Bab 37 [Kisah Sampingan] Kencan
Halaman 1 dari 3
Jiang Sui terbangun dan mendapati lingkungan di sekelilingnya sama sekali asing.
Di lautan, angin mengamuk dan hujan turun deras. Gelombang menjulang ke langit, sementara kilat seolah hendak merobek cakrawala, menerangi sepotong dunia hanya sesaat.
Walaupun tempat itu juga berupa pantai, Jiang Sui langsung tahu bahwa ini bukan Irataye.
Ares memeluknya, menempelkan pipinya ke pipi Jiang Sui, lalu bertanya dengan suara lirih, “Kamu... baik-baik?”
“Tidak apa-apa.” Jiang Sui bangkit duduk. “Ini di mana?”
Ares menjawab terbata-bata, “Kapal... terbalik. Aku... membawamu ke sini.”
Sekitar tiga hari sebelumnya, sebuah tim penelitian datang ke Irataye. Setelah mengetahui bahwa Jiang Sui adalah pakar biologi kelautan, mereka membayarnya dengan mahal untuk ikut mengamati proses migrasi hiu banteng. Setiap musim panas, hiu ganas itu bermigrasi ke utara menyusuri pesisir Amerika Serikat, berenang hingga bagian utara Massachusetts, lalu kembali ke wilayah beriklim tropis ketika perairan pesisir mulai mendingin.
Bayaran dari tim penelitian cukup besar. Kebetulan Ares juga sudah terlalu bosan memunguti sampah di tepi pantai, jadi Jiang Sui menyetujuinya. Ia bisa sekalian mengajak Ares bermain di laut, sekaligus membimbing tesis para mahasiswa pascasarjana itu.
Namun, mereka sedang tidak beruntung. Sebuah badai laut kecil menerjang dan membalikkan kapal. Ares pun membawa Jiang Sui mencari tempat berlindung terdekat.
Jiang Sui berdiri dan melirik kota kecil yang tidak jauh dari sana.
Di tengah angin dingin dan hujan deras, cahaya lampu jingga tampak sangat hangat. Di kota itu seharusnya ada penginapan tempat mereka bisa mandi dan bermalam. Jiang Sui baru hendak mengambil ponselnya ketika menyadari bahwa benda itu tidak ada padanya.
Mungkin tertinggal di kapal, mungkin juga jatuh ke laut. Bagaimanapun, saat ini mereka sama-sama tidak punya uang sepeser pun.
Jiang Sui terdiam.
Ia tak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti dirinya akan dibuat pusing oleh masalah uang. Untuk pertama kalinya, ia bahkan menyalahkan diri sendiri karena tidak mengenakan perhiasan apa pun—setidaknya benda itu bisa dijual untuk mendapatkan uang.
Tunggu.
Jiang Sui menoleh kepada Ares dan berkata, “Menangislah.”
Ares menatapnya bingung.
Jiang Sui menekannya ke pasir, lalu duduk di atas pinggangnya. “Air matamu bukankah bisa berubah menjadi mutiara? Coba menangis sekali, biar kulihat.”
Air mata yang berubah menjadi mutiara merupakan legenda tentang manusia duyung. Belum ada data penelitian yang dapat membuktikan bahwa manusia duyung dari Timur dan putri duyung dari Barat adalah makhluk yang sama, tetapi mungkin ada beberapa sifat yang berlaku umum. Misalnya, menjatuhkan mutiara-mutiara kecil saat menangis.
“Aku... tidak bisa menangis.” Ares tampak kebingungan. “Kenapa... harus menangis?”
“Untuk ditukar dengan uang.” Jiang Sui menjawab singkat. “Aku tidak punya uang.”
Jika ia bermalam di tengah badai seperti ini, besok kemungkinan besar ia akan langsung dibawa pergi oleh petugas medis darurat.
Ares selalu bersedia memenuhi permintaan apa pun dari Jiang Sui. Karena itu, ia berusaha keras, tetapi kemudian menyadari bahwa dirinya benar-benar tidak bisa menangis.
Jiang Sui bertanya, “Kapan terakhir kali kau menangis?”
Ares mengingat-ingat dengan saksama. Setelah beberapa lama, ia menjawab, “Tidak ingat. Mungkin... saat menetas dari cangkang?”
Jiang Sui terdiam.
“Pikirkan sesuatu yang menyedihkan.” Jiang Sui berpikir sejenak. “Atau bayangkan sesuatu yang tidak sanggup kau terima.”
