Bab 161 Jangan dipukuli lagi, jangan pukul dia lagi
Bersamaan dengan suara yang menyerupai guntur itu, sebuah kepala raksasa tiba-tiba terjulur keluar dari tengah gumpalan awan.
Segera setelah itu, dari dalam dua lubang hidung yang ukurannya sebesar rumah tersebut, tiba-tiba melesat keluar dua ekor naga api dengan tanduk yang kokoh dan angkuh.
"Raaawr!"
Begitu muncul, kedua naga api itu langsungmenderu dan menubruk ke arah Serafim dari udara.
Suhu panas yang membakar membuat udara di sekitarnya bergelombang menghasilkan gelombang panas berlapis-lapis. Meskipun masih berjarak cukup jauh, Serafim sudah merasakan seluruh tubuhnya mendidih, seolah-olah pada detik berikutnya ia akan terbakar dan berubah menjadi sebuah obor.
"Bagaimana mungkin ia juga memiliki api suci?" Sebagian bola mata di tubuh Serafim memancarkan rona ketidakpercayaan.
Dalam ingatannya, hanya api yang dianugerahkan oleh para dewa sajalah yang memiliki sifat membakar segala sesuatu tanpa terkecuali. Itu seharusnya menjadi kemampuan unik miliknya, bagaimana mungkin sekarang hal itu muncul pada diri sesepuh dewa palsu bidah.
Sesaat kemudian ia sadar dan menemukan kejanggalan di balik itu semua.
Api suci miliknya dan permukaan kedua naga api ini sepintas tampaknya memiliki sifat yang sama, namun jika dirasakan lebih teliti, ada banyak sekali perbedaannya... Kendati demikian, seorang dewa palsu bidah yang berani meniru api suci, ini sudah merupakan sebuah penghujatan terhadap para dewa!
Namun, sebelum Serafim sempat melampiaskan kemarahannya, ia harus menghindari kedua naga api ini terlebih dahulu, karena jika sampai tersentuh sedikit saja, akibatnya akan sangat sulit diatasi.
Menghadapi serangan dua arah dari naga api tersebut, Serafim mengibaskan sayapnya untuk mundur, sementara di saat bersamaan, sebagian bola mata di tubuhnya mengumpulkan cahaya merah menyala hingga garis-garis cahaya yang begitu padat memenuhi langit.
Seekor naga api gagal menghindar dan menubruk langsung cahaya tersebut. Tubuh raksasanya seketika tertembus, meninggalkan sebuah lubang besar yang menembus dari sisi ke sisi.
Tak lama kemudian, seiring dengan datangnya lebih banyak berkas cahaya, tubuh naga api itu tertusuk-tusuk hingga menyerupai seekor landak.
Diiringi sebuah jeritan pilu, tubuhnya meledak dengan dahsyat, berkeping-keping menjadi bola api yang menghujam ke segala penjuru arah.
Melihat hal itu, Serafim mengepakkan sayapnya untuk terbang lebih tinggi demi menghindari percikan api yang berjatuhan agar tidak mengenai tubuhnya, sekaligus menghindari serangan mendadak dari naga api yang lain. Di tengah kepakan sayapnya, ia meluncur melewati bahaya dengan mudah.
Namun entah mengapa, sejak tadi ada perasaan bahaya yang terus menyelimuti lubuk hatinya.
Hingga saat ini, satu dari dua naga api telah meledak, dan naga api yang satunya lagi juga berhasil dipermainkannya seperti boneka, meskipun demikian, perasaan krisis di dalam hatinya sama sekali tidak melemah, sebaliknya malah semakin mendesak.
Tunggu, si bidah itu!
Saat pikiran tersebut terlintas di benak Serafim, ia juga menyadari bahwa aliran udara di sekitarnya tiba-tiba mulai bergejolak, dan dua telapak tangan raksasa dari kiri serta kanan tiba-tiba menerkam ke arahnya.
