Buku Tiga: Tempat Hatiku Tenang - Bab Lima Puluh Enam: Berburu
Song Zining mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah lampu kekuatan sumber yang tergantung di langit-langit kemah, cahaya yang menyilaukan itu seolah sama sekali tidak berdampak pada matanya. Di dalam bias cahaya kuning yang terang, seolah-olah muncul sesosok bayangan kecil yang keras kepala, yaitu Qianye.
Sejak meninggalkan Kamp Pelatihan Huangquan, Song Zining tidak pernah melihatnya lagi. Siapa sangka ketika mendapatkan beritanya sekali lagi, itu justru adalah laporan gugurnya Lin Qianye di Red Scorpion!
Saat itu, Song Zining baru saja kembali ke keluarganya dan sedang terjebak dalam badai suksesi yang penuh intrik. Ia bahkan kesulitan melindungi dirinya sendiri, dan baru memiliki waktu luang untuk mencari tahu masa lalu sejak setengah tahun yang lalu. Namun, ia mendapati bahwa segala sesuatu di baliknya diselimuti oleh lapisan-lapisan tirai besi, bagaikan malam abadi yang tak berujung tanpa cahaya.
Namun, tepat pada saat ini, Song Zining melihat orang yang berada di sisi Qiqi. Meskipun tinggi dan bentuk tubuhnya sudah sepenuhnya berbeda, serta rupa dan tempramennya hanya memiliki kemiripan tiga bagian, ia seolah-olah melihat Qianye sedang berdiri di hadapannya.
Namun, tetap saja ada sesuatu yang terasa janggal.
Teknik rahasia kuno yang dipelajari oleh Song Zining dapat menembus langsung ke sumber segala hal. Setiap lukisan yang dibuatnya adalah hasil perhitungan dari rupa asli orang di sisi Qiqi setelah melepas penyamarannya, serta rupa Qianye saat dewasa, tetapi ia justru mendapatkan sebuah kesimpulan yang meragukan. Semua kaitan di antara kedua orang ini menunjukkan bukti tak terbantahkan bahwa separuhnya pasti merupakan orang yang sama, namun separuh bukti tak terbantahkan lainnya memastikan bahwa mereka bukanlah orang yang sama.
Semalam, pengikut pribadi Song Zining mengirimkan data latar belakang mengenai orang tersebut kepadanya. Qian Xiaoye, atau bisa juga dipanggil Qianye, lahir di Provinsi Baishi, perbatasan selatan Kekaisaran. Kedua orang tuanya adalah pedagang sipil yang datang ke Benua Yongye dua belas tahun lalu, dan tewas bersama dalam sebuah insiden penyerangan di permukiman manusia. Ia kemudian diadopsi secara bergantian oleh seorang perwira militer dan seorang pemburu, lalu bergabung dengan Serikat Pemburu, hingga akhirnya Keluarga Yin merekrutnya ke dalam pasukan mereka dalam sebuah perilisan misi.
Semua ini tampak begitu masuk akal dan tanpa celah yang mencurigakan. Namun di mata Song Zining, kewajaran ini justru terasa terlalu tidak normal.
Hari hampir fajar. Benua bagian atas mengalami pergantian empat musim dengan siang dan malam yang jelas. Di puncak gunung di kejauhan, seberkas rona kemerahan telah muncul di langit fajar. Song Zining, yang tidak tidur semalaman, berjalan keluar kemah dan meregangkan tubuhnya. Di kemah di sebelah, tampak Ye Mulan sedang tidur dengan mengenakan pakaian lengkapnya, rambutnya sedikit berantakan, jelas kelelahan sepanjang malam.
Melihat hal itu, sudut bibir Song Zining menyunggingkan senyuman dengan makna yang tak dapat ditebak, namun tidak ada secercah senyum pun di dalam matanya.
Di arah yang beruang, lolongan binatang buas terdengar sela-menyelah di dalam hutan, disusul oleh auman pria yang jauh lebih nyaring daripada suara binatang buas.
Wei Potian sedang melengkingkan suara tajam bagaikan guntur musim semi, bertarung sengit melawan seekor beruang cokelat berlapis baja. Ini adalah makhluk raksasa berbobot setidaknya seribu kilogram, yang hantaman cakarnya saja tidak dapat dilawan secara langsung bahkan oleh seorang pejuang tingkat lima. Saat ini, seluruh tubuh Wei Potian diselimuti oleh cahaya kuning, menahan beban ribuan gunung, dan terlibat dalam pertarungan jarak dekat dengan beruang cokelat tingkat tujuh tersebut.
Setiap kali ia melancarkan pukulan, secercah cahaya cemerlang yang berkilau akan melintas di kepalan tangannya. Pukulannya begitu berat bagaikan gunung, menghantam beruang cokelat berkulit tebal itu hingga mengaum liar. Wei Potian terbawa oleh keganasannya, tiba-tiba meraung, menerjang maju dengan seluruh tubuhnya, dan melingkarkan sepasang lengan besinya ke kepala beruang itu, semakin lama semakin erat!