Ares langsung memeluk Jiang Sui erat-erat dan berkata dengan suara serak, “Kau... jangan meninggalkanku.”
Jiang Sui terdiam sesaat.
Halaman 2 dari 3
Bagi Ares, hal yang tidak sanggup diterimanya adalah kepergian Jiang Sui?
Namun, pada akhirnya Jiang Sui tetap akan pergi.
Jiang Sui menepuk kepala Ares. “Kalau tidak bisa menangis...”
Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Ares sudah menciumnya.
Ciuman itu dipenuhi hasrat yang mendesak, seolah-olah Ares ingin memastikan bahwa Jiang Sui masih berada di sini, masih berada di sisinya.
Jiang Sui merasakan sesuatu menghantam wajahnya. Ia mengangkat tangan dan menyentuh benda itu. Bulat, licin, dan keras.
Dengan susah payah ia mendorong Ares menjauh. Dalam cahaya kilat, ia akhirnya melihat benda di tangannya. Itu adalah sebuah mutiara.
Warnanya putih dengan kilau biru dingin, dan lapisan mutiaranya sangat indah.
“...Ternyata benar-benar bisa menangis menjadi mutiara.” Jiang Sui memegang wajah Ares, membuka kelopak matanya, lalu mengamati struktur matanya dengan saksama. Selain menyimpulkan bahwa mata Ares jauh lebih indah daripada mata manusia biasa, ia tidak menemukan apa pun.
Jiang Sui memang tidak terlalu memahami harga pasar mutiara, tetapi mutiara ini bulat sempurna, tanpa cacat, dan kilaunya begitu terang. Seharusnya bisa dijual dengan harga yang cukup bagus.
Jiang Sui memasukkan mutiara itu ke dalam saku, lalu menepuk pipi Ares. “Masih bisa menangis?”
Ares menatapnya dengan sedih.
Jiang Sui berkata, “...Aku hanya memintamu mengeluarkan dua tetes air mata. Kenapa menatapku seperti itu? Kalau tidak bisa menangis, sudahlah.”
“Aku akan pergi ke kota. Ikuti aku diam-diam, jangan sampai terlihat orang.” Jiang Sui mengenakan topinya untuk menutupi wajahnya yang pucat, lalu berpesan, “Kalau ada yang melihatmu, larilah. Jangan pedulikan aku. Aku akan mencarimu di pantai.”
Ares mengangguk.
Jiang Sui pun berjalan tertatih-tatih menuju kota kecil itu. Karena letaknya di tepi laut, banyak penduduk mencari nafkah dari laut. Mutiara milik Jiang Sui pun mudah dijual. Ia memasang harga yang sangat rendah, sehingga pembeli mutiara itu mendapat keuntungan besar. Sebagai imbalannya, orang tersebut dengan ramah menunjukkan lokasi satu-satunya penginapan di kota itu.
Dengan uang hasil penjualan mutiara, Jiang Sui menyewa sebuah kamar di penginapan. Ia juga meminta petugas meja depan membelikan beberapa barang untuknya, barulah kemudian naik ke lantai atas.
Ares sudah memanjat melalui pipa pembuangan dan menempel di balik kaca jendela, memandanginya.
Sejujurnya, pemandangan itu cukup mengerikan. Namun Jiang Sui sudah terbiasa. Ia berjalan mendekat, membuka jendela, dan membiarkan Ares masuk.
“Pergi mandi. Tubuhmu penuh pasir.”
Ares sangat menyukai mandi.
Sebab Jiang Sui akan membantunya mandi. Jika suasana hati Jiang Sui sedang baik, Ares bahkan bisa melakukan hal-hal lain kepadanya di kamar mandi.
Jiang Sui sama sekali tidak tahu bahwa di saat seperti ini kepala makhluk itu masih dipenuhi pikiran-pikiran cabul. Ia berendam dalam air hangat, merasakan keempat anggota tubuhnya yang kaku dan dingin perlahan-lahan menghangat kembali, lalu mengembuskan napas lega.
Namun tepat pada saat itu, tubuh yang dingin dan keras menempel dari belakang. Jiang Sui kembali menggigil karena kedinginan dan berkata dengan kesal, “Bukankah kau selalu menganggap suhu air mandiku terlalu panas? Keluar.”
Ares tentu saja tidak mau keluar. Sambil memeluk Jiang Sui dari belakang, ia mulai mencium dan mematuki bahu pria itu.
