Bab Enam Puluh Satu — Nasi Goreng Kakak Yun
Setelah harga pembelian "Pahlawan Memanah Rajawali" disepakati, Zhai Nan masih berniat menulis dua bab lagi, namun hatinya tetap saja tak bisa tenang. Meski harga pembelian hanya tiga juta, menurut ingatannya di kehidupan sebelumnya, jumlah itu jelas merugi bila dibandingkan nilai karya tersebut. Namun bagi Zhai Nan, tiga juta adalah angka yang luar biasa besar. Saat negosiasi, ia masih merasa santai, tapi ketika uang sebanyak itu benar-benar jatuh ke tangannya, jantungnya mulai berdebar kencang.
Tiga juta, seumur hidup aku belum pernah melihat uang sebanyak ini!
Bukan cuma di kehidupan ini, di kehidupan sebelumnya pun tidak pernah!
Dengan tiga juta itu, aku bisa makan bebek panggang setiap hari—makan satu, buang satu.
Punya uang, jadi bisa semaunya!
Nanti biar Han Xia juga tahu, aku bukan pria yang cuma bisa bergantung pada wanita!
Tapi... nilai Han Xia sepertinya puluhan kali lipat dari tiga juta.
Terpikir akan hal itu, Zhai Nan pun menghela napas, bergumam lirih, "Tak kusangka meski kini sudah punya harta jutaan, nasibku tetap saja tak luput dari cap bergantung hidup pada wanita!"
Ia kembali menghela napas panjang, lalu duduk lagi di depan komputer, melanjutkan menulis.
Berkat peningkatan kecekatan, kecepatan mengetik Zhai Nan semakin cepat. Sepanjang sore hampir tanpa henti ia menulis, hingga hampir lima puluh ribu kata baru rampung, barulah ia berhenti. Semua bab baru sudah dijadwalkan terbit otomatis, setelah itu ia mematikan komputer.
Melihat jam, ternyata sudah hampir pukul tujuh.
"Gruk... gruk..."
Perutnya berbunyi, Zhai Nan pun menutup perutnya diam-diam. Makanan pesan antar siang tadi sudah lama dicerna. Kini otaknya kosong, perutnya pun kosong.
Dengan langkah gontai, Zhai Nan keluar kamar, langsung menuju kamar Jiang Muyun.
Ia mengetuk pintu dan bertanya, "Kak Yun, di rumah masih ada sisa nasi nggak? Bagi dong dua suap!"
Suara Jiang Muyun terdengar dari dalam, "Bukannya kamu baru dapat rejeki? Masih saja numpang makan di tempatku?"
Zhai Nan menjawab pasrah, "Jangan sebut-sebut uang itu, Kak. Siang tadi pesan antar, sejam lebih baru sampai. Kalau aku nunggu terus, mungkin kita baru bisa ketemu di kehidupan berikutnya."
Baru selesai bicara, pintu kamar Jiang Muyun pun terbuka.
Zhai Nan tanpa sungkan masuk dan duduk di meja makan, lalu merebahkan badannya lemas di atas meja, sambil berkata, "Kak Yun, tolong cepet ya! Aku nunggu makanan penyelamat jiwa nih, biar bisa bangkit lagi."
Jiang Muyun sudah masuk ke dapur, menjawab santai, "Kalau begitu aku tunda sebentar, lihat saja kamu bisa tahan lapar sampai mati atau tidak."
Zhai Nan hanya nyengir, tak berani membalas lagi.
Namun saat ia menunduk di meja, hidungnya mencium aroma khas cairan antiseptik yang biasanya hanya tercium di rumah sakit.
Ia pun bertanya, "Kak Yun, kamu habis dari rumah sakit ya? Kok bau obat banget?"
Jiang Muyun mendengus, "Kenapa? Takut aku sakit dan menulari kamu waktu masak?"
Zhai Nan tertawa, "Aduh, Kak, mana mungkin aku mikir gitu! Aku kan cuma khawatir sama Kakak."
Sambil memecahkan telur, Jiang Muyun berkata, "Nggak usah khawatir, kamu urusin diri sendiri saja sudah cukup."
Zhai Nan terkekeh, "Jangan begitu, Kak. Kalau tiba-tiba Kakak kenapa-kenapa waktu masak, siapa yang mau aku mintai makan gratis lagi?"
Mendengar itu, alis Jiang Muyun langsung naik, ia menatap tajam Zhai Nan, "Mau aku bikin kamu nggak lihat matahari besok pagi?"