Beruang cokelat itu meronta sekarat, dengan putus asa memukul dan mencakar tubuh Wei Potian. Cahaya ribuan gunung tampak terang redup silih berganti, dan baju perang buatan khusus Keluarga Wei pun robek berkeping-keping, akhirnya meninggalkan jejak luka berdarah yang dalam dan dangkal di tubuhnya!
Di antara para pengawal Keluarga Wei, meskipun ada ahli tingkat tujuh, mereka hanya bisa berdiri di luar lingkaran sambil merasa cemas bukan main tanpa berani maju untuk membantu secara gegabah. Sebelumnya, mereka sempat dimarahi habis-habisan ketika mencoba ikut campur. Pada saat kritis antara manusia dan binatang buas ini, mereka sama sekali tidak berani membuat Wei Potian terganggu. Ini adalah pertempuran kepahlawanan sang pewaris Keluarga Wei.
Wei Potian mengeluarkan auman yang mengguncang bumi, kedua tangannya tiba-tiba mengerahkan tenaga ganda, dan tulang leher beruang cokelat itu patah di tengah bunyi kertakan yang tajam. Baru setelah itu binatang buas perlahan-lahan terkulai lemas.
Wei Potian melepaskan tangannya, merasakan kepuasan yang luar biasa. Ia terkekeh bodoh beberapa kali dan baru saja hendak memasang pose untuk memamerkan keperkasaan seorang mayor kekaisaran, tanpa diduga gerakannya mengenai bagian tubuhnya yang terluka, membuat sekujur tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa! Tak urung ia mengeluarkan jeritan kesakitan!
Para pengawal buru-buru mengerumuni dan membaringkan Wei Potian dengan posisi datar. Mereka sibuk setengah mati, mengobati luka dan menyuirkan air minum. Setelah kekuatan ribuan gunung ditarik, sang pewaris Keluarga Wei mulai berteriak-teriak melengking seolah-olah sedang memasuki rumah pemotongan hewan. Luka-luka ini tidak terlalu parah, tetapi cukup menyakitkan. Bahkan jika ia memiliki kulit setebal beruang cokelat, rasa sakitnya tetap membuatnya merasa bagaikan hidup segan mati tak mahu.
Selepas pertempuran ini, Wei Potian harus beristirahat setidaknya selama satu atau dua hari. Peringkat Keluarga Wei yang baru saja melonjak masuk ke posisi tiga besar pasti akan merosot tajam, tetapi untuk saat ini hal itu bukanlah sesuatu yang akan ia pikirkan.
Qiqi pada saat ini juga telah memasuki area tingkat enam. Bagaimanapun caranya ia bermalas-malasan, ia tetap bergerak lebih cepat daripada Song Zining. Komposisi anggota timnya masuk akal dan perbekalannya memadai, sebuah formasi yang unggul dalam daya dorong di paruh kedua. Oleh karena itu, di bagian belakang, masih cukup banyak orang yang menjagokan Qiqi.
Begitu saja, hari lainnya pun berlalu.
Omong-omong, di antara tim pemburu dari berbagai keluarga, orang yang memiliki suasana hati paling buruk justru adalah Zhao Junhong yang memimpin jauh di puncak klasemen.
A Jiang terbaring di dalam kemah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ia berjuang keras kembali ke tempat perkemahan, lalu setelah ketegangannya lepas, ia langsung pingsan.
Meskipun para pengawal Zhao Junhong membawa orang yang mahir dalam pertolongan medis lapangan, mereka tidak berdaya menghadapi racun campuran yang diracik khusus oleh Qianye. Penawar racun umum hanya mampu menyelamatkan nyawa A Jiang untuk sementara waktu, namun untuk menyingkirkan racun itu sepenuhnya dan memulihkan kekuatan, bukanlah urusan satu atau dua hari, terlebih lagi lapangan pertempuran kekurangan peralatan profesional.
Setelah mendengarkan laporan, Zhao Junhong mengerutkan kening dan bertanya, "Jadi, perburuan berikutnya, dia tidak bisa ikut?"
"Benar, dia harus segera dikirim kembali. Jika tidak ditangani dengan baik dalam waktu tiga hari, nyawanya akan terancam."
Wajah Zhao Junhong semakin suram. Ia mengangguk dan berkata, "Kirim dia kembali ke pangkalan depan, lalu segera kembali. Atur orang di pangkalan untuk membawanya ke Kediaman Resmi Adipati Weiguo, dia akan bisa disembuhkan di sana."
Pengawal itu mengiyakan dan pergi untuk mengurusnya.
Zhao Junhong menghela napas panjang, namun suasana hatinya sangat buruk. Dengan begini, bukan saja tim pemburunya kehilangan satu orang secara permanen, tetapi pengawal yang mengantar itu juga membutuhkan waktu setidaknya dua hari untuk pergi dan pulang, sehingga efisiensi perburuan dalam dua hari ini akan kembali menurun.
Zhao Junhong sama sekali tidak mengkhawatirkan keluarga bangsawan lainnya. Orang-orang yang diperhitungkannya hanyalah Song Zining dan Yin Qiqi, bahkan orang-orang seperti Nangong Wanyun dan Kong Yanian sama sekali tidak dipandangnya.
