Bab 165: Guru yang Jelita (Bagian Kedua)
Sepertinya ini pertanda perkelahian akan pecah. Belum sempat aku berpikir, tiba-tiba aku merasakan embusan angin dari telapak tangan yang mengarah ke arahku. Secara naluriah, aku segera menangkisnya dengan siku.
Aku benar-benar tidak paham. Aku hanya sedang berusaha mengeluarkan serangga yang menyiksa di dalam tubuhku, apakah perlu sampai seperti ini?
Setelah menangkis serangan Li Qinghai, aku membentak, "Apa yang sebenarnya kau lakukan?"
Li Qinghai mendengarkan ucapanku, lalu menjawab dengan geram, "Tanya dirimu sendiri apa yang sedang kau lakukan! Kau berada di istana Dinasti Qing, beraninya kau melepaskan aura kekuatanmu di depan Yang Mulia Kaisar. Jika bukan hendak membunuh Kaisar, lalu apa namanya?"
Sambil berkata demikian, Li Qinghai mengubah telapak tangannya menjadi cakar dan langsung menerjang ke arahku. Tak disangka, kuku sang kasim tua ini begitu panjang dan tajam.
Saat kuku itu menggores tubuhku, terdengar suara gesekan logam yang nyaring, bahkan memercikkan bunga api. Namun, serangan itu tidak memberikan luka yang berarti bagiku.
Aku sedikit melayang ke belakang, kaki hanya berjarak beberapa sentimeter dari permukaan tanah, lalu berhenti tidak jauh dari posisi Li Qinghai.
Aku menatapnya dan berkata dengan lantang, "Kasim Li, sepertinya kau salah paham. Aku melepaskan auraku hanya untuk mengusir serangga yang menyiksa di dalam tubuhku!"
"Jangan pikir aku akan percaya begitu saja. Siapa pun yang berani mengeluarkan aura di istana ini pasti berniat jahat. Aku tidak akan membiarkan orang seperti itu!" seru Li Qinghai.
Setelah berkata demikian, aku melihat pria itu menerjangku lagi. Ia melompat tinggi, tubuhnya melengkung di udara, kedua tangannya membentuk cakar yang menyambar dengan suara mendesing.
Melihat serangannya, aku sedikit menarik kaki kanan ke belakang, lalu merendahkan posisi kuda-kuda dan mengepalkan kedua tangan, bersiap menahan serangannya.
Lenganku langsung menyambut cakar Li Qinghai, menimbulkan suara dentuman berulang kali. Satu, dua, tiga kali...
Setelah serangkaian pertukaran pukulan, aku mundur perlahan sembari terus menangkis serangannya.
Xianfeng yang melihatku bertarung sengit dengan Li Qinghai justru mengira aku sedang menangkap Li Qinghai. Ditambah lagi, ia belum pernah melihat pertarungan dua ahli bela diri dari jarak sedekat ini, sehingga ia terus memperhatikan kami dengan saksama.
Semakin dilihat, pertarungan itu terasa semakin seru. Xianfeng pun menonton tanpa berkedip, sesekali berseru memberi semangat padaku, "Bagus, Yan Yunyang! Tangkap dia untukku! Jika berhasil, aku akan memberimu hadiah besar!"
Li Qinghai, yang melihat orang yang susah payah ia lindungi justru menyemangati musuhnya, merasa sangat geram hingga dadanya sesak.
Kemudian, aku mendengar Li Qinghai berteriak, "Cakar Hantu Neraka!" Kuku-kukunya tampak memanjang hingga sepuluh sentimeter lebih, dan di ujung kukunya memancarkan hawa dingin yang menusuk saat ia mencengkeram ke arahku.
Melihat ia mulai serius, tangan kananku pun diselimuti api. Aku menatap api itu, lalu mengepalkan tangan dan berteriak, "Rasakan ini! Tinju Api: Pemecah Langit!"
Aku mengayunkan tinjuku menyambut Li Qinghai. Tinju apiku beradu dengan cakarnya. Setelah saling menatap dengan penuh amarah, kami kembali bertukar serangan dengan sengit.
Seketika, di tengah Ruang Belajar Selatan, bayangan tubuh kami berkelebat dengan bunga api yang memercik ke segala arah, diiringi suara dentuman yang tak henti-hentinya.
Tiba-tiba, Li Qinghai melesat ke atas, menembus atap Ruang Belajar Selatan hingga berlubang. Rupanya ia khawatir pertarungan kami akan melukai Xianfeng, sehingga ia ingin memancingku ke atas. Aku sempat mendengar ia berkata, "Bocah, kalau punya nyali, ikuti aku!"