Garis bahu dan leher Jiang Sui sangat indah—halus, melengkung, dan mulus. Kulitnya yang seputih salju telah memerah samar akibat uap panas. Ares membenamkan hidungnya yang tinggi ke lekuk leher Jiang Sui, menghirup aroma lembut yang memancar dari tubuhnya.
Naluri binatang dan nafsu makan kadang tidak dapat dibedakan dengan jelas. Bagaimanapun, bagi mereka, berkembang biak dan bertahan hidup sama-sama penting. Sambil terus mengendus, Ares mulai mengisap dan menggigit ringan, meninggalkan bekas gigitan samar serta noda kemerahan di kulit yang bersih seperti batu giok.
Awalnya Jiang Sui membiarkannya. Namun, ketika tangan Ares menyusup ke dalam air, Jiang Sui sontak menjerit, “Angkat tanganmu!”
Ares bukan hanya tidak menarik tangannya, ia bahkan mendorong pinggangnya ke tubuh Jiang Sui dengan cabul. Keberadaannya terasa terlalu kuat untuk diabaikan. Jiang Sui menoleh dan menjewer sirip telinga Ares.
“Aku tidak akan melakukannya denganmu di dalam bak mandi... Ah!”
Ares tentu saja memiliki akal liciknya sendiri.
Misalnya, jika Doktor melarangnya melakukan sesuatu, ia hanya perlu mencegah Doktor menyelesaikan kalimatnya. Dengan begitu, larangan tersebut tidak dapat dianggap sah.
Halaman 3 dari 3
Di kamar mandi yang dipenuhi uap panas, pemuda bertubuh ramping itu ditekan oleh manusia duyung di tepi bak mandi. Pinggangnya yang kurus namun lentur melengkung ke luar, seolah-olah akan patah, tetapi dicengkeram erat oleh telapak berselaput milik manusia duyung itu sehingga ia tidak dapat melarikan diri. Ia hanya bisa mendongakkan kepala dan menerima ciuman Ares, seperti angsa yang merentangkan lehernya menanti ajal.
Ares merasa bahwa karena Doktor tidak menamparnya dua kali, itu sendiri merupakan bentuk pemanjaan. Mungkin ia boleh bertindak sedikit lebih jauh.
Namun, tepat ketika ia hendak bergerak, bel pintu tiba-tiba berbunyi. Jiang Sui tersadar dan terengah-engah sambil bertumpu di atas meja.
“Barang yang kubeli lewat petugas meja depan sudah datang. Pergi ambil.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Jangan biarkan orang melihat ekormu.”
Kalau tidak, pekerja penginapan itu bisa-bisa mati ketakutan.
Dengan enggan, Ares merangkak keluar dari bak mandi. Ketika membuka pintu, wajahnya dipenuhi kejengkelan. Aura mengancamnya barangkali sebanding dengan keganasan seorang pembunuh berantai yang baru saja membantai seluruh keluarga korbannya.
Pekerja penginapan itu sampai menggigil dan berkata terbata-bata, “Tuan, s-selamat malam! Barang yang Anda pesan sudah datang. Apakah... apakah perlu saya bantu merakitnya?”
“Tidak.” Ares menolak dengan dingin. “Kau... boleh pergi.”
Pekerja itu meninggalkan barang-barangnya dan kabur seolah-olah dikejar setan. Begitu mengeluarkan ponsel, ia langsung mengirim pesan kepada temannya, menceritakan bahwa hari ini ia bertemu pria yang sangat tampan, tetapi perangainya juga sangat buruk.
Ares menyeret barang-barang itu masuk ke kamar. Isinya setumpuk pakaian, beberapa obat, dan sebuah benda yang tidak dikenalnya.
Jiang Sui sudah selesai mengeringkan tubuh. Dengan handuk mandi terlilit di tubuhnya, ia mengaduk-aduk pakaian baru dan mengambil dua potong yang bisa dipakai sebagai baju tidur seadanya. Ares menatapnya lekat-lekat saat ia berganti pakaian. Semakin lama melihat, semakin ingin menyentuhnya, tetapi tangan itu langsung ditepis Jiang Sui.
Setelah berganti pakaian, meminum obat flu, dan mengeringkan rambut, Jiang Sui merasa sedikit lebih baik. Ia kemudian menyuruh Ares membuka bungkus barang-barang itu. Kuku Ares jauh lebih tajam daripada pisau; hanya dalam beberapa gerakan, bungkusnya sudah terbuka. Jiang Sui mengikuti petunjuk perakitan, dan setengah jam kemudian, sebuah kursi roda sederhana pun selesai dirakit.
