Bab 55: Panen Berlimpah
Musim panen gandum adalah masa yang paling melelahkan, namun juga paling membahagiakan. Ketika matahari sudah naik tinggi di atas kepala, semua ikatan gandum telah dikumpulkan dan dibawa ke halaman. Untungnya, Jiang Zhi sebelumnya sudah mencampur kapur tohor dengan tanah liat untuk mengeraskan permukaan halaman, jadi sekarang tinggal disapu bersih sebelum tumpukan gandum diletakkan di sana.
Pagi-pagi sekali mereka sudah selesai mengangkut gandum. Seusai makan dengan tergesa-gesa, mereka pun langsung mulai menumbuk gandum. Seperti biasanya, mereka memasang sebuah balok kayu yang tingginya sedang di tengah halaman, di atasnya diletakkan setengah batu gilingan. Orang-orang mengambil ikatan gandum dan membantingnya dengan sekuat tenaga di atas batu gilingan itu, hingga butir gandum terlepas dari bulirnya, lalu sisa jerami diikat dan dibuang ke samping.
Xiaoman dan Xu Er Rui adalah tenaga utama dalam menumbuk gandum. Dalam beberapa kali bantingan saja, butir gandum sudah terlepas. Kakek Xiaoman memegang tongkat kayu, memukul-mukul ikatan jerami yang telah dipisahkan untuk memastikan tak satu butir gandum pun terlewatkan.
Jiang Zhi dan Chun Feng bertugas membantu, mereka harus mengangkut jerami yang benar-benar bersih tanpa sebutir pun gandum yang tersisa ke hutan dan menumpuknya dengan rapi. Jerami itu kelak bisa digunakan untuk bahan bakar atau atap rumah dari jerami. Sementara itu, butir gandum yang sudah terlepas harus segera dijemur selagi matahari masih bersinar, karena jika kehujanan, gandum itu akan cepat bertunas.
Nenek Xiaoman menggelar plastik di sawah bertingkat, lalu menaburkan butir gandum di atasnya hingga rata. Kedua keluarga begitu khusuk dan penuh harapan; setelah segala perang, pengungsian, dan pelarian ke gunung, kini akhirnya saat panen pun tiba!
Malam itu, Chun Feng langsung mengolah gandum baru dengan cara menyangrai lalu menggilingnya hingga menjadi tepung, menyaring kulitnya yang kasar, kemudian menambah telur dan daun bawang untuk membuat roti pipih gandum. Meski roti itu masih agak kasar dan terasa menggores tenggorokan karena kulit gandum yang belum terlalu halus, aroma gandum yang sudah lama dirindukan membuat semua orang makan dengan lahap hingga menjilat jari.
Jiang Zhi pun tak ragu makan sampai kekenyangan. Kakek Xiaoman menghitung dengan jarinya dan berseru, “Lima petak sawah, setelah kering dapat lebih dari dua ratus kati, panen yang tinggi! Andai punya lima hektar di bawah gunung dengan hasil sebanyak ini, setahun gandum sudah seribu kati... ah! Setahun pun tidak habis, masih bisa disimpan untuk dijual!”
Dalam hati Jiang Zhi hanya bisa menggeleng-geleng: Baru dua ratus kati gandum, itu pun masih kurang! Di zaman modern dengan benih unggul dan pupuk, hasil per hektar sudah mencapai seribu dua ratus hingga seribu lima ratus kati. Panen kali ini cukup baik, mungkin karena bebas dari hama dan penyakit. Namun, budidaya gandum masih harus dikelola lebih baik lagi, dengan memanfaatkan teknologi pertanian sebanyak mungkin.
Setelah panen gandum, mereka pun harus segera menanam padi. Biasanya, kedua pekerjaan itu dilakukan bersamaan. Dulu Jiang Zhi pun pernah ikut kerja rodi “panen ganda” dalam “Perang Besar Mei Merah,” di mana siapa pun yang terlambat harus memotong bulir gandum di sawah yang sudah digenangi air.