Reaksi Serafim sebenarnya sudah sangat cepat; ia langsung mengepakkan sayapnya untuk mengubah arah, namun ujung dari sehelai sayapnya tetap berhasil tercengkeram.
Tubuhnya ditarik oleh kekuatan yang luar biasa besar, membuat gerakan terbangnya terhenti sesaat.
Pada saat bersamaan, telapak tangan yang lain menyusul erat dan mencengkeram tubuh utamanya.
"Kaum bidah, sialan, aaargh!"
Merasakan tenaga raksasa yang disalurkan ke tubuhnya, Serafim merasa seluruh persendian tulangnya mengeluarkan suara berderit seolah tak mampu menahan beban.
Seiring dengan bunyi retakan tulang yang begitu padat di dalam tubuhnya, si makhluk bidah yang biadab itu tidak berhenti sedetik pun dalam menyiksanya. Setiap kali hantaman itu mendarat, sehelai demi sehelai bulu tercabut paksa dari dagingnya.
Rasa sakit sebenarnya berada di urutan kedua, yang paling utama adalah rasa hina!
Para malaikat bertempur ke berbagai penjuru demi para dewa, dan perjalanannya tentu tidak selalu mulus; jalan terjal serta kegagalan bukanlah hal yang jarang terjadi. Bahkan dirinya, yang berstatus sebagai petarung paling elit di jajaran pertama di bawah singgasana dewa, pun pernah memiliki masa lalu berupa menderita luka-luka dan harus beristirahat untuk memulihkan diri.
Terluka bukanlah sebuah kehinaan, sebaliknya, bekas luka adalah medali kehormatan seorang prajurit. Akan tetapi... dicengkeram dalam genggaman orang lain dan dipaksa mencabut seluruh bulu di tubuhnya secara hidup-hidup, ini adalah sesuatu yang sama sekali tidak dapat ditoleransi oleh Serafim.
Ia ingin melawan.
Namun tubuh raksasa makhluk bidah itu serta kekuatan mengerikan yang dimilikinya membuat segala perlawanan Serafim menjadi sia-sia belaka.
Tidak hanya itu, naga api yang sebelumnya dipermainkan seperti anjing olehnya kini turut memanfaatkan situasi untuk melingkar dan membelit tubuh Serafim.
"Bum!"
Suhu panas yang membakar langsung menyulut bulu-bulu di tubuhnya hanya dalam sekejap. Diiringi suara deru angin, kobaran api mendadak membesar dan membungkus seluruh tubuhnya.
Bulu-bulu yang tadinya digunakan untuk memperindah penampilan serta menjadi simbol kemuliaan seorang malaikat, pada saat ini justru berbalik menjadi jimat kematian bagi Serafim, menyediakan kayu bakar bagi berkobarnya api.
Api yang mengamuk itu, setelah menghanguskan bulu-bulu hingga gosong, merambat turun ke bagian kulit dan daging, menimbulkan suara mendesis akibat panggangan yang membara. Kulit yang berlumuran darah berubah dari setengah matang menjadi ranum dan juicy, hingga akhirnya menghitam legam.
Kendati demikian, semua itu masih belum berakhir.
Kedua telapak tangan raksasa tersebut masih terus menghancurkan tubuhnya tanpa henti, mematahkan seluruh tulang di balik daging, merobek-robek otot agar api dapat merambat masuk ke dalam tubuh melalui luka-luka tersebut.
Di bawah siksaan yang setara dengan hukuman mati kuno ini, seraya merasakan aura kekuatannya sendiri yang semakin melemah, Serafim sangat sadar bahwa kali ini ia kemungkinan besar akan mati dengan cara yang begitu memalukan—alasan mengapa situasinya bisa berakhir seperti ini, di satu sisi adalah karena tingkat kesulitan makhluk bidah ini yang jauh melampaui imajinasi.
Selain itu, Dewa Api juga harus memikul sebagian tanggung jawab!
