Bab Seratus Dua Puluh Lima: Kenalan Lama
Rasa getir cinta pertama adalah sesuatu yang tidak akan dilupakan banyak orang seumur hidup. Lu Chen tidak tahu apakah ia akan mengingatnya seumur hidup, tetapi setidaknya sampai sekarang ia masih belum melupakannya.
“Masih mau masuk?” tanya Wang Qianqian kepada Lu Chen. Kalau mereka masuk dalam keadaan seperti ini, mungkin akan terjadi masalah. Jika tidak sanggup, lebih baik pergi.
“Masuk!”
Hal-hal yang harus dihadapi pada akhirnya memang harus dihadapi. Ada perkara yang bagaikan bom waktu; jika tidak diselesaikan, cepat atau lambat pasti akan meledak.
Lu Chen menenangkan perasaannya, lalu masuk ke hotel bersama Wang Qianqian. Reuni teman-teman SMP mereka hari itu diadakan di sebuah ruang jamuan besar.
Saat pintu didorong terbuka, sudah ada lebih dari sepuluh orang di dalam. Sebagian besar peserta telah tiba. Hampir semua teman SMP yang masih dapat dihubungi sudah diberi tahu.
“Lihat siapa yang datang! Bukankah ini Wang si Cantik?”
Begitu mereka berdua masuk, terdengar sorakan dan siulan riuh dari dalam ruangan.
Ada enam belas orang di dalam sana: lima perempuan dan sebelas laki-laki. Semua pandangan langsung tertuju kepada Wang Qianqian. Dahulu ia hanyalah seekor anak itik buruk rupa yang belum mengalami perubahan, sosok yang nyaris tak berarti dalam ingatan banyak orang. Kini, ia telah berubah menjadi angsa putih yang cantik dan memancarkan cahaya.
Orang yang tadi berteriak adalah seorang teman sekelas yang sesekali masih bertemu dengan Wang Qianqian, sehingga ia dapat langsung mengenalinya.
Pujian dan seruan penuh kenangan membuat Wang Qianqian seketika menjadi pusat perhatian di ruangan itu. Namun, ia sudah terbiasa. Dalam proses perubahannya, ia telah menarik terlalu banyak perhatian dan sejak lama terbiasa menjadi pusat perhatian. Di sekolah keperawatan maupun di rumah sakit, dialah sosok yang paling mencolok.
“Qianqian, kemarilah. Jangan pedulikan gerombolan laki-laki menyebalkan itu!”
Suara ceplas-ceplos terdengar dari salah satu sudut. Itu adalah Han Fengjie, si cabai kelas mereka.
“Fengjie, aku sangat merindukanmu!”
Han Fengjie adalah salah satu teman perempuan yang paling dekat dengan Wang Qianqian. Mereka tidak menjadi canggung meskipun sudah lama tidak bertemu.
Beberapa gadis segera mengobrol ramai, hingga Lu Chen justru terlupakan.
“Kau… Lu Chen?” tanya seorang pria gemuk dengan ragu.
Sudah beberapa tahun berlalu sejak mereka lulus SMP. Semua orang telah berubah, dan hubungan satu sama lain pun tidak terlalu dekat. Bahkan banyak yang sudah putus kontak, sehingga wajar jika mereka tidak saling mengenali.
“Zhen Fei, kau masih saja segemuk dulu!”
Lu Chen langsung mengingatnya tanpa kesulitan. Nama Zhen Fei terdengar seperti “benar-benar gemuk”, sangat cocok dengan penampilannya. Walaupun telah berlalu bertahun-tahun dan wajahnya sedikit berubah, lemak di tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda berkurang.
Saat SMP, hubungan mereka cukup baik. Namun, setelah lulus, mereka menempuh jalan masing-masing dan tidak lagi berhubungan.
“Wah, siapa ini? Bukankah dia Lu si Jenius dari dulu?”
