Bab 136: Mengakali Tanah
Halaman 1/3
Ketika Xu Changshou melihat Kepala Regu Zhang tidak menunjukkan reaksi apa pun—atau lebih tepatnya, reaksinya bukan seperti yang ia harapkan—ia pun mengulanginya lagi, “Istriku sudah meninggal!”
Kepala Regu Zhang mengernyit dan menoleh kepadanya. “Di rumahmu masih ada berapa orang yang hidup?”
Sikap dingin prajurit itu tampaknya membuat Xu Changshou ketakutan. Ia bergumam, “Istriku meninggal. Beberapa hari ini aku tak bisa makan dan tidur dengan tenang. Aku…”
Kepala Regu Zhang menggebrak meja. “Di rumahmu masih ada berapa orang yang bernapas? Kalau tidak menjawab, namamu tidak akan dicatat dalam daftar keluarga!”
Barulah Xu Changshou berteriak, “Aku bilang! Aku bilang! Aku hanya sedang memikirkan istriku… Di rumah masih ada empat orang!”
Kepala Regu Zhang memberi isyarat kepada juru tulis di sampingnya agar mulai mencatat di atas kertas. “Siapa nama mereka, berapa usianya, laki-laki atau perempuan—katakan dengan jelas! Juga berapa luas sawah dan ladangmu. Cari lima orang untuk menjadi saksi!”
“Lima orang? Bukankah cukup kalau ada seseorang yang bersaksi?” Xu Changshou tertegun. Ia hanya mencari istri Genbao. Lalu siapa lagi yang harus ia cari?
Kepala Regu Zhang paling tidak tahan menghadapi orang seperti itu. “Kalau tidak ada saksi, menyingkirlah. Keluarga berikutnya! Cepat sedikit! Kenapa lamban sekali? Apa kau sudah tak bisa berjalan karena pantatmu dijepit?”
Keluarga berikutnya adalah para pengungsi yang tertinggal dan kini disebut pendatang. Mereka mulai didaftarkan.
Keluarga itu sederhana: hanya sepasang suami istri dengan dua anak. Nama dan usia mereka dicatat, lalu alamat tempat tinggal mereka sebelumnya dituliskan. Selesai.
Xu Changshou tersisih ke samping. Pikirannya berputar cepat, sementara matanya mengarah ke kerumunan keluarga Xu. Ia membutuhkan lima orang saksi. Siapa yang bisa ia cari?
Istri Genbao juga bersembunyi di belakang kerumunan sambil mendengarkan. Tadi, ketika melihat suaminya bersikap pengecut, ia sudah sangat jengkel. Mulutnya terus bergerak-gerak, mengumpat tanpa henti seperti sapi mengunyah rumput.
Di sebelahnya berdiri istri Yaozu. Begitu mendengar bahwa ayah mertuanya membutuhkan saksi, ia segera menarik istri Genbao keluar dari belakang kerumunan.
“Datang, datang! Genbao dan yang lainnya bersedia menjadi saksi.”
Istri Genbao bahkan belum sempat sadar bahwa dirinya sudah berdiri di depan kerumunan. Sebagai perempuan yang hanya berani galak di rumah sendiri, kedua kakinya langsung lemas sebelum sempat membuka mulut di hadapan banyak orang. Namun, teringat kesepakatannya dengan Xu Changshou, ia tetap memberanikan diri berkata, “Aku… aku bersaksi!”
Melihat Xu Changshou lagi, Kepala Regu Zhang menatapnya dengan wajah menghitam. “Kalian ini benar-benar tidak mengerti bahasa manusia, ya? Lima orang, lima! Apa kau punya lima kepala atau lima pantat?”
Hati istri Genbao tergerak. Bukankah hanya lima orang? Seolah-olah keluarganya tidak punya sebanyak itu. Ia berteriak kepada orang-orang di keluarganya, “Genbao! Ibu, Kakak, Kakak Ipar, kalian semua kemari!”
Xu Yaozu juga menarik Xu Genbao keluar. “Ayo, bantu kami mengatakan beberapa patah kata. Kita semua satu keluarga. Jangan sampai orang luar menertawakan kita.”
Urusan ini memang sederhana. Mereka adalah penduduk asli setempat yang telah berputar-putar di sekitar pematang sawah selama puluhan tahun. Semua orang tahu tanah mana milik siapa. Cukup mengucapkan satu kalimat.
