Bab Tujuh Puluh Tujuh — Pertemuan Tak Terduga dengan Palet Warna
Setelah mengetahui bahwa Wang Yong masih saja menaruh niat buruk pada Han Xia, malam itu Zhai Nan pun tidak bisa tidur nyenyak. Meski dia dan Han Xia menikah hanya pura-pura, dan mereka sudah pernah bicara secara terbuka bahwa masing-masing boleh bersama orang yang mereka sukai, namun saat kenyataannya hendak terjadi, Zhai Nan baru sadar bahwa dirinya ternyata tidak bisa menerima itu.
Walaupun Han Xia sama sekali tidak tertarik pada Wang Yong, kehadiran Wang Yong yang seperti lalat menjijikkan dan terus-menerus mengganggu Han Xia, benar-benar membuat Zhai Nan muak. Meski pernikahan mereka hanya sandiwara, mengetahui ada orang yang berniat buruk pada istri sahnya, tetap saja menimbulkan dorongan liar dalam dirinya untuk menebas pelakunya.
Setelah semalaman gelisah, Zhai Nan akhirnya tertidur dalam keadaan setengah sadar. Keesokan paginya, setelah menyantap sarapan yang ditinggalkan Jiang Muyun, Zhai Nan mulai menulis "Pendekar Pemanah Rajawali". Dalam waktu satu setengah jam, ia hanya sanggup menulis sedikit lebih dari sepuluh ribu kata. Meski kecepatannya sudah lebih baik dibanding sebelumnya, kenyataannya pikirannya tetap saja melayang-layang, sehingga mempengaruhi kecepatan mengetiknya. Tanpa sadar, ia terus saja terpikir wajah menjijikkan Wang Yong.
Usai mengatur jadwal unggahan sepuluh ribu kata itu, Zhai Nan melirik jam, baru menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh. Masih hampir dua jam lagi sebelum waktu janjian dengan Han Xia. Namun ia sudah tak tahan duduk diam. Setelah mondar-mandir di dalam kamar, akhirnya ia memutuskan naik taksi dan menunggu Han Xia di Rumah Sakit Xiehe.
Begitu tiba di rumah sakit, Zhai Nan baru sadar, ia sama sekali tidak tahu di ruang mana si brengsek Wang Yong dirawat. Telepon Han Xia? Tidak mungkin, nanti kesannya aku terlalu perhatian. Tanya pada Yang Meiqi? Anak itu pasti tahu, tapi tidak bisa juga, mereka sekarang sudah satu ranjang, pasti aku langsung dikadukan.
Saat Zhai Nan sibuk berkeliling tanpa tujuan di rumah sakit, tiba-tiba matanya menangkap sosok yang dikenalnya. Sebenarnya tidak terlalu akrab, bahkan pernah bersitegang, karena orang itu adalah mantan pacar Han Feng, pamannya yang sering dipanggil Palet Warna Lulu.
Lulu tetap saja tampil menor, berdandan tebal dengan pakaian terbuka. Di sisinya ada seorang pria tua gemuk dengan kepala yang mulai botak. Melihat gelagatnya, setelah ditinggal Han Feng, ia kini telah menggandeng seorang juragan kaya kampungan.
Entah kenapa, Zhai Nan pun mengikuti mereka dari belakang. Lulu tampak seolah tubuhnya tak bertulang, setengah bersandar di bahu si juragan. Pria tua itu walau baru melangkah dua langkah saja sudah berkeringat dingin, tetap saja membiarkan Lulu menempel padanya. Melihat keringat di dahi pria itu, Lulu pun segera mengaduk-aduk tas bermereknya dan mengeluarkan tisu untuk mengelap keringat sang juragan.
Namun saat Lulu mengeluarkan tisu, secarik kertas jatuh ke lantai. Zhai Nan pun spontan berkata, “Nona cantik di depan, ada barangmu yang jatuh!”
Lulu dan juragan itu langsung berhenti, menoleh ke arah Zhai Nan. Ia memungut kertas itu, melirik sekilas, ternyata kartu nama seorang dokter bedah plastik. Zhai Nan tersenyum tipis, menyerahkan kartu nama itu kepada Lulu sambil berkata, “Barangmu jatuh.”
Lulu dan juragan pun mendekat. Begitu melihat kartu nama dokter bedah plastik, wajah Lulu langsung berubah masam, “Itu bukan punya saya!”
Juragan itu ikut melihat tulisan di kartu, lalu tertawa, “Mas, kamu salah lihat. Lulu ini asli alami, tahu!”