Butir gandum dijemur di halaman, sementara Qiaoyun yang teliti bertugas menjaga di rumah. Tugas Qiaoyun berat, ia harus selalu mengawasi pergerakan awan, takut-takut hujan dari pegunungan datang tiba-tiba. Sementara yang lain turun ke sawah bertingkat, membalik tanah dengan cangkul, menghancurkan gumpalan tanah, lalu memasukkan air ke sawah. Berkat saluran air yang sudah dibuat sebelumnya, tanah sawah tidak kekurangan air, sehingga menyiapkan sawah untuk padi pun jadi lebih mudah.
Tanpa bantuan sapi untuk membajak, Xu Er Rui dan Xiaoman bergantian menarik cangkul di depan. Kakek Xiaoman sibuk melapisi pematang sawah dengan lumpur encer. Sekarang ini semua harus serba cepat, siang malam mereka bekerja tanpa henti hingga pagi menjelang.
Saat fajar merekah, sawah bertingkat berkilauan oleh pantulan cahaya. Bibit padi sudah dicabut dari pembibitan. Kali ini, Jiang Zhi meminta agar cara menanam mengikuti sarannya.
“Jarak antar bibit harus satu kaki, dan harus menggunakan tali supaya barisnya rapi dan sejajar, menghadap ke arah terbit dan terbenam matahari.”
Kakek Xiaoman dan Xu Er Rui tampak kebingungan. Kakek Xiaoman berkata, “Er Rui, kalau menanam padi serenggang ini, itu membuang-buang tanah!”
Xu Er Rui ikut menimpali, “Dulu menanam padi selalu mengikuti pinggir sawah, lebih gampang dan lebih rapat, hasilnya juga lebih banyak, Ibu, bukankah Ibu sendiri yang ajarkan itu padaku?”
Dulu ia sering kena pukul gara-gara menanam padi tidak rapi, sekarang kenapa malah berubah? Namun Jiang Zhi dengan tenang menjawab, “Dulu caranya salah makanya hasilnya tidak tinggi, tiap tahun kelaparan! Paman Chang Geng, bukankah sudah sepakat semua urusan tanam-menanam ikut saya, buktinya panen gandum ini!”
Alasan itu pun akhirnya diterima, apalagi sawah bertingkat memang hasil kerja keras “Ibu Er Rui” alias Jiang Zhi. Akhirnya, padi pun ditanam sesuai cara Jiang Zhi. Melihat barisan bibit yang renggang, sawah bertingkat tampak begitu kosong, sampai hati kakek Xiaoman terasa nyeri.
“Dosa! Ini benar-benar membuang-buang tanah!” Namun tak lama ia pun lupa rasa sakit hati itu karena masih banyak pekerjaan lain menanti. Kacang kedelai di lereng bukit pun sudah waktunya dipanen.
Ladang kedelai di lereng bukit tidak seperti sawah gandum yang bisa dipanen sekaligus. Memanen kedelai sangat menguras tenaga dan waktu. Luasnya ladang di lereng bukit membuat rumput liar tumbuh lebih subur dibanding bibit kedelai, apalagi setelah masuk bulan Juni, hujan sering turun dan matahari semakin terik, sehingga rumput tumbuh lebat sementara bibit kedelai jarang-jarang.
Karena terlalu fokus pada gandum, tanpa sadar mereka telah mengabaikan lahan kedelai. Bagian tepi ladang yang sering dilewati masih lebih baik, setiap hari sempat dicangkul dan tanahnya terlihat, tapi di bagian lain, kedelai tersembunyi di balik semak. Maka, mereka harus mencari batang kedelai di antara rerumputan.
Meskipun demikian, abu bakar dari rumput yang pernah dibakar memberi kesuburan, dan perawatan sejak awal tumbuh membantu memperkuat tanaman. Sekalipun sekarang batang kedelai tertutup rumput, akarnya tetap kuat dan polongnya tumbuh besar dan padat.
