Bab 13: Rumah Pengobatan Terbakar

Bukankah sangat masuk akal jika seorang tabib jenius sepertiku menjadi kaisar? Aku ingin memakan bulan. 2480kata 2026-02-09 12:00:02

Dengan campur tangan Pangeran Kang, kebenaran segera terungkap. Ternyata, istri mendiang berselingkuh dengan adik iparnya dan perbuatan mereka diketahui oleh seorang pria bertopeng. Pria bertopeng itu memberikan sebungkus racun, memerintahkan wanita itu agar memberikan obat tersebut kepada suaminya yang sedang sakit keras. Pada malam itu juga, sang suami tewas akibat racun.

Pria bertopeng itu lalu menyuruh mereka berdua untuk menuduh Li Ping An dari Balai Pengobatan Ji Shi sebagai pelakunya. Ia juga mengancam, jika tidak mengikuti perintahnya, aib mereka akan dibongkar ke publik. Maka terjadilah adegan mereka mengadu ke Pengadilan Jingzhao.

Adapun siapa sebenarnya pria bertopeng itu, keduanya tidak tahu. Namun, bukti yang ada sudah cukup. Setelah lima hari mendekam di penjara bawah tanah, Li Ping An pun akhirnya dibebaskan.

Pada saat itu, para tahanan di penjara bawah tanah menitikkan air mata haru. Orang yang selalu membuat keributan itu akhirnya akan pergi. Selama lima hari ini, setiap waktu makan, mereka sangat tersiksa. Mereka makan roti kasar bercampur sekam dan sup sayur yang sudah agak basi, sementara si Li Ping An setiap hari menyantap daging dan ikan lezat. Aroma masakannya saja sudah membuat mereka merasa tersiksa, lebih menyakitkan daripada siksaan fisik.

Keluar dari penjara bawah tanah, Li Ping An mengucapkan terima kasih kepada Er Hu, “Saudara Er Hu, He Lao Liu sudah menceritakan semuanya padaku. Terima kasih atas perhatianmu selama beberapa hari ini. Aku berhutang budi padamu.”

“He Lao Liu itu memang tidak bisa menjaga mulutnya,” gerutu Er Hu, lalu membungkuk hormat pada Li Ping An, “Sejujurnya, aku tahu kau tidak bersalah. Aku juga sangat mengagumi etika pengobatanmu, dan tak tega melihatmu menderita, jadi aku melakukan ini. Tak perlu sungkan.”

Sebagai seseorang yang telah mengalami dua kehidupan, Li Ping An tahu bahwa kata-kata sopan seperti itu cukup didengar saja. Er Hu pasti punya alasan tersendiri ingin mengambil hatinya. Namun karena Er Hu tak ingin bicara lebih jauh, Li Ping An pun tidak bertanya lebih lanjut.

Begitu keluar dari kantor pengadilan, Er Hu sudah menyiapkan kereta kuda untuk Li Ping An dan dengan ramah membantunya naik ke atas kereta. Namun, saat tangan Er Hu bersentuhan dengan lengan Li Ping An, ia menyadari ada yang aneh: urat-urat di tubuh Er Hu sangat kacau, tampak seperti dampak buruk dari latihan bela diri yang gagal. Tapi dari raut wajahnya, Li Ping An tidak melihat tanda-tanda sakit. Apa sebenarnya yang terjadi? Mungkinkah ini berkaitan dengan teknik latihan yang ia pelajari?

Memikirkan hal itu, Li Ping An tidak langsung naik ke kereta, ia berbalik dan memegang pergelangan tangan kiri Er Hu untuk memeriksa denyut nadinya.

“Tabib Li…” Er Hu tampak bingung. Belum sempat ia bertanya, Li Ping An sudah memotongnya, “Akhir-akhir ini, saat berlatih, apakah kau sering merasakan napas tidak stabil, dan jantung seperti hendak meloncat keluar dari dada?”

“Ah!” Er Hu terkejut, lalu sadar sesuatu dan menjawab jujur, “Benar! Guruku bilang itu tanda-tanda aku akan menembus batas diri dan naik ke tingkat berikutnya.”

Li Ping An berkata, “Jika dugaanku benar, kau pasti berlatih Tinju Tujuh Luka.”

Mulut Er Hu menganga, lalu mengangguk keras.

“Tinju Tujuh Luka adalah teknik yang menggabungkan kekuatan dalam dan luar. Berdasarkan gejalamu, tampaknya metode latihan dalammu tidak lengkap. Jika kau memaksa diri, kau akan menjadi cacat,” simpul Li Ping An.

