Bab Enam Puluh Tiga — Kau memang nenek cabul!
Jiang Muyun melirik sebentar ke arah Zhai Nan, lalu bertanya lagi, “Tidak terlalu akrab maksudnya apa? Bagaimana kau datang bersamanya?”
Nian Nian hendak bicara, tapi Zhai Nan buru-buru menyela, “Kak Yun, jangan dengarkan omong kosongnya. Begini ceritanya, ayahnya harus pergi kerja ke luar kota, jadi dia sementara tinggal di tempatku. Nanti kalau ayahnya pulang, aku akan antarkan dia kembali.”
Zhai Nan berkata begitu panjang lebar sampai kehabisan napas.
Namun Jiang Muyun malah melotot padanya, “Siapa yang tanya sama kau!” Setelah itu, ia menoleh ke Nian Nian, “Adik kecil, benarkah kata dia?”
Nian Nian mengangguk pelan, “Kurang lebih begitu. Tapi ayahku menitipkan aku supaya dia menjagaku baik-baik, tapi dia malah tidak mau memberiku makan.”
Jiang Muyun langsung melirik tajam ke Zhai Nan, bertanya, “Tidak kau beri makan?”
Zhai Nan hampir menangis, “Dia juga tidak mau memberiku lauk.”
Nian Nian cepat menimpali, “Di mobil tadi kau bilang nasi goreng telur itu makan malam milikmu, aku tidak boleh rebutan. Sekarang aku tidak rebutan lagi, malah kau yang rebutan denganku.”
Mendengar itu, Jiang Muyun akhirnya mulai memahami duduk persoalannya. Sepertinya memang benar kata Zhai Nan, anak ini hanya menumpang beberapa hari saja.
Tapi anak ini memang cerdik sekali, sampai-sampai dia dan Zhai Nan dibuat pusing sendiri.
Jiang Muyun memperhatikan Nian Nian, lalu bertanya, “Adik kecil, ibumu di mana?”
Mendengar pertanyaan ini, Zhai Nan langsung berdeham pelan, lalu berkata kepada Nian Nian, “Nian Nian, teleponlah ayahmu, beri kabar bahwa kau baik-baik saja.”
Anehnya, Nian Nian kali ini tidak membantah, malah menurut, mengambil ponsel dan berjalan agak jauh untuk menghubungi Ayahnya.
Jiang Muyun merasa ada sesuatu yang ganjil, lalu berbisik pada Zhai Nan, “Ada apa sebenarnya?”
Zhai Nan juga membalas pelan, “Ibunya sudah lama meninggal, sekarang hanya tinggal dengan ayahnya. Tapi jangan anggap dia anak kecil biasa, dia itu sangat pintar.”
Jiang Muyun mengangguk, “Kelihatan memang. Oh ya, siapa nama anak ini?”
Zhai Nan menjawab, “Zhang Nian, kau panggil saja Nian Nian.”
Saat itu, Nian Nian sedang menelepon dengan ayahnya, “Iya, makanan yang dibuat tante itu untuk Zhai Nan.”
“Tante itu cantik juga, agak sayang kalau bersama Zhai Nan. Tapi kalau mereka suka, aku juga malas ikut campur.”
“Baik, aku tahu, aku akan bantu bicara yang baik-baik tentang Zhai Nan.”
“Ya, tenang saja, selamat malam.”
Setelah selesai bicara, Nian Nian pun kembali.
Sementara itu, Zhai Nan dan Jiang Muyun yang mendengar ucapan Nian Nian pun wajahnya memerah bergantian.
Jiang Muyun berdeham canggung, lalu bertanya pada Nian Nian, “Nian Nian, kamu salah paham soal hubungan aku dan Zhai Nan. Kami tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Nian Nian mengambil sepotong jamur, lalu berkata pelan, “Aku tahu.”
Mendengar jawaban itu, Zhai Nan dan Jiang Muyun sama-sama lega tanpa alasan yang jelas.
Namun setelah menelan jamurnya, Nian Nian melanjutkan, “Tapi Zhai Nan sebenarnya cukup baik juga. Walaupun wajahnya jelek, agak jorok, bodoh, miskin, dan suka marah-marah, selebihnya sih baik.”
Zhai Nan tak tahu harus tertawa atau menangis, “Jadi itu pujian untukku?”
Nian Nian dengan serius menjawab, “Aku sudah berusaha.”
Jiang Muyun menutup mulut, menahan tawa, semakin merasa sayang pada Nian Nian. Melihat gadis kecil secantik boneka porselen ini memang membuat hati hangat, apalagi setelah tahu latar belakangnya, naluri keibuannya langsung muncul.
Jiang Muyun melihat Nian Nian kesulitan memakai sumpit, langsung mengangkatnya dan berkata, “Ayo, biar tante suapi. Mau makan apa, bilang saja.”
Nian Nian pun tidak malu-malu, membiarkan Jiang Muyun memangkunya, bahkan dengan riang memerintah agar ditambah lauk ini dan itu.
