Bab 19: Butiran Beras Kecil Berwarna Emas yang Aneh
“Paduka, jangan lakukan apa pun dulu. Hamba masih perlu memastikan beberapa hal sebelum menentukan metode pengobatan.” Setelah berkata demikian, Li Pingan memberi hormat pada Pangeran Kang.
Ia lalu membawa rubah putih kecil itu masuk kembali ke dalam menara.
Li Pingan sama sekali tidak sedang menipu Pangeran Kang. Ketika formasi itu diaktifkan, ia sempat merasakan hambatan sesaat. Justru karena hambatan sekejap itulah, semua orang di tempat kejadian sempat melihat tirai cahaya yang muncul sekelebat itu.
Kembali ke puncak menara, Li Pingan merasakan dengan saksama, tetapi tidak menemukan keanehan pada jalannya formasi. Namun, rasa gelisah yang menyelimuti hatinya tetap tidak kunjung hilang.
“Nampaknya, aku hanya bisa menunggu matahari terbit dan memanfaatkan energi murni mentari pagi untuk memperkuat formasi ini sekali lagi.”
Ia menengadah, melihat langit yang mulai memutih di ufuk timur. Merasa waktu makin mendesak, ia pun bergegas kembali ke dalam menara untuk memodifikasi formasi agar dapat menyerap energi matahari pagi.
Tanpa mengganggu jalannya formasi utama di kediaman Pangeran, Li Pingan melakukan perubahan seperlunya. Selesai, ia kembali ke puncak menara, dan seberkas cahaya keemasan telah membias pada batu giok di puncak itu.
Ukiran pada batu giok itu seperti hidup, menyerap cahaya matahari dengan rakus. Tak sampai seperempat jam, seluruh formasi diselimuti oleh energi murni matahari pagi. Bersamaan dengan itu, dari beberapa sudut kediaman Pangeran terdengar suara berdesis, disertai kepulan asap hitam tipis.
Semua perubahan itu tentu saja tidak luput dari indra Li Pingan. Namun rasa aneh yang membayangi hatinya masih belum juga lenyap.
Tiba-tiba, jeritan aneh yang memilukan menyadarkannya dari meditasi. Ia menoleh ke arah suara itu dan melihat rubah putih kecil yang tadi masih tenang berlatih, kini menggelinding kesakitan di lantai puncak menara.
Dari tubuhnya, samar-samar terlihat secarik jimat kuno yang aneh.
“Ada sesuatu yang tersegel dalam tubuhnya! Dan ini jelas sesuatu yang sangat jahat.”
Li Pingan segera menarik kesimpulan. Ia cepat-cepat melangkah mendekati rubah putih itu, menyalurkan energi spiritual melalui tangan kirinya ke dalam tubuh rubah putih, membantunya melawan jimat tersebut.
“Tubuhnya panas sekali.” Baru saja tangannya menyentuh kepala rubah putih, telapak tangannya seolah dicelupkan ke air mendidih, panas yang menyiksa.
Bisa dibayangkan betapa hebatnya penderitaan rubah putih saat ini. Namun, Li Pingan masih sanggup menahan rasa sakit itu. Sambil terus menyalurkan energi spiritual, ia menggerakkan tangan kanan untuk menusukkan jarum, berusaha menyegel jimat yang tidak dikenal itu.
Namun tepat ketika ia akan berhasil menyegel jimat itu, entah karena jimat itu sudah terlalu lama sehingga kehilangan daya, atau karena energi spiritual yang ia salurkan bercampur dengan energi rubah putih dan menimbulkan reaksi, tiba-tiba jimat itu pecah di dalam tubuh rubah putih.
Pada saat jimat itu hancur, sebuah benda keemasan sebesar butir beras keluar dari kepala rubah putih, menelusup ke telapak tangan kiri Li Pingan, lalu masuk ke dalam tubuhnya.
Begitu benda kecil itu masuk, tubuh rubah putih pun kembali normal.
Li Pingan terkejut bukan main. Ia segera menggerakkan energi inti untuk merasakan apa yang terjadi.
Tapi setelah satu putaran penuh, ia justru memperlihatkan ekspresi tidak percaya. Benda kecil yang masuk ke dalam tubuhnya itu, setelah mencapai inti tubuhnya, justru diam tak bergerak.
Benda itu tidak menyerap energinya, bahkan malah memancarkan vitalitas dan kekuatan yang besar, memenuhi inti tubuhnya.
Hanya dalam sekejap, benda itu membantunya menuntaskan tahap pembangunan dasar, langsung mengantarnya ke ranah tingkat lanjut.
“Apa sebenarnya benda ini?”
Li Pingan kembali menggerakkan energi di dalam tubuhnya untuk menelusuri keberadaan benda itu. Namun, setelah berusaha cukup lama, benda kecil itu tetap tak bereaksi.