Er Hu tiba-tiba teringat pada gurunya. Gurunya, yang dulunya tak terkalahkan, tiba-tiba menjadi lumpuh dalam semalam. Gurunya selalu berkata bahwa itu karena nasib buruk, dan berpesan agar Er Hu berlatih dengan sungguh-sungguh demi mengharumkan kembali nama Tinju Tujuh Luka. Selain ingin mendapat perlindungan dan masa depan dari Li Ping An, alasan lainnya Er Hu mendekatinya adalah berharap Li Ping An bisa menyembuhkan sang guru.

Namun, ia merasa apa yang telah ia lakukan masih belum cukup untuk meminta bantuan Li Ping An. Tapi dalam kondisi seperti ini, ia tak bisa menahan diri dan bertanya, “Tabib Li, jika seseorang jadi cacat karena latihan, bisakah Anda menyembuhkannya?”

“Tidak bisa,” jawab Li Ping An tegas. Melihat sorot mata Er Hu yang redup, ia menambahkan, “Mungkin suatu saat nanti bisa.”

“Kalau begitu, aku lega,” jawab Er Hu cerdas, tidak melanjutkan pembicaraan, dan kembali membantu Li Ping An naik ke atas kereta.

Baru saja Li Ping An naik ke kereta, kereta itu berjalan sekitar dua puluh meter lalu dihentikan seseorang. Kemudian, tirai kereta disingkap, dan masuklah Cai Jun, yang keluar dari penjara satu jam lebih awal dari Li Ping An.

Melihat wajah tebal Cai Jun, yang selama lima hari ikut makan bersamanya, Li Ping An langsung cemberut.

“Kau tidak ikut adik-adikmu keluyuran, kenapa malah menghadang keretaku?” tanya Li Ping An.

“Hehe, apa kau selama lima hari di penjara jadi suka padaku? Eh, kenapa nada bicaramu seperti cemburu!” goda Cai Jun sambil tertawa.

Mendengar itu, Li Ping An langsung merinding. Setelah dipikir-pikir, memang kata-katanya barusan agak ambigu.

Ia pun berkata ketus, “Jangan bercanda, kalau ada urusan bilang saja, aku masih harus segera kembali ke balai pengobatan untuk mengobati pasien!”

“Kau mau mengobati apa? Balai pengobatanmu tadi malam dibakar habis orang, dan seratus keping emas hadiah Pangeran Kang juga dicuri,” kata Cai Jun.

“Pihak pengadilan sudah memeriksa tempat kejadian, katanya pencuri membakar balai pengobatan dan rumahmu untuk menghilangkan jejak,” lanjutnya.

Mendengar itu, amarah Li Ping An langsung membuncah. Mereka bahkan tidak memberinya tempat tinggal! Dengan nada tidak rela, ia bertanya, “Tidak ada petunjuk sedikit pun?”

“Tidak ada. Tapi tetangga penjual barang bekas bilang mencium bau minyak tung,” jawab Cai Jun, yang sudah naik ke kereta, lalu menawarkan, “Sebagai balas budi kau sudah traktir makan enak, menginap saja di rumahku!”

“Tidak, aku harus melihat sendiri balai pengobatan,” tolak Li Ping An.

Li Ping An menduga, orang yang membakar balai pengobatan tidak sama dengan dalang yang menjebaknya. Jika dalang fitnah ingin membunuhnya, pasti sudah melakukannya di penjara, bukan membuatnya kehilangan tempat tinggal. Maka, Li Ping An yakin pembakar balai pengobatan adalah orang yang juga membunuh pemilik tubuh aslinya. Ini adalah kesempatan untuk menelusuri jejak dan menyelesaikan masalah tersebut.

“Kau pikir dirimu detektif hebat?” sindir Cai Jun.

Walau begitu, ia tidak menolak dan akhirnya ikut bersama Li Ping An naik kereta menuju balai pengobatan.

Bahkan sebelum sampai di balai pengobatan, Li Ping An sudah mencium bau hangus yang menyengat dari dalam kereta. Terbayang betapa besarnya kebakaran tadi malam.

Kereta berhenti di luar balai pengobatan. Li Ping An dan Cai Jun turun dari kereta, dan yang mereka lihat adalah kerumunan warga yang sedang membicarakan peristiwa tersebut. Saat melihat Li Ping An, mereka langsung diam. Beberapa tetangga yang pernah disembuhkan penyakitnya oleh Li Ping An bahkan datang menghampiri dan meminta maaf karena tidak bisa melindungi balai pengobatan miliknya.

“Wahai para tetangga, ini bukan salah kalian. Jika ada yang harus disalahkan, itu aku yang telah menyinggung orang yang tidak seharusnya. Syukurlah kalian semua selamat, tidak ada yang terluka,” ucap Li Ping An dengan tulus.

Andai ada tetangga yang celaka demi memadamkan api, ia pasti akan menyesal seumur hidup.