Namun, saat memanen, kakek Xiaoman kembali merasa pilu. Setelah diperhatikan, ternyata banyak polong kedelai yang dimakan kelinci di balik semak. Sambil mengomel, mereka buru-buru memanen kedelai. Memanen kedelai pun harus tepat waktu, jika terlalu awal polong belum matang sehingga hasilnya berkurang, jika terlalu lambat polong akan pecah dan bijinya rontok.
Panen dilakukan ketika daun kedelai mulai mengering, polong berubah kuning, dan pagi-pagi saat embun masih menempel mereka memotong batangnya. Mereka membutuhkan beberapa hari untuk mengumpulkan semua kedelai dari balik semak.
Ternyata, menanam luas belum tentu hasilnya sedikit. Benih yang ditabur sembarangan pun, jika dipanen semua, cukup memenuhi halaman rumah Xiaoman di bawah tebing. Setelah dipanen, kedelai tidak bisa langsung dipukul, harus dijemur hingga benar-benar kering, lalu dipilih hari yang cerah untuk duduk dan memukul polong-polongnya perlahan.
Kakek Xiaoman memasang rak dari ranting di luar hutan, batang kedelai diikat kecil-kecil lalu digantung terbalik berbentuk angka delapan di tongkat kayu. Dengan begitu, ia bisa kering perlahan, tidak takut hujan atau panas yang bisa membuat polong busuk.
Kerja di ladang pun agak longgar beberapa hari. Suatu hari ketika cuaca terlalu terik untuk keluar rumah, Jiang Zhi memeriksa luka di pinggang Xu Dazhu. Setelah lebih dari setengah bulan diberi obat, kaki Xu Dazhu masih belum bisa merasakan apa-apa, tapi ia merasa nyeri di pinggang sudah berkurang dan kini muncul rasa kesemutan.
Dalam pengobatan tradisional, nyeri, kesemutan, pegal, dan gatal memiliki arti dan tingkat penyakit yang berbeda. Pegal menandakan kekurangan darah dan cairan, merupakan tahap paling ringan. Kesemutan berarti aliran udara lancar tapi darah masih tersumbat, sehingga timbul rasa tidak nyaman. Semua orang tahu rasanya kaki tertindih terlalu lama; udara sudah mengalir, tapi darah belum, sehingga kulit memucat dan terasa seperti ada semut merayap di bawah kulit.
Bengkak adalah akibat udara tersumbat, jika lebih parah akan sakit. Sementara gatal adalah reaksi terbaik, artinya aliran darah dan udara sudah lancar sehingga rangsangan menimbulkan rasa gatal. Jika luka terasa gatal, itu berarti jaringan baru mulai tumbuh.
Kini, dari rasa sakit yang menyiksa hingga berubah menjadi kesemutan, menandakan aliran darah dan udara di bagian yang cedera mulai berusaha membuka jalur baru. Ada satu reaksi lagi yang lebih penting, yaitu masalah inkontinensia yang dialami Xu Dazhu kini jauh membaik.
Membicarakan hal ini, Xu Dazhu merasa malu di hadapan bibinya Jiang Zhi, tapi nenek Xiaoman sangat gembira. Tentu saja, kini orang yang bahagia bertambah satu, Chun Feng pun tersenyum cerah, wajahnya merona.
Jiang Zhi menyimpulkan bahwa semua ini berkah tersembunyi dari pelarian mereka, sebab selama beberapa bulan terakhir mereka bertahan hidup dengan makan tepung umbi gadung. Itu adalah makanan kesehatan, bahkan di waktu biasa sulit mendapatkannya. Selain itu, mereka juga mengonsumsi ubi liar, tanaman herbal, dan pupa lebah yang menyehatkan ginjal, sehingga akhirnya buang air pun normal.
Pola makan teratur, hati pun lapang, tidak seperti dulu yang kelaparan setiap hari. Lambung dan usus perlahan pulih, tidak lagi mengalami diare dan sembelit secara bergantian.