Zhai Nan langsung terdiam, buru-buru menutup mulut. Lalu setelah berpikir, ia juga menutupi bagian paling vitalnya.
Jiang Muyun mengayun-ayunkan spatula, "Mau makan, diam aja di situ!"
Zhai Nan cepat-cepat mengangguk.
Barulah Jiang Muyun kembali ke dapur, menyiapkan nasi goreng untuk Zhai Nan.
Zhai Nan menarik napas lega, bergumam pelan, "Lihat dari sikapnya, kayaknya lagi datang bulan, makanya galak banget."
Saat Zhai Nan bicara sendiri, ponselnya tiba-tiba berdering.
Ternyata yang menelepon adalah Zhang Janggut.
Zhai Nan langsung mengangkat, dan terdengar suara Zhang Janggut, "Bro, lagi sibuk nggak?"
Zhai Nan menjawab, "Nggak, ada apa, bilang aja."
Zhang Janggut sempat ragu, tak seperti biasanya yang selalu to the point.
Zhai Nan bertanya lagi, "Bang Zhang, kenapa? Ada masalah?"
Zhang Janggut menghela napas, "Bro, aku benar-benar nggak ada pilihan. Hari ini baru saja deal kerja sama dengan satu kru film, besok harus ke Sichuan dan masuk gunung buat survei lokasi. Nian Nian ikut, aku juga nggak tenang. Jadi..."
Mendengar penjelasan itu, Zhai Nan langsung paham, "Bang Zhang, tenang aja, aku jagain Nian Nian. Sekarang di mana? Aku langsung ke sana buat jemput."
Zhang Janggut berkali-kali mengucap terima kasih, lalu memberi tahu Zhai Nan untuk menunggunya di warung sate bakar tempat mereka nongkrong tadi malam.
Zhai Nan menyanggupi, menutup telepon, lalu berdiri dan berkata, "Kak Yun, nasi gorengnya simpan dulu buat aku, aku mau jemput cewek cantik dulu." Selesai bicara, ia langsung lari keluar.
Jiang Muyun yang baru selesai memasak nasi goreng, melihat Zhai Nan kabur begitu saja, langsung gemas, bertolak pinggang dan memaki, "Dasar anak kurang ajar, berani-beraninya ngerjain aku!"
Zhai Nan hanya bisa berteriak dari kejauhan, "Ada urusan penting, nanti aku balik lagi!"
Jiang Muyun maki-maki lagi dua kali, lalu membawakan nasi goreng ke kamar Zhai Nan.
Setelah itu, ia teringat ucapan Zhai Nan tadi, "Anak ini katanya mau jemput cewek cantik. Masa iya dia juga bisa dapat pacar? Sudahlah, sebagai kakak, aku juga nggak mau bikin malu keluarga." Sambil bicara sendiri, ia kembali ke dapur, melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu, Zhai Nan keluar dan langsung naik taksi ke Kota Film.
Setibanya di warung sate bakar semalam, ia melihat Zhang Janggut membawa ransel pink di punggungnya, tampak lucu dengan kontras penampilannya.
Nian Nian sedang jongkok di pinggir jalan, memainkan tusuk sate, mengganggu kawanan semut di tanah.
Zhai Nan segera menghampiri mereka dan bertanya pada Zhang Janggut, "Bang Zhang, ikut kru mana lagi kali ini? Kok buru-buru banget?"
Zhang Janggut menjawab dengan raut malu dan pasrah, "Mau bagaimana lagi, tadinya kan ikut kru Han Xia. Tapi kemarin Bai Hongfei cedera waktu syuting film lain, katanya lumayan parah. Jadi kru itu sekarang berhenti syuting. Mumpung ada waktu, aku ikut kru lain, eh, ternyata langsung disuruh ke Sichuan. Aku benar-benar nggak ada jalan lain, makanya minta tolong sama kamu."
Mendengar itu, Zhai Nan merasa sedikit bersalah.
Kalau saja ia tidak mengirimkan awan sial pada Bai Hongfei, mungkin nasibnya tidak akan separah itu.
Ujung-ujungnya, ia juga ikut bertanggung jawab.
Zhai Nan pun berkata, "Bang Zhang, jangan sungkan, aku sama Nian Nian sudah akrab banget, kok." Lalu ia menunduk menatap Nian Nian, "Nian Nian, bener kan? Sini, panggil aku Kakak."
Nian Nian membuang tusuk sate di tangannya, memutar bola mata ke atas, "Udah segede gitu, masih aja sok imut!"