Bab 103: Di Seberang adalah Mu Xue!
Di dahi Chen Bin, sebuah pola cahaya keemasan tiba-tiba memadat dengan liar. Cahaya emas itu mengalir, membuat kepalanya tampak sangat misterius.
"Ternyata! Dia adalah orang dari... Keluarga Chen itu!" Pembunuh berpakaian hitam itu merasa napasnya tercekat sesaat, lalu tatapan matanya langsung menjadi dingin. "Kalau begitu, aku tidak boleh membiarkanmu hidup. Jika tidak, kalau sampai mereka tahu..."
Namun Chen Bin seolah-olah tidak mendengarnya. Tubuhnya yang terikat sangat erat itu tiba-tiba bergetar sedikit. Detik berikutnya, di dalam matanya yang memancarkan niat membunuh, pancaran cahaya keemasan menjadi semakin pekat, seolah-olah hendak menyelimuti langit dan bumi!
Bum!
Terdengar suara ledakan dahsyat yang memekakkan telinga. Semua orang merasakan tubuh mereka sedikit bergetar. Tak lama kemudian, tali kekang yang mengikatnya dengan cepat terbakar hingga musnah, berubah menjadi abu yang berjatuhan ke tanah.
"Eh! Kapten!" Setelah terbebas dari ikatan tali, mereka berteriak terkejut satu per satu. Mereka melihat sosok Chen Bin yang semula ada di sana telah menghilang. Di leher pembunuh berpakaian hitam itu, sebuah lengan kini sedang mencengkeramnya dengan erat.
Mereka segera mengalihkan pandangan dan terkejut saat melihat bahwa orang itu memang Chen Bin! Kedua matanya memancarkan cahaya keemasan yang pekat, dan pola segel di dahinya tampak begitu hidup. Dia sedang mencengkeram leher sang pembunuh berpakaian hitam dengan erat. Hawa membunuh yang luar biasa pekat seolah-olah akan memadat menjadi nyata.
"Tunggu sebentar!" Seorang anggota dari Sekte Tianxuan tiba-tiba menepuk tangannya, suaranya terdengar agak gemetar. "Aku seolah ingat, ada sebuah teknik rahasia milik Keluarga Chen... teknik rahasia itu akan..."
Sebelum kalimatnya selesai diucapkan, raungan memekakkan telinga telah menggema.
Di dalam Relik Kuno, suara langkah kaki terdengar perlahan. Selain itu, area sekelilingnya diselimuti keheningan yang sunyi.
"Rintangan keempat ini, entah apa rahasianya. Penderitaan Pembakaran Tubuh? Aku benar-benar ingin merasakannya." Su Ling melangkah maju, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman tipis. Dia samar-samar bisa melihat bahwa koridor api ini telah mencapai ujungnya. Beberapa sosok pemuda berbakat tampak duduk bersila di udara, dan di hadapan mereka ada sebuah pintu batu raksasa.
Orang-orang di depan tampaknya menyadari kedatangan Su Ling. Mereka menoleh sedikit. Ada beberapa wajah yang familier, sementara sisanya adalah wajah-wajah asing. Di antara mereka ada Liu Lei dari Sekte Jiuyan, gadis cantik itu, serta orang-orang dari sekte lainnya.
Su Ling dan Liu Lei degan cepat saling memandang sesaat di udara. Keduanya bisa melihat makna tersirat dari mata masing-masing. Tak lama kemudian, Su Ling menyadari keberadaan sesosok bayangan indah di belakangnya, membuatnya menelan ludah tanpa sadar.
Rambut hitam panjangnya yang indah terurai bebas. Wajahnya yang sehalus porselen tampak putih bersih dan bercahaya, dengan lekuk tubuh yang molek dan proporsional. Di usianya yang baru sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun, dia telah tumbuh menjadi gadis yang sangat anggun dan menawan, memancarkan aura mulia layaknya seorang ratu. Namun, dia sangat jarang bersuara, apalagi menunjukkan emosinya. Dia bagaikan bunga peony yang mekar diam-diam di lembah yang sunyi—tenang tapi tidak dingin, cantik tapi tidak menggoda. Dia adalah teratai yang mampu meruntuhkan kota, membuat siapa pun yang melihatnya terpana dan terpesona.