Aku pun merasa tidak pantas bertarung di dalam ruangan karena bisa melukai orang-orang di sekitar Xianfeng yang hanyalah manusia biasa. Akhirnya, aku melesat keluar melalui lubang di atap yang ia buat.
Tak disangka, Li Qinghai sudah menungguku di udara. Melihatku menyusul, ia berkata, "Bocah, kau punya nyali juga. Aku pikir kau tidak akan berani keluar."
"Kenapa aku tidak berani? Orang lain mungkin takut padamu, tapi aku tidak!" balasku.
Tiba-tiba, Li Qinghai melakukan gerakan di udara, tubuhnya mengeluarkan bunyi gemeretak, lalu ia berkata, "Kalau begitu, aku bisa bertarung sekuat tenaga. Tadi aku menahan diri agar tidak melukai Kaisar, kalau tidak, sudah lama aku menghabisimu!"
Melihat sikapnya yang meremehkan seolah ia tak terkalahkan, aku merasa muak dan mendengus, "Sombong sekali."
Ia berteriak, "Bayangan Kloning!" Seketika, tubuhnya terbelah menjadi lima bayangan yang persis sama dengannya, sehingga total ada enam sosok Li Qinghai.
"Ha ha, menyerahlah sekarang selagi sempat, atau kau hanya akan mati di bawah cakarku!" ucapnya dengan angkuh. Suaranya yang parau membuat ucapannya terdengar sangat tidak menyenangkan.
Namun, tepat pada saat itu, seseorang melompat keluar dari Ruang Belajar Selatan. Setelah aku perhatikan, ternyata itu Zhang Qixing. Ia berdiri di antara aku dan Li Qinghai.
Zhang Qixing berteriak kepada kami, "Yan Yunyang, Kasim Li, apa yang kalian lakukan! Tidakkah kalian tahu ini tempat terlarang istana? Berkelahi saja sudah keterlaluan, bahkan sampai merusak Ruang Belajar Selatan! Berhenti sekarang juga!"
Li Qinghai yang melihat Zhang Qixing berdiri di tengah, menjawab dengan keenam sosoknya, "Melapor kepada Putri Ketujuh, dia yang berniat membunuh Kaisar. Hamba hanya berusaha melindungi Kaisar, terpaksa melawannya. Kerusakan pada atap ini adalah hal yang tidak disengaja."
Sambil berkata demikian, ia memohon, "Mohon Putri Ketujuh menyingkir, biar hamba meringkusnya!"
Mendengar itu, aku langsung berkata kepada Zhang Qixing, "Qixing, kau lihat sendiri, bukan aku yang ingin melawannya, dia yang terus menyerangku. Aku hanya membela diri!"
Zhang Qixing menatapku dengan tajam, lalu membentak Li Qinghai, "Li Qinghai, Yan Yunyang adalah orang yang kubawa masuk. Kau bilang dia ingin membunuh Kakak Kaisar, apakah maksudmu kau menuduhku yang ingin membunuh Kakak Kaisar?"
Li Qinghai segera menjawab dengan hormat, "Hamba tidak berani!"
"Tidak berani?" Zhang Qixing mengulangi, lalu kembali membentak, "Apa yang tidak berani kau lakukan! Mundur sekarang!"
Li Qinghai tidak segera pergi, melainkan berkata dengan ragu, "Putri Ketujuh..."
...
Saat kami bertiga sedang berhadapan di atas atap Ruang Belajar Selatan, tiba-tiba sesosok bayangan terbang dari arah langit.
Dari kejauhan, aku melihat itu adalah seorang wanita. Pakaiannya berkibar tertiup angin saat ia terbang, memberikan kesan yang sangat anggun dan surgawi.
Semakin dekat, sosoknya terlihat semakin jelas. Ia mengenakan atasan berlengan mawar merah muda, rok panjang berwarna hijau zamrud, ikat pinggang dari sutra emas, dan rambutnya disanggul dengan tusuk konde giok berbentuk burung phoenix.
Kesan pertamaku adalah wanita ini sangat cantik. Saat ia terbang menuju kami, ia tampak seperti bidadari yang turun ke bumi.
"Qinghai, ternyata kau masih sama seperti yang dulu," ucap wanita itu saat mendarat di atap.
Suaranya terdengar sangat jernih dan merdu, seperti kicauan burung yang menenangkan hati.