Bab Delapan Puluh Dua — Pertempuran Massal [Bagian Kelima]
Zain berteriak lantang, lalu melihat dua petugas ketertiban kota, satu tua satu muda, mendorong kerumunan dan berjalan mendekat.
Yang lebih tua menunjuk ke arah Zain dan membentak, “Siapa yang mengizinkanmu mengamen di sini? Tidak tahu kalau dilarang berjualan di sini?”
Zain mengangkat kedua tangannya, “Saya tidak bilang sedang mengamen.”
Petugas tua itu tidak puas dan berkata, “Barusan aku dengar sendiri kau bilang ingin mendapat saweran. Kalau bukan mengamen, itu apa namanya!”
Zain tersenyum, “Lihat saja, apakah di sini ada uang?”
Petugas tua itu menoleh ke kiri dan kanan, memang tidak ada uang di situ.
Zain pun baru bernyanyi sebaris, belum ada yang memberinya uang.
Namun petugas muda itu berkata, “Pasti sudah disembunyikan. Penghasilan dari berjualan liar seperti ini harus disita!”
Petugas tua itu langsung membentak, “Keluarkan uangnya!”
Mendengar ini, Zain pun merasa tak terima.
Tak ada alasan untuk didenda, tapi malah hendak merampas uang secara terang-terangan.
Ini perampok atau petugas kota, sih!
Zain pun langsung mendengus dingin, “Apa-apaan ini, kalian mau merampok uang terang-terangan?”
Petugas tua itu berkata dengan garang, “Ini denda!”
Orang-orang yang berkerumun di sekeliling, melihat situasi jadi tidak beres, langsung mengeluarkan ponsel dan mulai merekam mereka.
Sifat keras kepala Zain pun langsung muncul, ia memaki, “Apa bedanya kalian dengan perampok! Aku akan lapor polisi sekarang juga, aku tidak percaya tidak ada yang berani menindak kalian!”
Petugas tua itu marah dan berkata, “Di sini aku ini polisi, aku ini hukum, aku mau lihat siapa yang berani urus!”
Sambil berkata, ia hendak menangkap Zain.
Zain yang gesit langsung menghindari tangan petugas tua itu.
Pak Xu yang melihat kejadian itu segera maju dan berkata, “Hentikan semuanya! Mana ada cara penegakan hukum seperti ini!”
Petugas muda melihat itu, langsung mengangkat tangan hendak memukul sambil memaki, “Dasar orang tua!”
Zain melihat situasi memburuk, khawatir sesuatu terjadi pada Pak Xu. Lelaki tua delapan puluhan itu, sekuat apa pun fisiknya, mana mungkin tahan pukulan anak muda.
Namun saat Zain hendak maju, ia tidak memperhatikan keberadaan petugas tua di sampingnya. Petugas itu memanfaatkan kesempatan, menangkap Zain dan membentak, “Masih mau kabur!”
Meski Zain bergerak cepat, tenaganya tak besar, sehingga saat sudah tertangkap ia tak bisa langsung melepaskan diri.
Sementara itu, Pak Xu melihat petugas muda melayangkan pukulan. Alih-alih mundur, ia malah maju, menangkis pukulan itu dengan satu tangan. Lalu, dengan tubuhnya, ia menghantam si petugas muda hingga terpelanting.
Zain yang menyaksikan hal itu pun melongo. Ia tahu Pak Xu dulunya pesilat, tapi tak menyangka di usia setua itu, kekuatan tempurnya masih sedemikian hebat, sekali gerakan bisa membuat petugas muda itu terjungkal.
Zain memanfaatkan saat petugas tua itu terpaku, mengangkat kaki dan menendang perutnya.
Petugas tua itu menjerit kesakitan, langsung tersungkur ke tanah sambil berteriak, “Hancur, hancur!”
Kerumunan yang menonton, setengah bersorak untuk Pak Xu, setengah lagi menertawakan petugas tua itu.
Zain segera berdiri di samping Pak Xu dan bertanya, “Pak Xu, sekarang bagaimana?”
Pak Xu melirik ke sekeliling, melihat ada mobil patroli petugas kota di kejauhan, lalu berbisik pada Zain, “Ayo cepat pergi!”
Zain mengangguk, mengikuti Pak Xu berjalan menuju gedung stasiun TV Ibu Kota. Satpam di pintu masuk mengenali Pak Xu, jadi mereka mudah saja masuk ke dalam gedung kantor stasiun TV.