Mendengar itu, Zhai Nan hanya bisa mencibir dalam hati. Ah, dagu hasil operasi saja bisa disangka asli, dasar buta cinta!
Belum sempat Zhai Nan bicara, Lulu tiba-tiba mendengus dingin, “Oh, ternyata kamu! Baru nikah sebentar, sudah nganter Han Xia periksa kehamilan? Dari dulu aku sudah bilang, Han Xia mana mungkin suka kamu. Paling-paling kamu cuma jadi ayah sambung!”
Mendengar itu, emosi Zhai Nan langsung terpancing. Masalah Wang Yong saja belum beres, kini si Palet Warna malah menambah bara. Tanpa pikir panjang, Zhai Nan mengeluarkan Awan Sial dan menepuk pundak Lulu sambil berkata, “Jaga mulutmu! Hati-hati kena batunya!”
Lulu yang pundaknya ditepuk, terkejut dan menjerit, mengira Zhai Nan hendak memukulnya, langsung bersembunyi di belakang si juragan. Pria tua itu pun kaget, lalu membentak, “Kamu cari mati, berani-beraninya ganggu perempuan saya!” Sambil bicara, ia mengulurkan tangan hendak mendorong Zhai Nan.
Namun Zhai Nan yang punya kelincahan luar biasa, menghindar dengan mudah. Tangan si juragan meleset, tubuhnya pun limbung hampir jatuh ke depan. Lulu cemas berseru, “Lao Wang, kamu tidak apa-apa?”
Zhai Nan pun mengernyit, “Kenapa lagi-lagi namanya Wang?”
Si juragan akhirnya berhasil menstabilkan diri, menunjuk Zhai Nan, “Jangan kabur kalau berani, saya telepon orang-orang saya!”
Zhai Nan mencibir, “Bodoh, aku mana sebodoh itu. Kamu mau panggil anak buah, ya aku pergi!” Ia pun segera berbalik hendak pergi.
Namun si juragan kembali hendak menangkapnya, tapi Lulu menahan, “Lao Wang, sudahlah, jangan pedulikan bocah kampungan itu.”
Melihat Zhai Nan pergi, justru si juragan makin berani, langsung mengibaskan lengan dan berkata, “Minggir, aku tidak akan biarkan dia… Eh, Lulu, kau kenapa?!”
Gerakan mengibaskan lengan itu tadinya tanpa sengaja, tapi karena efek Awan Sial, sikunya malah menghantam wajah Lulu. Wajah hasil operasi plastik itu tentu saja tak kuat menerima benturan, hidungnya langsung bengkok dan darah pun mengalir deras, mukanya kini tampak seperti lukisan abstrak.
Walau Lulu terus menutupi hidung, si juragan tak melihat jelas, hanya melihat darah yang mengalir saja sudah membuatnya panik. Untungnya mereka sedang di rumah sakit, keduanya pun segera mencari dokter.
Dari kejauhan, Zhai Nan menyaksikan pasangan itu pergi dengan penuh kepanikan, mengerutkan dahi, “Awan Sial ini palsu ya, kok cuma bikin hidung patah doang.”
Belum selesai ia berpikir, dia melihat dari kejauhan Lulu yang mengenakan sepatu hak super tinggi tiba-tiba terpeleset lalu jatuh ke tanah. Sialnya lagi, ia jatuh tepat di jalur khusus tunanetra yang bergelombang, lututnya langsung terluka parah.
Si juragan pun makin panik, berteriak, “Ambulans! Tolong! Ada yang cedera!”
Kebetulan seorang petugas kebersihan lewat, melihat Lulu terluka langsung membantu. Berniat mengangkat Lulu berdiri, tapi hak sepatu Lulu kembali patah dan ia jatuh berlutut sekali lagi. Kini kedua lututnya berdarah deras, tampak simetris.
Petugas itu tanpa banyak bicara segera menggendong Lulu hendak membawanya ke ruang gawat darurat. Namun baru selangkah, ia tersandung hak sepatu Lulu yang patah, dan Lulu pun terlempar ke depan. Sialnya lagi, jalan di depan menurun, tubuh Lulu menggelinding enam tujuh meter, lalu menabrak tong sampah. Wajahnya pun berubah bengkak dan rusak, benar-benar malang.
Si juragan melihat wajah Lulu yang sudah bengkak dan cacat, menengok ke kiri dan kanan, lalu diam-diam kabur meninggalkannya. Kasihan si petugas kebersihan, tetap setia menolong, menggendong Lulu yang malang itu ke ruang darurat rumah sakit.