Saat itu, Su Ling mengambil tindakan kasar hanya karena nada bicaranya yang dingin dan meremehkan. Namun kini, ketika bertemu dengannya lagi, bahkan Su Ling pun tidak bisa tidak mengagumi kecantikannya. Jika dia sudah dewasa nanti, sepasang mata indahnya yang memikat itu saja sudah cukup untuk membuat banyak orang menjadi gila.
Sosok indah itu juga menyadari tatapan Su Ling. Dia menoleh sedikit ke arah Su Ling, dengan riak tipis yang mengalir di matanya yang indah, sebelum akhirnya memalingkan kepalanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Namun, Su Ling dapat merasakan aliran emosi yang samar dan halus dari tatapannya tadi...
"Hehe, Kapten, kau sedang memperhatikan si cantik di sebelah sana ya..." Suara candaan Xu Lin terdengar dari belakang. Wajah Su Ling memerah karena malu, lalu dia menjitak kepala Xu Lin sambil tertawa getir. "Jangan bicara sembarangan..."
Tiba-tiba, Su Ling merasakan hawa dingin yang menusuk langsung ke lubuk hatinya. Alisnya terangkat, dan dia mengalihkan pandangannya ke suatu tempat. Di sana, dia melihat wajah yang sangat familier!
Orang itu adalah kapten dari sekte yang menyebut diri mereka sebagai sekte kelima, yang sempat bertengkar di tangga sebelum memasuki Relik Kuno, di mana kedua belah pihak sama-sama kehilangan seorang anggota tim!
Bahkan sampai sekarang, kata-kata yang diucapkan oleh kapten itu masih terngiang jelas di benak Su Ling.
"Dendam mendalam ini, mari kita selesaikan di dalam Relik Kuno nanti!"
Sudut bibir Su Ling terangkat membentuk lengkungan tipis. Dengan senyum penuh arti, dia melipat kedua tangan di dada, dan menggumamkan suara yang hampir tidak terdengar...
"Perjalanan memperebutkan harta karun kali ini sepertinya tidak sesederhana itu."
Liu Lei kembali menatap tangga di belakangnya. Setelah melihat tidak ada orang lain yang datang, dia berdeham pelan, lalu suaranya yang lantang terdengar di telinga semua orang.
"Sekarang para genius di dalam Relik Kuno ini hampir semuanya telah berkumpul. Di sini, aku ingin meminta bantuan dari kalian semua. Kurasa banyak di antara kita yang sudah tahu tentang rintangan keempat ini. Kita harus menghancurkan pintu batu ini terlebih dahulu, lalu menanggung penderitaan pembakaran api selama tiga jam sebelum bisa memasuki rintangan terakhir dan membuka harta karun."
"Namun, untuk berterus terang, pintu batu ini sangat kokoh. Jika semua orang egois dan menyimpan niat pribadi, kurasa tidak akan ada yang bisa menghancurkannya, bahkan aku pun tidak..." Liu Lei tersenyum pahit. Hal ini membuat anggota tim lainnya berdecak kagum. Bahkan orang terkuat di sini pun tidak bisa menghancurkannya? Seberapa kuat sebenarnya ketahanan pintu batu ini?
"Oleh karena itu, aku, Liu dari Sekte Jiuyan, sekali lagi memohon agar semua orang di sini dapat menyatukan kekuatan untuk menghancurkan pintu batu ini!"
Semua orang terdiam sejenak dengan ragu. Tak lama kemudian, kapten dari sekte peringkat kelima itu mengangkat tangannya. "Aku setuju. Tapi aku masuk ke relik ini sendirian, jadi aku hanya bisa menyumbangkan kekuatanku sendiri."