Sebuah suara penuh sindiran terdengar. Sesaat kemudian, seorang pria berjalan mendekat. Dari kepala sampai kaki, ia mengenakan barang-barang bermerek. Pakaiannya mengingatkan orang pada satu istilah: orang kaya baru, orang kaya baru yang gemar pamer kekayaan.
Di salah satu tangannya terdapat empat cincin emas, belum termasuk cincin batu giok di ibu jarinya. Kedua tangannya dihiasi delapan cincin emas dan dua cincin batu giok.
Begitu melihatnya, Lu Chen merasa lelah hanya dengan membayangkan beratnya. Semua jarinya penuh cincin. Bukankah bahkan memegang gelas pun menjadi tidak nyaman?
Orang kaya baru itu bernama Liu Dapeng. Dahulu keluarganya hanyalah keluarga biasa. Namun, pada semester pertama kelas tiga SMP, ayahnya menjual sebuah barang antik milik keluarga seharga lebih dari dua juta yuan. Sejak saat itu mereka mendadak kaya. Ayahnya kemudian mengontrak sebuah peternakan babi dan menjadi salah satu orang terkaya di kota kecil mereka.
Setelah keluarganya kaya, sikap Liu Dapeng pun berubah. Ia mulai memancarkan gaya khas orang kaya baru, meskipun orang kaya baru yang sesungguhnya adalah ayahnya.
“Peng Meledak, kenapa selalu ada kau di mana-mana?”
Lu Chen membalas tanpa basa-basi. Nilai Liu Dapeng buruk, sehingga ia memusuhi orang-orang seperti Lu Chen yang menonjol dalam pelajaran. Di kelas, ia selalu mencari-cari masalah, terlebih setelah menjadi orang kaya baru.
“Boleh kutanya, Tuan Jenius Lu? Setelah bertahun-tahun tak bertemu, di proyek mana kau mengangkut batu bata?”
Liu Dapeng paling membenci julukan “Peng Meledak”. Begitu mendengar Lu Chen memanggilnya dengan julukan itu, wajahnya langsung berubah buruk. Ia nyaris menerjang dan mengadu tinju dengan Lu Chen.
Perselisihan mereka segera menarik perhatian teman-teman lain. Semua orang berkumpul mendekat.
“Liu Dapeng, tenanglah. Kita datang hari ini untuk reuni, bukan untuk mendengarkan kalian bertengkar,” kata si cabai, Han Fengjie, sebagai orang pertama yang angkat bicara.
“Benar. Kita semua teman sekelas. Untuk apa membuat suasana begitu tegang?” Teman-teman lain juga ikut menengahi dan berusaha meredakan ketegangan.
“Hmph, baiklah, akan kuturuti kalian. Aku tidak mau mempermasalahkan dia. Untuk apa berdebat dengan seorang pengangkut batu bata?”
Liu Dapeng sengaja meniup-niup cincin emas di tangannya.
Walaupun banyak orang meremehkan gaya orang kaya barunya, mereka tetap iri melihat begitu banyak cincin emas dan dua cincin batu giok di tangannya. Ia benar-benar anak orang kaya baru: tidak perlu berkeliling mengirim lamaran kerja, tidak perlu melihat wajah atasan, serta tidak perlu pusing memikirkan rumah dan mobil.
“Tenang saja. Aku juga tidak mau mempermasalahkan orang yang mengenakan barang palsu dari kepala sampai tangan.”
Hari itu Lu Chen juga sedang tersulut. Dadanya dipenuhi amarah.
Di satu sisi, ada cinta pertamanya dahulu, Wei Xiaoru, perempuan yang baru ditemuinya di depan hotel. Di sisi lain, ada permusuhannya dengan Liu Dapeng. Liu Dapeng juga merupakan faktor penting dalam persoalan antara dirinya dan Wei Xiaoru. Karena itu, begitu bertemu, suasana di antara mereka langsung dipenuhi bau mesiu.
