Bab 166: Guru Cantik (Bagian 2)
Pada bagian sebelumnya, aku, Zhang Qixing, dan Li Qinghai sedang berhadapan di atas atap Ruang Belajar Selatan. Tepat pada saat itu, dari kejauhan melayang datang seorang perempuan cantik. Gerakannya begitu anggun dan ringan, laksana seorang dewi yang turun dari kahyangan ke dunia fana!
Aku ingat, ketika mendarat di atas atap Ruang Belajar Selatan, ia berkata kepada Li Qinghai, “Qinghai, tak kusangka kau masih saja seperti dulu!”
Dari ucapan itu, mudah ditebak bahwa perempuan cantik bak dewi tersebut mengenal Li Qinghai. Hanya saja, aku tidak tahu persis hubungan mereka.
Ketika melihat perempuan cantik itu, aku menangkap sedikit ketegangan di wajah Li Qinghai. Setelah itu, ia segera membungkuk dan memberi hormat.
“Hamba tua Li Qinghai menghadap, Paduka Penguasa Istana!”
Saat itu, aku langsung salah mendengar sebutan “Penguasa Istana” sebagai “putri”. Dalam hati aku pun berpikir bahwa perempuan cantik ini pasti seorang putri. Wajahnya tampak masih sangat muda—mungkinkah ia kakak Zhang Qixing atau semacamnya? Namun, segera muncul pertanyaan lain dalam benakku: mengapa ia tidak mengenakan pakaian seorang putri seperti Zhang Qixing?
Setelah Li Qinghai selesai memberi hormat, perempuan cantik itu mengibaskan tangannya dengan lembut. Jari-jarinya yang ramping bergerak ringan di udara, lalu bibirnya pun bergetar dan mengalunkan suara merdu seperti suara dari kahyangan.
“Qinghai, kita sudah saling mengenal cukup lama, bukan? Sudahlah, bangunlah.”
Mendengar ucapannya, Li Qinghai baru perlahan-lahan berdiri. Ia bahkan buru-buru mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih, Paduka Penguasa Istana.”
Setelah itu, Li Qinghai berdiri diam di samping.
Kemudian, perempuan cantik itu mulai mengamati aku dan Zhang Qixing dari atas sampai bawah. Aku tidak tahu apa yang hendak dilakukannya, tetapi tatapannya membuatku gelisah. Di bawah sorot matanya yang menyelidik, aku merasa sangat tidak nyaman.
Tak lama kemudian, kulihat ia berjalan menuju Zhang Qixing. Langkahnya begitu ringan. Perlahan, ia sampai di hadapan Zhang Qixing. Saat itu, aku melihat sedikit kebingungan di mata Zhang Qixing. Ia menatap perempuan tersebut dengan penuh tanya, seolah tidak tahu apa yang hendak dilakukannya.
Sesampainya di sisi Zhang Qixing, perempuan cantik bak dewi itu menatapnya sambil menyunggingkan senyum tipis.
“Jadi, kaulah Putri Ketujuh, Aisin Gioro Qixing?”
Sambil berkata demikian, ia memutar tubuhnya dengan lembut dan berpindah ke sisi Zhang Qixing. Lalu, ia membisikkan sesuatu di dekat telinganya.
“Kudengar kau pergi ke Gunung Naga dan Harimau untuk mempelajari ajaran Tao. Mengapa sudah kembali?”
Ketika melihat Zhang Qixing hendak membuka mulut, ia segera mencegahnya berbicara. Lalu ia berseru, “Oh!” seolah tiba-tiba memahami sesuatu. Setelah itu, ia berputar lagi ke sisi lain Zhang Qixing dan melanjutkan,
“Aku ingat sekarang. Bukankah Gunung Naga dan Harimau sudah berpihak kepada Pasukan Taiping? Pantas saja kau kembali.”
Ia mengoceh begitu panjang kepada Zhang Qixing hingga gadis itu sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang hendak dilakukannya.
Akhirnya, Zhang Qixing bertanya dengan penuh kebingungan, “Siapa sebenarnya kau? Mengapa berada di sini? Tidakkah kau tahu bahwa ini istana kekaisaran dan tidak boleh dimasuki sembarangan?”
Mendengar percakapan antara Zhang Qixing dan perempuan cantik bak dewi itu, aku langsung tercengang. Bukankah mereka seharusnya bersaudara?
Apa yang sebenarnya terjadi? Dari ucapan mereka, keduanya sama sekali tampak seperti orang yang tidak saling mengenal.
Perempuan cantik bak dewi itu tidak menjawab pertanyaan Zhang Qixing. Ia hanya menghilang sekejap, lalu tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.
Aku nyaris tidak sempat bereaksi ketika menyadari wajahnya berada sangat dekat dengan wajahku—hanya berjarak beberapa sentimeter.
Saat itu, aku bisa melihat pupil matanya dengan jelas. Pupil hitam legam itu bagaikan lubang tanpa dasar yang mampu menyedot siapa pun ke dalamnya.
Karena ditatap dari jarak sedekat itu, tubuhku pun melengkung ke belakang. Dengan cara itulah aku berusaha menghindari pandangan matanya.
Namun, ketika melihatku berusaha menghindar, ia ikut membungkukkan tubuh dan menatap mataku lekat-lekat. Aku tidak menemukan niat membunuh dalam sorot matanya, tetapi entah mengapa hatiku tetap dipenuhi rasa takut.
Aku pun mundur beberapa langkah, lalu berkata terbata-bata kepadanya, “Kau... kau... sebenarnya mau apa?”
Melihat kepanikanku, ia malah tertawa kecil.
