Bab 148: Penyihir Cilik
Putri Kesepuluh mendengarkan perkataan kakak ketujuhnya, lalu berkata dengan nada lembut, "Tidak kok, aku tidak bilang apa-apa. Apakah kakak salah dengar?"
Zhang Qixing menatapnya dengan tajam dan menyahut, "Begitukah? Aku jelas-jelas mendengar kau mengatakan bahwa waktunya sudah tiba..."
"Masa sih?" ucap Putri Kesepuluh berpura-pura terkejut, padahal dalam hati ia membatin: Harus segera mengalihkan pembicaraan.
Ia pun segera mengalihkan topik, "Kak, bukankah kedua makhluk ini adalah rubah berekor sembilan yang legendaris?"
Yang ia maksud tentu saja si kembar Jiu Youmeng. Mereka adalah rubah berekor sembilan yang asli, namun demi mengikuti Zhang Qixing, mereka menyamar menjadi dua ekor kucing kecil. Orang biasa tidak mungkin bisa mengenali wujud asli mereka.
Kemampuan Putri Kesepuluh untuk melihat wujud asli mereka menunjukkan bahwa ia bukanlah orang sembarangan. Anehnya, Zhang Qixing tidak merasa terkejut sedikit pun akan hal itu.
Ia menatap adiknya dengan tenang dan berkata, "Benar, mereka berdua memang rubah berekor sembilan." Nadanya sangat datar, seolah-olah itu bukanlah hal yang istimewa.
Melihat sikap Zhang Qixing, tampaknya ia sudah tahu bahwa adiknya juga merupakan bagian dari dunia supranatural.
Mata Putri Kesepuluh berbinar saat melihat si kembar Jiu Youmeng. Ia segera melompat dan menangkap Jiu Youhuan.
Begitu tertangkap, Jiu Youhuan mengeluarkan suara "puk" dan kembali ke wujud aslinya, lalu berteriak, "Jangan sentuh aku!"
Tentu saja, Jiu Youhuan tidak suka disentuh oleh Putri Kesepuluh. Saat mendengar makhluk itu bisa berbicara, rasa penasaran sang putri semakin memuncak. Dengan penuh semangat ia berseru, "Wah, ternyata ini rubah berekor sembilan yang bisa bicara! Guru pernah bilang, di dunia sekarang rubah berekor sembilan sudah sangat langka. Tidak disangka di sini ada dua sekaligus, dan salah satunya bisa bicara!"
Sambil berbicara, ia mengangkat Jiu Youhuan dengan memegang salah satu ekornya. Jiu Youhuan yang tergantung terbalik meronta-ronta sambil berteriak, "Lepaskan aku! Lepaskan aku!"
Putri Kesepuluh menatap mata merah kecil milik Jiu Youhuan, lalu menusuk-nusuk kepalanya dengan jari sambil berkata, "Ternyata begini rupa rubah berekor sembilan, tidak ada bedanya dengan rubah putih biasa selain punya sembilan ekor!"
Jiu Youhuan melihat jari itu menusuk kepalanya, ia pun berteriak marah, "Lepaskan aku! Kalau tidak, aku... aku akan menggigitmu!"
Jiu Youhuan tahu bahwa gadis ini adalah adik dari pemiliknya, Zhang Qixing, jadi ia tidak tega menggigitnya secara sungguhan.
Namun, Putri Kesepuluh tidak peduli dan terus menusuk kepala kecil Jiu Youhuan. Walaupun tidak terasa sakit, Jiu Youhuan merasa sangat marah karena dipermainkan. Ia pun mencoba menggigit tangan sang putri.
Melihat Jiu Youhuan benar-benar ingin menggigit, Putri Kesepuluh menarik jarinya, namun ia merasa sangat lucu dan terus menggoda makhluk itu.
Jari sang putri terus menusuk-nusuk, memancing Jiu Youhuan untuk menggigit, lalu menariknya kembali dengan cepat. Ia terus mengulangi perbuatannya sambil tertawa cekikikan.
"Adik Kesepuluh! Jangan ganggu dia lagi, turunkan dia!" tegur Zhang Qixing setelah melihat kejadian itu.
Putri Kesepuluh tidak menggubris dan berkata, "Tidak mau, aku belum puas bermain!"
"Adik Kesepuluh!" bentak Zhang Qixing dengan marah.
Mendengar nada bicara itu, sang putri sadar kakak ketujuhnya sudah marah, sehingga ia pun menurunkan Jiu Youhuan.
Dengan wajah masam, ia menatap Zhang Qixing dan bergumam, "Iya, iya, aku lepaskan. Cuma main-main saja, kok... Huh!"