Saat itu Wei Xiaoru menoleh dan memandang Lu Chen. Tatapannya sangat rumit, sulit ditebak apakah berisi kebahagiaan, kesedihan, atau kenangan masa lalu.
“Tunggu. Siapa yang kau bilang memakai barang palsu? Jelaskan kepadaku. Kalau tidak, urusan kita belum selesai hari ini!”
Liu Dapeng tidak mau mengalah. Tidak ada seorang pun yang dapat menenangkannya.
“Benarkah kau ingin aku mengatakannya? Tidakkah kau takut dipermalukan?” Lu Chen mencibir.
“Katakan saja. Kalau kau tidak bisa membuktikannya, jangan salahkan aku kalau bertindak kasar.”
Liu Dapeng melirik Wei Xiaoru yang berdiri di belakang Lu Chen. Tatapannya menyiratkan kekejaman.
“Pertama, cincin emas dan kalung emasmu semuanya hanya berlapis emas.”
Pada awalnya, Lu Chen sendiri tidak menyadarinya, karena emas lapis dan emas murni tampak sama dari luar, terutama jika disamarkan dengan baik. Ia mula-mula menemukan barang palsu lainnya, lalu baru menyadari melalui kemampuan penilai cahaya emas bahwa cincin dan kalung itu juga palsu.
“Mana mungkin! Jangan asal bicara!”
Liu Dapeng langsung terbakar emosi. Cincin dan kalung emas itu dibelinya dari sebuah bengkel gelap. Harganya memang lebih murah, tetapi tidak terlalu murah. Pemilik bengkel bahkan membelah salah satu cincin di depan matanya dan menunjukkan bahwa cincin itu terbuat dari emas murni.
“Perkataanmu tidak menentukan, begitu juga perkataanku. Bagaimana kalau kita memeriksanya?”
Lu Chen tampak sangat yakin.
“Bagaimana cara memeriksanya?” tanya Liu Dapeng.
“Kau bilang cincin emasmu terbuat dari emas murni?”
“Benar!”
“Kalau begitu mudah. Emas murni sangat lunak. Cari pisau buah, lalu belah. Bukankah kita akan tahu apakah itu asli?”
“Bagaimana kalau ternyata benar-benar asli?”
“Kalau asli, akan kuganti rugi.”
“Baik!”
Liu Dapeng tidak mau kalah. Ia segera mencari pisau buah, melepas salah satu cincinnya, meletakkannya di atas meja, lalu menekannya dengan pisau.
Cincin itu pun terbelah.
Namun, begitu melihat bagian dalamnya, wajah Liu Dapeng berubah seketika. Wajahnya menjadi sangat buruk, seolah-olah ia ingin menghantam wajah Lu Chen dengan tinjunya.
“Benar-benar palsu?”
“Gila, bagian luarnya emas, tetapi bagian dalamnya ternyata terbuat dari benda lain.”
“Ternyata Lu Chen benar. Liu Dapeng memakai cincin emas palsu. Benar-benar palsu.”
Orang-orang yang berada di dekat Liu Dapeng dapat melihat cincin yang telah dibelah itu. Di luarnya terdapat lapisan emas yang sangat tipis, sedangkan bagian dalamnya jelas bukan emas.
Dengan marah dan panik, Liu Dapeng melepas semua cincin emas lainnya lalu membelahnya satu per satu. Hasilnya sama: bagian luarnya berwarna kuning keemasan, tetapi bagian dalamnya bukan emas. Ia menduga benda itu terbuat dari timah atau logam lain. Bagaimanapun, itu jelas bukan emas. Lu Chen benar. Semua cincin tersebut palsu.
Jelas sekali, seseorang terlebih dahulu membentuk bahan lain menjadi cincin, lalu melapisinya dengan emas atau membungkusnya dengan emas agar tampak asli.