Zhai Nan melihat pemandangan itu dengan perasaaan iri dan cemburu campur aduk.
Setelah Nian Nian kenyang, Jiang Muyun dengan telaten mengelap mulutnya. Lalu berkata, “Nian Nian, nanti tidur di kamar tante, ya?”
Nian Nian menoleh ke Zhai Nan, lalu melirik ke tempat tidur Zhai Nan yang tidak pernah dirapikan, dan mengangguk, “Baik!”
Zhai Nan memasang wajah masam, “Cepat sekali kau berkhianat. Tidak punya pendirian sama sekali.”
Sebelum Nian Nian sempat membalas, Jiang Muyun sudah menepuk Zhai Nan, “Sudah, jangan cerewet. Lihat kamar kau itu, memang pantas dihuni?”
Zhai Nan cemberut, “Aku bukan manusia, ya?”
Jiang Muyun langsung menjawab, “Kau itu setengah manusia setengah hantu, dirimu sendiri saja tak terurus, apalagi mau urus anak orang. Aku saja tidak tenang, mulai sekarang Nian Nian tinggal bersamaku.”
Nian Nian tertawa pelan, memeluk Jiang Muyun sambil terus-menerus bertingkah manis.
Zhai Nan melihat Nian Nian menempel di dada Jiang Muyun, merasa sebal—atau mungkin malah ingin lebih lama melihat pemandangan itu.
Saat itu, Jiang Muyun menggendong Nian Nian, berkata, “Ayo, ke kamar tante, kita mandi dulu, lalu tidur bersama.”
Zhai Nan hanya bisa menatap dengan penuh iri, dalam hati mengeluh, “Aku juga ingin ikut!”
Setelah melihat keduanya pergi, Zhai Nan melampiaskan rasa kecewa dan iri hatinya dengan makan, melahap semua sisa makanan di atas meja.
Setelah itu, ia menyikat gigi seadanya, lalu menanggalkan pakaian dan bersiap untuk tidur.
Namun baru saja ia berbaring dan belum sempat mematikan lampu, pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Jiang Muyun berdiri di ambang pintu, tampak terkejut.
Zhai Nan juga terperanjat, buru-buru menarik selimut menutupi tubuhnya, panik bertanya, “Kau mau apa?”
Jiang Muyun tersenyum geli melihat Zhai Nan yang tegang, “Malu kenapa, bukannya sudah pernah lihat.”
Zhai Nan meringis, “Ada urusan, bilang saja. Kalau tidak, jangan goda aku.”
Jiang Muyun mendengus, “Aku hanya ingin tanya, Nian Nian sekolah di mana? Tadi aku tanya, dia tidak mau jawab, katanya dia belum pernah sekolah.”
Zhai Nan mengangguk, “Dia tidak bohong, memang belum pernah sekolah TK, selalu ikut ayahnya mondar-mandir di lokasi syuting.”
Jiang Muyun berkerut kening, “Ini keterlaluan. Besok aku antar dia ke TK di ujung gang.”
Zhai Nan sedikit terkejut, lalu berkata, “Boleh saja kau kirim dia ke TK, tapi kalau terjadi apa-apa, kau harus tanggung jawab.”
Jiang Muyun mendengus, “Tenang saja. Kalau ada yang berani ganggu Nian Nian, aku... aku tidak akan memukul anak-anak, tapi aku akan hajar orang tuanya.”
Zhai Nan tersenyum, “Semoga kau beruntung. Aku sudah peringatkan, lho.”
Jiang Muyun tidak berpikir panjang lagi, menutup pintu dan pergi.
Melihat Jiang Muyun pergi, Zhai Nan segera turun dari ranjang, hendak mengunci pintu agar Jiang Muyun tidak masuk lagi.
Namun belum sempat ia melangkah beberapa langkah, pintu tiba-tiba terbuka lagi.
Jiang Muyun kembali muncul di pintu, melihat Zhai Nan yang hanya mengenakan celana dalam, juga tertegun.
Zhai Nan makin panik, buru-buru menutupi bagian vital, hampir berteriak, “Apa lagi sih?!”
Jiang Muyun dengan santai menjawab, “Bukankah ini bukan pertama kalinya, kenapa kau panik? Aku cuma mau ambil baju ganti Nian Nian.” Selesai bicara, ia masuk tanpa ragu, langsung mengambil tas punggung Nian Nian yang berwarna merah muda.
Zhai Nan berdiri di situ dengan sangat canggung, mau kembali ke ranjang tidak bisa, berdiri juga salah, hanya bisa mendesak, “Kalau masih ada urusan, sekalian saja, jangan bolak-balik begini.”
Jiang Muyun mengangkat tas punggung, melambaikan tangan, “Sudah, sudah, kau cepat tidur saja. Malam-malam begini jangan keluyuran.” Setelah berkata demikian, ia menutup pintu dan pergi.
Di dalam kamar, Zhai Nan berteriak putus asa, “Tante genit tua!”