Setelah dilepaskan, Jiu Youhuan segera memanggil Zhang Qixing dengan gembira, "Terima kasih Tuan! Terima kasih Tuan!"
Ia segera bersembunyi di balik punggung Zhang Qixing. Jiu Youmeng yang cerdik juga segera berlari ke belakang tuannya, takut kalau-kalau ia akan menjadi sasaran sang putri selanjutnya.
Zhang Qixing tersenyum kecil melihat tingkah kedua makhluk kecil yang ketakutan itu.
Melihat mereka bersembunyi, Putri Kesepuluh mengerucutkan bibirnya karena bosan, matanya berputar-putar memikirkan sesuatu.
Ia kemudian berkata kepada Zhang Qixing, "Kak, aku dengar rubah berekor sembilan itu sangat cerdas, benarkah?"
Zhang Qixing tidak tahu rencana licik apa yang sedang disusun adiknya, ia hanya mengangguk lalu bertanya, "Kenapa? Jangan bilang kau mengincar mereka. Aku peringatkan, aku tidak akan setuju jika kau ingin macam-macam dengan mereka! Hapus saja pikiran itu!"
Mendengar itu, Putri Kesepuluh memasang wajah malu-malu dan berkata, "Kak, mana mungkin. Aku ini kan gadis yang manis dan baik hati dari istana... bagaimana mungkin aku mengincar mereka..." Ia bersikap seolah-olah dirinya sangat terzalimi.
Zhang Qixing hanya bisa terdiam dan menatap adiknya dengan tatapan meremehkan, "Manis dan baik hati? Siapa di istana yang tidak menyebutmu iblis kecil? Bahkan Kakak Keempat saja berani kau jahili, apalagi yang tidak berani kau lakukan?"
"Mana ada..." balas sang putri dengan wajah pura-pura sedih.
"Huh, itu kan dulu waktu aku masih kecil, hanya sedikit nakal. Sekarang aku sudah besar dan tidak akan menjahili orang lagi. Aku sudah menjadi anak yang penurut! Para pelayan di istana saja bilang aku ini polos, manis, dan baik hati!"
Zhang Qixing membatin, mereka berani bilang tidak kalau kau memaksa?
"Kakak..." rengek Putri Kesepuluh saat melihat kakaknya terdiam cukup lama.
"Ada apa?"
"Lihat, kau punya dua rubah berekor sembilan. Bagaimana kalau berikan satu padaku?" rupanya itu tujuan utamanya.
Si kembar Jiu Youmeng yang mendengar hal itu gemetar ketakutan dan terus mundur ke belakang Zhang Qixing.
"Kedua makhluk ini bukan sepenuhnya milikku, yang satu milik temanku..." jawab Zhang Qixing.
"Teman Kakak?" bisik Putri Kesepuluh, "Jangan-jangan teman kakak itu pria yang tadi ada di pintu?"
"Kenapa, kau sudah melihatnya?" Zhang Qixing tidak menjawab langsung, melainkan bertanya balik.
Putri Kesepuluh mengangguk, "Saat aku masuk tadi, aku menabraknya. Tubuhnya keras sekali sampai aku kesakitan! Akhirnya aku melompat ke tubuhnya, lalu aku..." ia tiba-tiba tersadar dan berhenti bicara.
"Lalu apa?" tanya Zhang Qixing dengan mendesak.
"Tidak... tidak ada apa-apa," jawabnya gugup. Melihat kegugupannya, Zhang Qixing seolah teringat sesuatu dan bertanya, "Jangan bilang kau menaruh benda itu di dalam tubuhnya!"
Melihat adiknya tidak menyangkal, Zhang Qixing langsung paham dan segera berlari mencari Yan Yunyang.
Di dalam kamar hanya tersisa si kembar Jiu Youmeng dan Putri Kesepuluh. Mereka merasa ngeri melihat senyum licik sang putri, sehingga mereka langsung lari menyusul Zhang Qixing.
Putri Kesepuluh mengejar mereka sambil berteriak, "Jangan lari! Jangan lari! Siapa di antara kalian yang mau jadi hewan peliharaanku? Jangan lari!"
...
"Katakan atau tidak? Kalau tidak, aku bunuh kau!" kataku dengan marah sambil mencengkeram Meng Ru dan mengangkatnya.
"Uhuk, uhuk," Meng Ru terbatuk di udara, lalu memohon dengan panik, "Aku katakan... aku akan katakan!" Melihat sikapku, ia merasa aku benar-benar akan membunuhnya, sehingga ia pun menyerah.