Setelah ketahuan di depan semua orang bahwa cincin-cincin emasnya palsu, wajah Liu Dapeng memerah seperti hati babi. Ia sangat ingin menemukan celah di lantai untuk bersembunyi, tetapi tentu saja tidak ada celah di sana. Bisik-bisik para teman sekelas terdengar di telinganya seperti jarum-jarum baja yang menusuk. Jika memungkinkan, ia benar-benar ingin menghantam Lu Chen. Namun, di bawah tatapan semua orang, ia belum sampai kehilangan akal sehat.
“Baiklah, memang palsu. Aku tertipu. Tetapi aku masih punya cincin batu giok ini, cincin batu giok putih seperti lemak domba. Satu saja harganya setidaknya beberapa ratus ribu. Pernahkah kau melihat yang seperti ini?”
Dengan marah, Liu Dapeng menyapu lengannya. Delapan cincin yang telah dibelah itu pun terlempar entah ke mana. Setelah itu, ia mengangkat dua cincin batu giok di tangannya.
Yang lain merasa sayang. Walaupun cincin-cincin itu palsu, lapisan luarnya tetap emas asli. Delapan cincin jika dijumlahkan pasti masih bernilai cukup banyak.
“Cincinnya palsu, kalungnya palsu. Kau kira cincin batu giokmu pasti asli?”
Melihat Liu Dapeng dipermalukan, Lu Chen merasakan kepuasan seperti telah membalas dendam.
Anak muda memang mudah terbakar emosi dan bertindak gegabah. Walaupun pengalaman bertahun-tahun di dunia kerja telah mengasah kepribadiannya, ia tetap seorang pemuda yang darahnya masih panas.
“Tentu saja asli. Aku bahkan memiliki sertifikat keaslian untuk kedua cincin ini, hanya saja tidak kubawa.”
Liu Dapeng sangat yakin terhadap kedua cincin batu gioknya.
Cincin-cincin emas itu dibelinya dari bengkel gelap, sedangkan cincin batu giok tersebut dibelinya di toko perhiasan. Masing-masing memiliki sertifikat.
Sertifikat?
Lu Chen tersenyum. Ia hanya percaya pada matanya sendiri. Lagi pula, ada pedagang curang yang mampu memperoleh sertifikat melalui jalur khusus.
Beberapa tahun sebelumnya, pernah terungkap sebuah kasus pemalsuan. Seorang pedagang ilegal bahkan mempekerjakan orang untuk meniru tulisan tangan dan memalsukan tanda tangan seorang ahli barang antik terkenal. Ia membuat sejumlah sertifikat palsu untuk menjual barang antik palsu dan meraup keuntungan besar secara ilegal. Ia baru ditangkap setengah tahun kemudian, setelah menimbulkan dampak yang sangat buruk. Sebagian kerugian bahkan sudah tidak mungkin dipulihkan.
“Aku bilang benda itu palsu, berarti memang palsu!”
Tanpa menggunakan kemampuan penilai cahaya emas, Lu Chen sudah dapat memastikan bahwa kedua cincin itu bukanlah giok putih seperti lemak domba. Dari harta peninggalan Yamamoto, ia pernah membawa pulang sepotong giok putih jenis tersebut dan telah mempelajarinya dalam waktu lama. Karena itu, ia sangat memahami ciri-ciri giok yang benar-benar asli.
“Baik. Kalau memang palsu, buktikan kepadaku. Kalau tidak bisa, jangan salahkan aku kalau bertindak kasar,” kata Liu Dapeng sambil menggertakkan gigi.
Setelah terungkap bahwa delapan cincin emasnya palsu, harga dirinya telah jatuh ke tanah. Amarahnya sejak tadi nyaris tak terbendung, tetapi ia belum menemukan kesempatan untuk melampiaskannya. Kini ia memperoleh alasan yang tepat. Ia melepas kedua cincin batu giok dari tangannya dan meletakkannya dengan keras di atas meja, tepat di depan Lu Chen.
Dalam sekejap, perhatian semua teman sekelas tertuju kepada mereka. Benda seharga ratusan ribu tentu saja sangat menarik perhatian, tak peduli asli atau palsu.