Karena itu, Xu Genyou tidak terlalu banyak berpikir. Ia membawa istri dan anaknya mendekat untuk membantu memberikan kesaksian.
Melihat jumlah orang sudah cukup, Xu Changshou segera menampilkan senyum menjilat kepada Kepala Regu Zhang. “Kepala Regu Zhang, sekarang keluargaku terdiri atas empat orang. Dahulu jumlah kami lebih banyak, delapan orang, jadi tanah kami juga lebih luas. Dengan begitu barulah cukup untuk makan…”
Melihat Kepala Regu Zhang hendak kembali menggebrak meja dan menyuruhnya pergi, ia buru-buru melanjutkan, “Tanahku berada di tepi parit, namanya Sawah Muara Air dan Sawah Tikungan Balik…”
Halaman 1/3
Halaman 2/3
Baru dua nama tanah disebutkan, wajah Xu Genyou—yang semula hanya datang untuk mengucapkan beberapa patah kata—langsung berubah.
Di belakangnya, Xu Genbao, ibunya, Liu, dan kakak iparnya, Tian, juga menunjukkan wajah penuh kebingungan.
Kedua petak sawah itu sama sekali bukan milik Xu Changshou. Salah satunya milik kepala desa, Xu Maoping, sedangkan yang lainnya milik Xu Changgeng.
Tanah milik kepala desa tidak perlu dibicarakan. Semuanya merupakan sawah subur. Saat ini ia berada di Prefektur Yuzhou dan belum kembali. Ia hanya pernah mengatakan bahwa orang lain boleh menggarap tanah itu untuk sementara.
Bagi keluarga yang tinggal di pegunungan, menambah kepemilikan tanah bukanlah perkara mudah. Mendapatkan sawah berpengairan yang bagus jauh lebih sulit lagi.
Meskipun keluarga Paman Changgeng terpaksa menjual barang-barang untuk mendapatkan uang pengobatan, sawah terbaik itu tidak mereka jual.
Dazhu pernah berkata bahwa kedua bersaudara itu telah menghabiskan seluruh harta keluarga untuk mengobati luka akibat kecelakaan yang menimpanya. Bagaimanapun juga, ia harus menyisakan sebidang sawah yang baik untuk adiknya.
Penyakitnya sendiri tidak akan sembuh hanya dengan tambahan tiga liang perak. Jika mereka menjual tanah sembarangan, Xiao Man bahkan tidak akan memiliki jatah makanan di kemudian hari.
Bahkan setelah ia meninggal, ia masih akan menyeret Xiao Man ke dalam kesulitan. Ia tidak akan dapat beristirahat dengan tenang di alam baka.
Karena itu, meskipun mereka sampai menjual pasta pewarna kain milik nenek Xiao Man, tanah itu tetap dipertahankan.
Semua orang mengetahui hal ini. Pemiliknya kini berada di gunung dan pasti akan kembali menggarap sawah tersebut.
Sekarang Xu Changshou menyebut kedua petak sawah itu sebagai miliknya. Jelas ia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menipu dan mendapatkan surat kepemilikan tanah.
Xu Genyou segera mengingatkan, “Paman Changshou, sepertinya Paman salah ingat. Tanah ini…”
“Tanah ini sekarang milikku, Genyou. Kau hanya perlu mengangguk dan bersaksi!” Xu Yaozu segera memotong ucapannya.
Xu Genyou menggeleng. “Ini tidak bisa. Kalau Paman Maoping dan yang lainnya kembali…”
Xu Changshou kembali menyela, “Genyou, jangan bicara sembarangan. Kalau kau ingin menggarap tanah, semua tanah milikku akan kuberikan kepadamu untuk ditanami.”
Kepala Regu Zhang saat itu sudah menyadari ada yang tidak beres. “Xu Changshou, apa kau sedang mempermainkanku?”
Xu Changshou dan putranya buru-buru berkata, “Tidak, Kepala Regu Zhang. Anak ini hanya salah ingat. Semua tanah itu milik kami, milik keluarga kami. Kalau tidak percaya, tanyakan kepada istri keponakanku.”
Xu Changshou menatap Liu. Sambil mengertakkan gigi, ia berkata, “Istri keponakan, anak sulungmu itu ingatannya buruk. Kau yang sudah berusia lanjut tentu masih ingat, bukan? Jelaskan baik-baik bahwa semua tanah itu milikku. Kepala Regu Zhang adalah orang luar, jadi ia tidak memahami seluk-beluk tempat kita.”