Sesampainya di dalam, Zain baru bisa bernapas lega dan berkata, “Benar-benar bikin jantung copot!”
Pak Xu hanya mendengus, “Kau ini penakut sekali! Hanya dua preman rendahan, kenapa takut? Ada apa-apa aku yang tanggung.”
Zain melirik Pak Xu, menggelengkan kepala dengan pasrah.
Bukan dua orang itu yang aku takutkan.
Aku takut kalau Bapak terjadi apa-apa!
Sebagai seniman warisan bangsa, kalau Bapak sampai apa-apa, aku akan menyesal seumur hidup! Sudah lebih dari delapan puluh tahun, masih saja seperti anak muda panas darah, berkelahi di jalan.
Kapan-kapan aku harus minta Nian Nian menasihati Bapak!
Zain hanya mendengus, tak berkata lebih.
Pak Xu lalu mengeluarkan ponsel, menelepon Sutradara Ma.
Saat itu, Zain melihat sekelompok petugas kota menyerbu masuk ke gerbang stasiun TV, hendak mengejar mereka.
Zain melirik Pak Xu yang masih menelepon, lalu berkata, “Pak Xu, Bapak cari tempat istirahat dulu, saya mau keluar sebentar ambil udara.”
Pak Xu yang masih sibuk menelepon tidak begitu memperhatikan, hanya mengangguk.
Zain langsung keluar. Petugas kota yang dicegat di pintu, begitu melihat Zain, berteriak, “Itu dia orangnya!”
Zain menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, “Kalian maunya apa, sih?” Sambil berbicara, Zain mendekati pintu gerbang.
Satpam yang tidak mengenal Zain, tapi tahu ia datang bersama Pak Xu, segera berkata, “Bro, lebih baik tetap di dalam, mereka tidak berani masuk. Saya sudah lapor polisi, sebentar lagi polisi datang.”
Zain mengangguk, tapi tidak masuk kembali. Ia tetap berdiri di pintu, menunggu polisi datang.
Beberapa petugas kota yang menghadang di gerbang malah berteriak dengan sombong, “Kamu sudah memukul pegawai negeri, siap-siap masuk penjara!”
“Berani-beraninya kau sembunyi di dalam! Kalau berani keluar, langsung kuhabisi kau!”
“Nanti polisi datang, lihat saja siapa yang menangis!”
“Pamanku itu wakil kepala pos polisi wilayah sini, nanti di kantor polisi, lihat saja bagaimana nasibmu!”
Zain hanya tertawa dingin, “Kalian pegawai negeri? Mana ada pegawai negeri yang langsung merampas uang begitu? Mana surat tugas kalian? Mana kartu identitas kerja kalian? Baru datang sudah minta uang, kalian bedanya apa dengan perampok?”
Ucapan Zain makin membuat para petugas kota itu marah.
“Coba ulangi lagi kalau berani!”
“Sekarang juga kuhabisi kau!”
“Akan kutunjukkan padamu apa itu perampok!”
“Nanti di kantor polisi, lihat saja apakah kau masih berani sombong!”
Saat keduanya saling maki dari kejauhan, sebuah mobil sedan berhenti di depan gerbang. Beberapa satpam stasiun TV menahan petugas kota sambil membuka pintu gerbang otomatis untuk mobil itu.
Namun, para petugas kota yang sudah emosi, malah nekat menerobos masuk sehingga suasana langsung kacau.
Zain yang gesit segera menghindar dari tendangan yang mengarah padanya. Tapi tiba-tiba, sebuah pukulan dari samping langsung mendarat di pipinya.
Dalam sekejap, keadaan jadi kacau balau. Para petugas kota yang masuk ke stasiun TV langsung memukuli siapa saja tanpa ampun.
Dua satpam yang berjaga di pintu pun ikut kena pukul. Mobil yang tadi hendak masuk pun berhenti, tak berani melanjutkan.
Saat Pak Xu yang ditunggu-tunggu Sutradara Ma tiba, ia langsung mengaum garang dan menerjang ke kerumunan.
Sayangnya, kondisi Zain saat itu sangat mengenaskan. Meski gerakannya cepat, tenaganya kurang.
Ia kini sudah ditindih tiga atau empat petugas kota, dihujani pukulan tanpa henti.
Zain melindungi kepalanya dengan satu tangan, tangan lainnya mengeluarkan boneka penjelmaan, “Dasar bajingan, mampus kalian semua! Penjelmaan, Bruce Lee!”
“Waaaattaaaa!”
[Lanjutannya besok, semua istirahat, selamat malam!]