"Tidak masalah," jawab Liu Lei dengan senyum ramah, lalu tatapannya beralih dengan nada menggoda ke arah Su Ling. "Lalu bagaimana dengan tim dari Sekte Tianxuan dan Sekte Zhendou? Apakah ada keberatan?"
Su Ling tentu saja menyadari adanya persaingan terselubung dalam perkataan itu. Dengan senyum tipis, dia menjawab dengan tenang, "Selama sekte Anda tidak keberatan, maka tentu saja tidak masalah bagi kami."
"Bagus sekali, bagus sekali." Liu Lei mengangguk puas, lalu tangannya mengepal perlahan. "Kalau begitu, sekarang mari kita semua menyatukan kekuatan kita di tangan masing-masing, dan hancurkan pintu batu ini menjadi kepingan!"
Suara lantang Liu Lei menggema di seluruh area tersebut. Semua orang menghentakkan kaki mereka ke tanah, dan tirai energi spiritual yang pekat melonjak keluar bagaikan benda nyata, bergolak hebat memenuhi udara.
"Serang!" teriak Liu Lei dengan lantang. Tangannya mendorong ke arah pintu batu tebal itu, melepaskan seberkas cahaya energi spiritual raksasa yang melesat hebat. Di belakangnya, berkas-berkas cahaya dengan berbagai warna juga ikut melesat kencang menuju pintu batu tersebut!
Bum!
Sebuah ledakan dahsyat mengguncang bumi. Pintu batu itu bergetar hebat, dan retakan-retakan besar mulai menyebar dengan cepat secara kasatmata. Serpihan batu besar beterbangan ke udara, menari-nari memenuhi langit.
"Sekali lagi, kita pasti bisa menghancurkannya!" Melihat kemajuan besar ini, senyum mengembang di wajah Liu Lei. Antusiasme di matanya tidak lagi ditutupi. Energi yang sangat pekat berkumpul di kedua tangannya, dan sekali lagi, berkas-berkas cahaya spiritual raksasa ditembakkan ke depan.
Bum! Bum! Bum!
Beberapa berkas cahaya kembali menghantam pintu batu, menimbulkan suara ledakan memekakkan telinga yang bergema ke segala arah. Pintu batu yang sudah dipenuhi retakan itu akhirnya tidak mampu bertahan lagi. Dengan suara dentuman keras, pintu itu meledak hancur berkeping-keping. Batu-batu raksasa yang kokoh berjatuhan ke tanah, dan lautan api yang tak berujung pun terhampar di depan mata semua orang.
"Huh, kupikir Penderitaan Pembakaran Tubuh itu sangat hebat, ternyata hanya berada di dalam lautan api ini. Kalau begitu, tidak ada ancaman sama sekali." Xu Lin mengembusen napas lega, lalu bersiap untuk melangkah ke dalam lautan api. Namun, Su Ling dengan cepat menariknya kembali. Wajah Su Ling tampak muram, dan dengan suara rendah dia membentak, "Apakah kamu gila? Tidakkah kamu tahu bahwa racun api di dalam lautan api itu sangat pekat dan bisa mengikis tubuhmu dalam sekejap?"
Mendengar hal itu, semua orang tertegun. Xu Lin berkata dengan terbata-bata, "Tapi... kenapa saat kita jatuh ke lautan api sebelumnya, selain rasanya sangat panas, tidak ada hal yang mengerikan terjadi?"
Kelopak mata Su Ling berkedut. Kejadian sebelumnya itu pasti karena racun api telah diserap oleh Jarum Penenang Samudra. Jika tidak, mereka pasti sudah terbakar menjadi abu sejak lama.
"Api di sini tidak bisa dibandingkan dengan yang sebelumnya. Jika ujian di rintangan keempat sesadis itu, maka harta karun tersebut tidak akan pernah bisa dicapai." Suara Su Ling terdengar dingin. Dibakar oleh Api Suci Lava ini selama tiga jam? Itu jelas merupakan hal yang mustahil. Bahkan jika hanya setengah detik, seseorang pasti sudah berubah menjadi abu hitam.