Tindakan gegabahnya lah yang menghancurkan penduduk asli Tanah Tengah, sehingga memberikan kesempatan bagi makhluk bidah ini untuk memanfaatkan celah. Tidak memberikan informasi mengenai kemampuan serta latar belakang si bidah juga merupakan sebuah dosa besar... Satu demi satu kesalahan, kepingan demi kepingan yang terangkai bersama, barulah menciptakan kekalahan telak kali ini.
Namun tidak apa-apa, sebagai prajurit para dewa, bahkan setelah mati pun ia masih bisa bangkit kembali di surga.
Hanya saja waktu menunggu kebangkitannya akan sedikit lebih lama.
"Aku pasti akan kembali!" Di tengah amukan api yang membakar, Serafim berteriak nyaring, "Wahai makhluk bidah, sebelum aku bangkit kembali, pastikan kau tidak mati di tangan orang lain. Kelak aku sendiri yang akan menyeretmu ke tiang pembakaran dan menyaksikanmu musnah terbakar oleh api suci!"
"Dewa yang suci,
Dewa yang luhur,
Dewa yang agung,
Dewa yang Maha Kuasa..."
"Banyak sekali omong kosongmu!"
Mendengar makhluk ini kembali melantunkan serangkaian kalimat pujian itu, Zhang Ke sedikit mengerutkan keningnya sambil mengerahkan tenaga pada kedua tangannya.
Serafim yang tadinya sudah luluh lantak menjadi gumpalan daging kini hancur total menjadi bubur daging di bawah kekuatan yang luar biasa itu. Sisa tubuhnya ditelan oleh naga api dan dikremasi menjadi segenggam abu.
Yang membuat Zhang Ke terkejut adalah, setelah membakar tubuh fisiknya, jiwa yang tertinggal dari malaikat tersebut tampak agak aneh. Sambil terus membakar dengan api dan mengamatinya, ia menunduk untuk berpikir sejenak: "Zhenling-nya telah dipotong-potong?"
Bagus sekali!
Pantas saja Serafim ini sesumbar mengatakan bahwa dirinya tidak bisa mati, rupanya sebelum keluar ia telah membelah Zhenling (jiwa sejati) miliknya terlebih dahulu.
Dengan cara ini, ia sepenuhnya dapat menumbuhkan tubuh baru dan memasukkan Zhenling miliknya ke dalamnya, sehingga ia akan kembali menjadi sesosok malaikat yang segar bugar.
Tentu saja, metode yang digunakan oleh Serafim ini berbeda dengan metode Zhang Ke.
Ketika membuat suar permainan, pembagian Zhenling Zhang Ke hanya meliputi bagian yang sangat kecil, kira-kira setara dengan mengikis sedikit serpihan kulit dari seseorang, dan tubuh yang dikirimkan ke dalam dungeon pada mulanya juga hanya sebagian kecil saja, setara dengan memotong sepotong kecil daging.
Bahkan jika mengalami kehancuran, kerugian bagi Zhang Ke tidaklah besar; berkat kemampuan regenerasi tubuhnya, ia akan segera pulih dalam waktu singkat.
Jika ia beruntung dan tidak mati, seutas Zhenling itu juga akan tumbuh secara bertahap di bawah naungan otoritas ketuhanan, hingga akhirnya berkembang menjadi wujud yang sempurna... persis seperti pertumbuhan dan perkembangan kehidupan.
Namun Serafim tidak demikian.
Di satu sisi, ia tidak memiliki teknik pemotongan yang presisi seperti sistem permainan; di sisi lain, meskipun Serafim langsung memiliki tubuh dan kekuatan yang tangguh setiap kali bangkit kembali, batas atas dan batas bawah kekuatannya sudah ditetapkan.
Atau dengan kata lain, tidak memiliki potensi pertumbuhan.
Hal inilah yang menyebabkan Serafim harus mengorbankan jauh lebih banyak hal untuk mempertahankan tubuh ini.