Liu tahu benar bahwa putra sulungnya mengatakan hal yang tepat. Tanah-tanah itu bukan milik Xu Changshou.
Halaman 2/3
Halaman 3/3
Namun, ucapan, “Kalau ingin bertani, semuanya akan kuberikan untuk kalian garap,” serta perkataan bahwa “Kepala Regu Zhang adalah orang luar” membuatnya ragu.
Jika keluarganya membantu kepala desa, mereka tetap hanya menggarap tanah milik orang lain. Begitu kepala desa kembali, tanah itu harus dikembalikan.
Selain itu, Kepala Regu Zhang adalah orang luar. Setelah selesai mencatat, ia akan pergi. Keluarganya malah akan tanpa alasan menyinggung seluruh keluarga Xu.
Sedangkan tanah milik Paman Changgeng…
Saat Liu masih bimbang, istri Genbao sudah menarik suaminya dan berkata, “Genbao bisa bersaksi. Aku juga tahu, karena petak tanah di sebelah Sawah Muara Air itu milik keluarga kita.”
Ucapan itu membuat kakak tertua, Xu Genyou, semakin kebingungan. Sejak kapan keluarganya memiliki sebidang tanah lagi? Tanah itu jelas-jelas milik orang lain.
Xu Genbao melihat istrinya mengedipkan mata berkali-kali kepadanya. Ia segera mengerti, lalu ikut mengiyakan, “Benar! Benar! Benar! Tanah-tanah itu memang seperti yang dikatakannya. Aku dan istriku bisa bersaksi.”
Xu Yaozu menepuk bahu Xu Genyou. “Lihat, Genbao saja masih ingat. Kenapa kau malah bicara sembarangan?”
Xu Genyou, sang kakak, sudah tahu apa yang hendak dilakukan adiknya. Ia hampir pingsan karena marah.
Adiknya hendak membantu Xu Yaozu merampas beberapa petak sawah itu, sekaligus mendapatkan sedikit keuntungan untuk dirinya sendiri.
Semua tanah tersebut adalah milik penduduk Desa Keluarga Xu. Bisa jadi para pemiliknya akan kembali suatu hari nanti. Jika kabar bahwa mereka merampas tanah orang lain tersebar, bagaimana mungkin mereka masih sanggup menampakkan wajah dan hidup di dunia ini?
Saat itu, beberapa keluarga Xu lainnya mulai berbisik-bisik. Tatapan mereka ke arah keluarga itu juga berubah menjadi aneh.
Wajah Xu Genyou memerah karena malu. Tanpa peduli pada pandangan orang lain, ia berteriak, “Genbao, jangan kehilangan hati nuranimu! Kalau bertindak, bertindaklah dengan jujur dan terhormat! Paman Changgeng dan yang lainnya masih berada di gunung!”
Liu juga menunjuk menantunya yang paling muda dengan tubuh gemetar karena marah. “Kenapa pikiranmu selalu dipenuhi hal-hal seperti ini? Aku sungguh menyesal menikahkan perempuan malas sepertimu ke dalam keluarga kami. Satu pernikahan yang buruk bisa merusak tiga generasi! Kau sudah menyesatkan putraku, dan sekarang masih ingin menyesatkan cucuku!”
Mendengar kakaknya dan ibunya memaki dirinya sebagai orang tak berhati nurani, Genbao langsung tidak berani bersuara.
Namun, istrinya justru panik. Melihat rencananya akan gagal, ia menjatuhkan diri ke tanah lalu mulai menangis meraung-raung.
“Berhentilah berpura-pura suci! Sejak menikah masuk ke keluarga Xu, setiap hari aku makan tidak kenyang dan berpakaian tidak layak.
Tanah sedikit itu harus menghidupi sepuluh orang. Semua bergantung pada sedikit keterampilan Genbao untuk mendapatkan uang.
Setiap kali ada sedikit daging dimasak dan disajikan di meja, seluruh keluarga langsung ikut makan. Tiga orang itu seperti setan kelaparan. Bahkan saat aku sedang hamil, aku masih harus berebut makanan. Kalau aku makan beberapa suap lebih banyak, mereka bertingkah seolah-olah aku telah mengambil keuntungan sebesar-besarnya.
Sekarang anakku, Leiwa, juga sedang tumbuh besar. Sampai kapan hidup seperti ini akan berakhir?”