Namun, tepat ketika pikiran ini terlintas di benak Su Ling, Liu Lei telah membuka gulungan kertas di tangannya. Karakter-karakter misterius tiba-tiba muncul di udara dari gulungan tersebut.
Alis Su Ling terangkat, dia pun bergegas mengambil gulungan kertas dari tangan Xu Lin dan membukanya sedikit. Benar saja, beberapa tulisan segel misterius telah muncul di sana tanpa sebab. Alis Su Ling berkedut saat dia membaca tulisan tersebut.
Rintangan keempat, Penderitaan Pembakaran Tubuh. Tiga orang akan dialokasikan ke dalam satu ruang api untuk menahan suhu dan kekuatan dari Jantung Iblis Api (seperseribu dari suhu Api Suci Lava).
"Huh." Su Ling baru bisa mengembuskan napas lega sekarang. Seperseribu dari Api Suci Lava, meskipun masih sulit untuk ditahan, tentu saja ribuan kali lebih ringan. Beban berat yang sebelumnya mengganjal di dadanya pun seketika sirna.
"Hmm, tiga orang dialokasikan ke dalam satu ruang api, dan sepertinya ini acak?" Su Ling mengelus dagunya. Dia melihat bahwa lautan api yang tak berujung itu tiba-tiba memunculkan sebuah gerbang api yang berputar perlahan, memancarkan aura yang misterius.
"Xue'er, mari kita masuk ke ruang api yang sama. Dengan begitu, kita pasti bisa melangkah ke rintangan terakhir bersama-sama," kata Liu Lei dengan lembut kepada Mu Xue. Mu Xue tertegun sejenak, tetapi dia tidak menolak. Dia hanya mengangguk pelan dan melangkah dengan anggun mengikuti Liu Lei masuk ke dalam gerbang api tersebut.
Syuut!
Bagaikan seberkas cahaya yang melintas di depan mata semua orang, sosok kedua orang itu langsung lenyap dari pandangan.
"Cih, Bos hanya menggunakan kesempatan ini untuk menggoda Kakak Tertua!" Sebuah suara anak kecil yang polos terdengar. Terlihat seorang anak berwajah bulat menggemaskan mengerucutkan bibirnya, lalu berjalan dengan langkah kecil yang lucu langsung masuk ke dalam gerbang api.
"Aku juga mau ikut! Siapa tahu aku bisa satu ruangan dengan Kakak Tertua dan yang lainnya! Hehe!"
"Ah! Kakak, jangan tinggalkan aku!" Sebuah suara panik terdengar, dan seorang pria berbadan kekar juga bergegas masuk ke dalam gerbang api tersebut.
Setelah itu, orang-orang lainnya juga mulai masuk ke dalam gerbang api satu demi satu.
"Mari kita masuk juga. Jika kita berjalan bersama, mungkin kita bisa dialokasikan di ruang api yang sama," kata Su Ling sambil tersenyum kepada anggota tim lainnya.
"Kami... tidak akan masuk. Kami khawatir hanya akan menjadi beban bagi kalian, jadi kami akan menunggu di sini saja," kata beberapa orang dari Sekte Tianxuan dan Sekte Zhendou. Su Ling mengangguk tanpa bersikap sungkan, lalu melangkah masuk ke dalam gerbang api bersama Kui Ying!
Syuut!
Bagaikan melintasi ruang dan waktu, rasa hangat menyelimuti sekelilingnya. Ketika Su Ling membuka matanya kembali, dia sudah berada di lingkungan yang asing, tampak seperti sebuah ruangan yang agak sempit.
Namun, dari sekelilingnya tercium aroma harum yang menusuk hidung. Su Ling mengernyitkan dahi dan menoleh ke samping. Seketika itu juga, ekspresi wajahnya langsung membeku.
Dua pasang mata yang terkejut kembali saling menatap, karena orang yang berada di sampingnya tidak lain adalah gadis itu, Mu Xue!