Sungguh aneh! Selama dua kali hidup, baru kali ini ia mengalami hal seperti ini.
Li Pingan hanya bisa menghela napas. Namun, rasa tidak tenang yang tadi menggelayuti hatinya kini lenyap sudah.
Tampaknya, sumber perubahan itu memang berasal dari rubah putih, atau lebih tepatnya, dari benda kecil sebesar beras yang kini berada dalam tubuhnya.
Meski begitu, demi kehati-hatian, Li Pingan tetap menarik dan menyerap energi murni matahari pagi ke dalam tubuhnya, memutarkan beberapa kali. Setelah yakin benda kecil itu tetap tidak bereaksi, ia pun tenang.
Ia beristirahat sehari lagi di kediaman Pangeran Kang, dan meminta Pangeran Kang menyiapkan beberapa ramuan penambah vitalitas untuk diminum setelah cacing pemakan hati dikeluarkan.
Usai makan malam, tubuh Li Pingan sudah kembali ke kondisi terbaik. Ia memutuskan untuk mulai proses pengeluaran racun dengan jarum akupunktur.
Demi menghindari kemungkinan buruk, ia tetap memilih menara sebagai tempatnya. Ia juga meminta agar lantai pertama menara dilapisi batu giok putih.
Ia ingin menusukkan jarum di atas batu giok, agar jika terjadi kelelahan berlebih, ia masih bisa segera menyerap energi spiritual dan tidak sampai gagal.
Untuk tempat dan waktu pelaksanaan, Pangeran Kang tidak mempermasalahkan sama sekali.
Asalkan cacing yang telah mengganggunya selama lima belas tahun bisa dikeluarkan, itu sudah cukup baginya.
Setelah semua persiapan selesai, Li Pingan mulai mengerahkan seluruh energi spiritual dalam tubuhnya. Ia membalut jarum peraknya dengan energi spiritual.
Menatap Pangeran Kang yang telah duduk bersila di atas batu giok, Li Pingan berkata, “Paduka, proses pengeluaran racun ini akan terasa cukup sakit. Mohon jangan mengerahkan tenaga untuk melawan.”
“Baik, aku mengerti. Silakan mulai, Guru Li.”
“Baiklah.” Kini Li Pingan tidak lagi mempermasalahkan perubahan panggilan oleh Pangeran Kang. Toh, tidak bisa diubah, jadi diterima saja.
Saat Li Pingan dengan tenang menusukkan jarum perak ke salah satu titik di dada Pangeran Kang, ia mendapati pemandangan aneh.
Seluruh saluran energi, tulang, bahkan organ dalam Pangeran Kang tampak jelas di matanya.
“Apa-apaan ini? Mataku jadi seperti sinar-X?”
Saat Li Pingan masih kebingungan, ia merasakan keanehan pada inti tubuhnya. Benda kecil sebesar beras itu memancarkan cahaya keemasan di dalam inti tubuhnya.
Karena cahaya itu, ia bisa melihat perubahan dalam tubuh manusia sedemikian jelas.
“Apa sebenarnya benda ini? Kenapa bisa punya kemampuan seperti ini? Dan kenapa sebelumnya ada di tubuh rubah putih? Sungguh misterius.”
Namun Li Pingan tahu, sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu.
Yang terpenting saat ini adalah membantu Pangeran Kang mengeluarkan cacing racun.
Jika matanya kini, berkat petunjuk benda kecil di inti tubuhnya, bisa berfungsi layaknya sinar-X, maka ia akan memanfaatkannya sebaik mungkin untuk mencari posisi cacing itu.
Li Pingan segera menemukan seekor ulat emas kecil yang perlahan bergerak di pembuluh darah dekat jantung Pangeran Kang.
Ia segera menusukkan jarum ke arah itu.
Dengan energi spiritualnya, ia membungkus cacing itu, dan menunggu hingga cacing itu menjauh dari jantung, masuk ke pembuluh kapiler, barulah ia akan menusuk kulit Pangeran Kang dan mengeluarkan cacing itu.
Ketika Li Pingan berkeringat deras, bekerja keras seperti kerbau untuk perlahan memindahkan cacing itu, benda kecil keemasan di inti tubuhnya kembali memancarkan cahaya.
Lalu, ia melihat dalam energi spiritualnya muncul semburat emas, dan cacing yang terbungkus energi itu pun disambar cahaya emas.
Sekejap kemudian, cacing itu berubah menjadi asap dan masuk ke dalam tubuh Li Pingan, akhirnya diserap oleh benda kecil keemasan itu.
Bahkan, Li Pingan merasa seolah-olah mendengar suara sendawa puas dari dalam dirinya.