawaban Li Ping'an, sudah meninggikan suara, “Tahukah kau? Iblis yang menguasai Tuan Zhu dan putrinya, tujuan utamanya adalah Desa Zhu. Hari ini kau menghalangiku, apa kau ingin melihat seluruh warga Desa Zhu hancur?”
Lolos dari maut, Zhu Chongwang kini sadar. Tadi pendeta itu ingin membunuhnya. Untung saja pemuda di depannya bertindak cepat menyelamatkannya. Ia segera memberi hormat sebagai tanda terima kasih kepada Li Ping'an. Lalu ia berbalik menghadapi pendeta itu, “Sejak kau bilang putriku makhluk jahat, aku sudah tahu kau pendeta palsu. Kau tak bisa menipu kami, lalu ingin membakar putriku, dan saat gagal, kau malah hendak membunuhku? Benar-benar keterlaluan! Aku, Zhu Chongwang, akan mengadukanmu ke pengadilan!”
Pendeta itu sama sekali tak peduli pada tuduhan Zhu Chongwang. Lagi pula, istri kepala pengadilan juga pengikutnya, mana mungkin ia bermasalah. Yang ia risaukan kini hanya Li Ping'an, sebab ia tak bisa menilai kekuatan pemuda itu. Ia memutuskan untuk mundur, memprovokasi warga agar menentang Li Ping'an, bahkan berharap ada yang bertindak atas namanya.
Ia tak menanggapi Tuan Tanah Zhu, juga tak membantah. Ia menatap kerumunan warga, membungkuk hormat dengan sopan, lalu berkata, “Para warga sekalian, aku adalah Pendeta Angin Kuning dari Biara Angin Kuning. Aku datang ke Desa Zhu karena melihat hawa jahat yang amat kuat. Aku hendak mengusir roh jahat di sini. Kini, Tuan Zhu yang dirasuki iblis malah memfitnahku. Kalian semua diam saja, aku sungguh kecewa. Aku hanya bisa meninggalkan amal bakti ini dan pergi. Semoga kalian semua berhati-hati.”
Usai berkata demikian, ia kembali membungkuk hormat pada orang banyak. Dalam hatinya, ia berharap orang-orang suruhannya di tengah kerumunan mengerti maksudnya.
Benar saja, saat ia berbalik, seseorang berseru, “Jadi Anda inilah Pendeta Angin Kuning yang terkenal di ibu kota! Maafkan aku yang tak mengenal orang hebat, izinkan aku memberi hormat!”
Selesai bicara, orang itu benar-benar berlutut dan membenturkan kepalanya ke tanah dengan keras.
“Duk, duk, duk!” Suara kepalanya membentur tanah terdengar nyaring. Setelah selesai, orang itu berdiri kembali, dahinya sudah merah berdarah. Beberapa orang lain pun mulai berseru mengikuti. Ada pula yang memandang Li Ping'an dengan penuh amarah, “Kau sungguh tak sopan! Berani-beraninya menghalangi Pendeta Angin Kuning mengusir roh jahat! Aku yakin kau juga makhluk jahat, biang keladi di Desa Zhu!”