Menatap senyumnya, aku sempat terpaku. Tiba-tiba muncul perasaan bahwa aku pernah melihatnya di suatu tempat. Karena itu, aku tak kuasa memperhatikannya dengan lebih saksama. Semakin lama kupandangi, semakin kuat perasaan bahwa aku pernah bertemu dengannya. Namun, aku benar-benar tidak mampu mengingat di mana.
Mungkin karena terus menatapnya, senyum di wajahnya perlahan menghilang. Kukira ia marah, maka aku segera memalingkan kepala ke arah lain. Bagaimanapun, terus menatap seorang perempuan tanpa berkedip adalah tindakan yang tidak sopan.
Saat aku memalingkan kepala, kulihat Putri Kesepuluh, Kaisar Xianfeng, dan Kasim Lin berlari keluar dari dalam Ruang Belajar Selatan.
Sesudah itu, mereka bertiga mengangkat kepala dan memandang ke atas atap. Kurasa mereka hendak melihat bagaimana hasil pertarungan kami.
Tepat pada saat itu, sesosok bayangan muncul di hadapanku. Setelah kulihat baik-baik, ternyata perempuan cantik bak dewi itu.
Lalu kudengar ia berkata kepadaku dengan suara yang sangat dingin,
“Sudah puas melihat-lihat?”
Dalam hati aku langsung berkata, “Benar dugaanku. Dia marah.”
Sesaat kemudian, ia berkata dengan nada mengancam, “Percaya atau tidak, akan kucungkil kedua matamu sekarang juga!”
Saat itu, aku benar-benar bertanya-tanya apakah ia memang menginginkan kedua mataku. Kalau bukan, mengapa sejak tadi ia terus menatap mataku?
Aku pun ketakutan dan segera menyingkir ke samping, menjauh darinya.
Ketika aku sudah menjaga jarak, kulihat Putri Kesepuluh berlari ke arahnya dari bawah. Kedua tangannya terbuka lebar, seolah hendak memeluk perempuan itu.
Benar saja, Putri Kesepuluh langsung menerjang ke dalam pelukannya.
“Guru Cantik, kau datang!” serunya dengan gembira.
Perempuan itu segera memeluk Putri Kesepuluh dengan penuh kasih. Senyum pun menghiasi wajahnya.
“Benar, Guru datang menjemputmu. Selama beberapa hari ini, kau pasti sudah bersenang-senang sampai lupa waktu, bukan?”
“Tidak juga...” Putri Kesepuluh mendengus manja dalam pelukannya dengan wajah malu.
Pada saat ini, bahkan orang bodoh pun pasti tahu bahwa perempuan cantik tersebut adalah guru Putri Kesepuluh. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, entah mengapa aku merasa perempuan bak dewi itu sama sekali tidak tampak seperti guru seorang putri. Bagaimana mungkin ia bisa mendidik murid seperti Putri Kesepuluh?
Aku benar-benar sulit mempercayainya. Namun, melihat kedekatan mereka, hubungan itu tampaknya bukan pura-pura.
Kemudian aku kembali berpikir: mungkinkah ia memang bukan seorang putri? Zhang Qixing tidak mengenalnya, sementara Putri Kesepuluh justru memanggilnya guru...
Beberapa saat sebelumnya, Putri Kesepuluh masih tampak begitu gembira. Namun, tidak lama setelah berada dalam pelukan gurunya, ia malah mulai menangis.
“Hiks... hiks... hiks...”
Guru Putri Kesepuluh segera bertanya dengan cemas, “Mingyue, ada apa? Mengapa kau menangis begitu melihat Guru? Apakah kau merindukan Guru?”
Siapa sangka, meskipun tampak begitu muda, guru Putri Kesepuluh ternyata memiliki hati yang begitu penuh kasih.
Putri Kesepuluh terus menangis dalam pelukannya, lalu berkata,
“Hiks... hiks... Guru, Mingyue... sepertinya sudah kehilangan Guru... hiks...”
Mendengar tangisannya, perempuan itu menepuk-nepuk punggung Putri Kesepuluh dengan tangan kanannya, lalu menghiburnya,
“Sudahlah, sudahlah. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Bukankah Guru sudah datang?”
“Hiks... hiks... hiks...”
Putri Kesepuluh menangis beberapa saat lagi. Setelah itu, ia mengangkat kepala dan menatap gurunya. Dengan suara tersedu-sedu, ia mengadu,
“Guru, kau datang tepat waktu. Tahukah kau? Murid kesayanganmu ini telah ditindas seseorang.”
Begitu selesai berkata, ia kembali menangis tersedu-sedu.
Perempuan itu hanya bisa terus menenangkannya.
“Tidak apa-apa... tidak apa-apa. Katakan kepada Guru, siapa yang telah menindasmu? Guru akan membalaskan dendammu!”
Kini aku mengerti. Semua tindakan Putri Kesepuluh sejak tadi ternyata hanya demi saat ini. Ia memang sengaja menunggu gurunya datang agar perempuan itu menghukumku.
Tak lama kemudian, Putri Kesepuluh mengangkat tangan kanannya dan langsung menunjuk kepadaku.
“Dia! Dia orangnya! Dialah yang menindasku!”
Setelah mendengar pengaduan murid kesayangannya, perempuan itu menepuk lembut punggung Putri Kesepuluh. Kemudian, ia menurunkan gadis itu perlahan dari pelukannya dan berkata,
“Mingyue, Guru akan pergi menghajarnya sekarang juga.”
Mendengar ucapan gurunya, Putri Kesepuluh langsung tampak sangat gembira. Dalam hati, ia bahkan tertawa puas.
“Hehe, tetap saja aku yang paling hebat. Dengan beberapa kata saja, aku sudah berhasil membuat Guru turun tangan. Yan Yunyang, kali ini kau tamat!”