“Duduklah di atasnya,” kata Jiang Sui.
Ares menurut. Jiang Sui mendorongnya berkeliling kamar sekali dan merasa hasilnya cukup baik. Ia menaruh kursi roda itu di sudut, lalu duduk di ranjang dan melambaikan jarinya kepada Ares.
Ares segera mendekat. Jiang Sui mencengkeram dagunya.
“Masih bisa menangis? Uang dari mutiara tadi sudah habis semua.”
Jika Jiang Sui menyuruhnya membunuh dan merampok, Ares pasti akan melakukannya tanpa banyak bicara. Namun, memintanya mengeluarkan air mata benar-benar terlalu sulit.
Ares mencoba lagi membayangkan Jiang Sui meninggalkannya, tetapi otaknya memiliki mekanisme perlindungan diri. Ia sama sekali tidak mampu melanjutkan bayangan itu. Akhirnya, ia mencoba mengelabui Jiang Sui. Sambil menepuk punggungnya, ia berkata dengan sok tenang, “Kau... tidur. Aku... cari uang.”
Cara makhluk ini mencari uang bisa ditebak hanya dengan jari kaki: entah membunuh atau merampok. Jiang Sui tidak ingin harus pergi ke kantor polisi untuk menjemputnya. Ia pun mencengkeram ekor Ares.
“Jangan bertindak sembarangan.”
Ares berpikir sejenak, lalu menggerakkan ujung ekornya.
“Sisik... berharga.”
Sambil berkata demikian, ia hendak mencabut sisik dari ekornya sendiri. Jiang Sui mengerutkan kening dan menangkap tangannya.
“Kalau botak, kau akan terlihat jelek.”
Mendengar bahwa Jiang Sui menganggapnya jelek, Ares buru-buru menarik tangannya kembali dan berkata gelisah, “Aku... akan mencari cara.”
Jiang Sui sama sekali tidak menaruh harapan pada otak Ares yang sekecil kismis. Ia memegang sirip ekor Ares, lalu tiba-tiba mendapat sebuah gagasan.
Jika kesedihan batin tidak mampu membuat Ares menangis, bagaimana dengan kesedihan fisik?
Memikirkan hal itu, Jiang Sui berbalik dan duduk di atas pinggang Ares, lalu menunduk menatapnya.
“Tanpa perintahku, kau tidak boleh bergerak.”
Ares menatapnya lekat-lekat. “Kenapa...?”
Jari-jari Jiang Sui menyusuri dada bidang Ares seperti memainkan piano. Ia mengangkat alis.
“Kalau sudah kubilang tidak boleh, berarti tidak boleh.”
Otot perut Ares menegang keras. Jiang Sui menekannya; rasanya kokoh dan menyenangkan di telapak tangan. Urat di pelipis Ares menonjol.
“Jangan... sentuh.”
Jiang Sui segera berhenti. Ares merasa seolah-olah baru saja jatuh dari awan ke dasar lembah. Kekosongan dan rasa tidak nyaman justru menjadi semakin kuat. Tenggorokannya mengeluarkan suara geraman rendah.
Jiang Sui mencondongkan tubuh dan mengecup jakun Ares.
“Kalau begitu, tidak akan kusentuh.”
Namun, Ares malah menahan tangannya dan berkata dengan nada merajuk, “Sentuh.”
Jiang Sui menatapnya. “Permintaanmu banyak sekali.”
Ares melilitkan ekornya yang panjang pada pinggang ramping Jiang Sui. Doktor itu hanya mengenakan kaus yang sangat longgar. Dalam posisi membungkuk seperti itu, kulit putihnya yang luas tampak dari kerah baju.
Mata Ares memerah. Ia dengan kasar ingin segera merobek pakaian yang menghalangi itu, tetapi Jiang Sui berkata lirih, “Kalau berani merobeknya, selama seminggu kau tidak boleh menemuiku.”
Kuku-kuku yang tanpa sadar mencuat akibat gejolak emosi yang hebat terpaksa kembali ditarik. Ares menopang pinggang Jiang Sui dan merajuk seperti anak binatang yang tidak mendapatkan belaian.
Namun tubuhnya begitu besar hingga mampu menutupi Jiang Sui sepenuhnya. Karena itu, alih-alih tampak menyedihkan dan menggemaskan, ia justru membuat Jiang Sui merasa seperti mangsa gemuk yang sedang diawasi binatang buas yang sangat kuat.