Jika Zhang Ke diibaratkan hanya mengiris seutas kecil serat daging dari tubuhnya sendiri, maka makhluk itu langsung menebas salah satu dari keempat anggota tubuhnya, atau bahkan lebih.
Kasus yang pertama masih bisa disembuhkan sendiri, tetapi kasus yang kedua adalah kecacatan yang murni.
Tentu saja, masalah ini bisa dikatakan serius ya serius, namun bisa juga dikatakan tidak serius. Selama seseorang menguasai otoritas dunia bawah (Yin-Yang/Neraka), sebenarnya itu hanyalah masalah sepele. Bahkan eksistensi yang hanya menyisakan seutas Zhenling pun masih bisa berreinkarnasi ke alam fana—meskipun setelah hidup kembali, pada dasarnya hampir tidak ada harapan lagi untuk menemukan kembali jati diri mereka yang dulu.
Itu hanyalah seorang malaikat yang Zhenling-nya mengalami kecacatan. Setelah berreinkarnasi dan melalui proses pembentukan kembali di dalam rahim seorang ibu, ia akan dapat bangkit kembali.
Metode ini tidak hanya digunakan oleh para malaikat tersebut; para dewa dan makhluk abadi di seluruh penjuru Jiuzhou justru memainkannya dengan tingkat kemahiran yang sangat tinggi.
Jika tidak, mengapa ada sebutan tentang dewa anu yang kembali usai merampungkan kesengsaraan? Pada dasarnya mereka adalah pihak-pihak yang sebelumnya bermain terlalu berlebihan hingga kehilangan terlalu banyak Zhenling yang tak mampu dipulihkan dengan kekuatan sendiri, sehingga terpaksa harus berreinkarnasi dan meminjam proses kehamilan rahim berkali-kali agar diri mereka menjadi utuh kembali.
Para lawan yang pernah dihadapi Zhang Ke di masa lalu, entah itu berada di tepi era akhir Dharma dengan lingkungan yang keras, atau para siluman dan Buddha liar yang latar belakang fondasinya tidak cukup mendalam.
Ia sudah terbiasa menghadapi musuh yang hanya memiliki satu nyawa. Sekarang, tiba-tiba berjumpa dengan sosok seperti Serafim ini... Tentu saja, seandainya pun Zhang Ke telah bersiap-siap sebelumnya, ia tetap tidak bisa berbuat apa-apa; memecah belah Zhenling memang merupakan jurus pamungkas untuk menyelamatkan nyawa.
Kecuali jika saat ini ia bisa langsung menerobos masuk ke surga dan merobohkan sarang para malaikat.
"Sayang sekali, sebelumnya aku tidak pernah mempelajari mantra atau kekuatan gaib kutukan, kalau tidak, aku tidak akan membiarkannya kabur dengan begitu mudah!"
Sambil membakar jiwa dan Zhenling malaikat itu secara bersamaan, Zhang Ke berpikir dengan sedikit rasa menyesal.
Api Sejati Samadhi, dalam situasi seperti ini, masih terasa agak terlalu fisik.
Seandainya saat berada di perbendaharaan Kaisar Surgawi waktu itu ia tidak memilih [Ukuran Sesuai Kehendak] melainkan memilih [Paku Tujuh Panah Kepala Paku], maka saat ini, meskipun Serafim memotong lengannya demi menyelamatkan diri, ia tetap bisa melacak hingga ke tubuh aslinya dan mencabut akar permasalahannya sampai tuntas.
Adapun mengenai efek samping dari kekuatan gaib [Paku Tujuh Panah Kepala Paku]... toh itu hanya digunakan di dalam dungeon, jadi tidak masalah.
Tentu saja, saat ini hanyalah perasaan menyesal sesaat yang berkecamuk di benak Zhang Ke. Setelah emosi itu surut, jika diminta memilih lagi, ia pasti tetap akan memilih [Ukuran Sesuai Kehendak]. Mau bagaimana lagi, kekuatan gaib ini benar-benar sangat berguna!
Memperbesar atau memperkecil tubuh sama sekali tidak mempengaruhi kelenturan fisik, dan setelah membesar, tubuhnya juga mendapat tambahan kekuatan yang luar biasa besar.
Semula sebagai Dewa Bumi, Zhang Ke sudah mampu memanfaatkan otoritas ketuhanan untuk menghasilkan kekuatan yang sanggup merubuhkan gunung di setiap gerakannya, ditambah lagi dengan dorongan penguatan dari kekuatan gaib [Ukuran Sesuai Kehendak], hal itu menghasilkan efek satu ditambah satu lebih besar dari dua.
Sepanjang perjalanan ini, mulai dari bertarung di kota pelindung perbatasan hingga menembus Tanah Tengah, serta merobohkan para malaikat, metodenya selalu berkisar antara membakar dengan api atau menindas lawan dengan kekuatan fisik murninya.
Tanpa disadari, Zhang Ke sudah mulai terbiasa dengan gaya bertarung yang langsung dan to the point seperti sekarang ini... Sebenarnya, selama bisa meraih kemenangan, dipanggil sebagai orang barbar oleh orang lain pun tidak jadi masalah.
Bagaimanapun, yang menikmati kesenangan adalah mulut mereka, tetapi yang melayang adalah nyawa mereka.
Ketika Serafim telah berubah menjadi abu dari dalam hingga ke luar, Zhang Ke menarik kembali kekuatan gaibnya dan memanggil pulang Segel Ilahi miliknya.
Ia berbalik, melangkah maju, dan bergerak menuju bagian dalam Tanah Tengah.
Sepanjang jalan yang dilaluinya, baik itu para siluman, hantu, monster, maupun dewa-dewa pribumi, tidak perlu menunggu Zhang Ke mendatangi mereka secara aktif untuk menagihnya, mereka semua sudah dengan sukarela menyerahkan otoritas ketuhanan masing-masing dan meleburkan diri ke dalam pelukan Dinasti Tang.
Terhadap para siluman dan dewa yang tahu aturan ini, Zhang Ke juga menyunggingkan senyuman penuh kebaikan.
Hanya saja, senyuman tersebut, di mata para siluman dan dewa pribumi, tidak ada bedanya dengan manusia yang melihat hantu ganas atau iblis mengerikan.
Bagaimanapun, pertama-tama faksi garis keras Tanah Tengah, dan sekarang para malaikat, siapa pun yang berani memancing kemarahan tokoh yang satu ini bahkan tidak akan menyisakan sebutir serpihan tulang pun. Bagaimana mungkin mereka tidak merasa takut?
Kedua kaki mereka gemetar ketakutan.
Bahkan ada yang bermental lemah, matanya mendelik ke atas, lalu jatuh pingsan di tempat.
Melihat pemandangan itu, sudut bibir Zhang Ke sedikit berkedut.
Ia hanya ingin membuat siluman-siluman kecil di Tanah Tengah ini merasakan kehangatan, apa salahnya.
Mereka semua malah menghindar sejauh-jauhnya, seolah-olah baru saja melihat hantu.
Karena mereka semua tidak mau diajak bekerja sama, Zhang Ke pun malas untuk pura-pura memasang ekspresi welas asih dan ramah lagi. Sambil mendesak Raja Siluman Burung Bangkai dan kawan-kawan untuk mempercepat pengumpulan otoritas ketuhanan, Zhang Ke sendiri mulai mengendalikan urat nadi bumi dan mulai mencaplok urat nadi bumi Tanah Tengah.
Namun, tepat pada saat itu, ia mendengar suara panggilan yang begitu mendesak datang dari belakangnya.
Zhang Ke menoleh ke belakang dan melihat Hakim Lu sedang mengendalikan sebuah kereta kuda di langit, meluncur dengan kecepatan tinggi ke arahnya, sementara mulutnya berseru dengan cemas: "Jangan bertarung lagi, tolong jangan bertarung lagi......"