Sebab, ia sama sekali tidak dapat membaca Song Zining, dan kekuatan pengawal Keluarga Song yang datang kali ini sudah melebihi standar untuk posisi Song Zining di dalam keluarganya. Sementara itu, kekuatan tempur pribadi Yin Qiqi berkembang sangat pesat dalam dua tahun terakhir. Karena sedang berpartisipasi dalam ujian besar pewaris, anggota tim pemburunya sepenuhnya adalah orang-orang kepercayaannya sendiri, tidak seperti dirinya dan Song Zining yang membawa pengawal keluarga, di mana memang ada orang-orang kepercayaan di antara mereka, namun bukan berarti semuanya adalah orang mereka sendiri. Pada tahap pertempuran jarak dekat di akhir nanti, perbedaan kecil ini mungkin akan mendatangkan pengaruh.
Namun saat ini situasinya paling-paling hanya sedikit menegangkan. Diperkirakan kesenjangan skor tidak akan melebihi terlalu banyak, dan masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa seseorang dapat mengancam posisi teratas Klan Zhao.
Meskipun sudah larut malam, suara tembakan dan ledakan masih sering terdengar di Gunung Tianxuan. Banyak orang yang memanfaatkan waktu untuk memanen buruan. Terutama para keturunan bangsawan yang beraktivitas di area luar, mereka harus berlomba dengan waktu. Jumlah buruan di bawah tingkat lima sangat terbatas dan akan habis dipanen dalam beberapa hari ke depan, saat itu mereka harus mengambil risiko memasuki area tingkat tinggi, dan tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Oleh karena itu, perolehan dalam beberapa hari pertama ini menjadi sangat krusial.
Qianye saat ini sedang berbaring di atas cabang pohon yang besar, menggigit sehelai rumput di mulutnya, menatap ke arah bulan purnama raksasa yang mendominasi separuh langit malam. Konon di atas bulan juga terdapat sebuah dunia, hanya saja tidak diketahui apakah ada orang yang pernah pergi ke sana.
Di dalam hati Qianye, api masih menyala dan belum padam. Sebelum api ini padam, ia bahkan tidak dapat tidur dengan tenang. Ia memikirkan cara-cara untuk menghadapi Zhao Junhong di dalam benaknya, mendaftarkannya satu persatu, lalu membatalkannya satu persatu. Sekalipun Zhao Junhong kehilangan dua orang anak buahnya untuk sementara waktu, ia tetap memiliki kekuatan tingkat atas yang tidak dapat dilawannya seorang diri.
Qianye memejamkan mata, berusaha merasakan angin malam musim semi di daratan Qin yang sama sekali berbeda dengan Benua Yongye, sedikit hangat, dipenuhi aroma rerumputan yang samar, kadang-kadang diselingi oleh bau amis binatang buas, mengingatkan orang-orang bahwa dunia yang penuh vitalitas ini tidaklah begitu aman.
Ia kembali mengenang sedikit demi sedikit hasil dari membayangi dan mengamati Zhao Junhong selama setengah hari penuh. Tiba-tiba, sebuah detail yang hampir terlewatkan muncul di depan matanya, seketika menyambar bagaikan kilat yang membelah kegelapan malam yang pekat!
Qianye seketika bangkit berdiri dan mulai bergerak cepat di bawah naungan malam, mengintai kontur medan di sekitarnya. Gerakannya secepat hantu, sekali melompat ia bisa menempuh belasan meter, melesat di dalam hutan bagaikan sesosok bayangan. Begitu saja, hanya dalam waktu semalam, Qianye telah menapakai area yang mungkin membutuhkan waktu tiga atau empat hari bagi orang lain untuk melintasinya.
Menjelang pagi, Zhao Junhong terbangun dari tidurnya. Setelah membersihkan diri dan sarapan, ia kembali memulai perburuan di hari yang baru.
Qianye sedang duduk di antara tumpukan batu di puncak gunung, memandang rendah seluruh lembah dari tempat yang tinggi. Berjarak hampir seribu meter di bawah sana, Zhao Junhong dan rombongannya sedang berjalan perlahan. Beberapa pengawal terpencar jauh di kejauhan, masing-masing berjarak puluhan meter, menyusuri lembah ke depan. Tempat ini adalah sarang sekelompok naga tanah, dan poin yang bisa didapatkan tidaklah sedikit.
Qianye meredam seluruh auranya dan mengenakan penyamaran di tubuhnya. Jika dipandang dari arah lembah, ia sama sekali tidak berbeda dengan batu-batu lain di antara tumpukan batu tersebut.
Tiba-tiba sebuah auman bagaikan guntur meledak di dalam lembah, disusul oleh getaran bumi. Seekor naga tanah tingkat tujuh, bersama beberapa ekor naga tanah tingkat lima dan enam, berhamburan keluar dari sarangnya dan langsung menerjang ke arah Zhao Junhong. Naga tanah ini berwujud mirip kadal, hanya saja ukurannya ratusan kali lipat lebih besar, panjangnya mencapai belasan meter dari kepala hingga ekor, bergerak bagaikan angin, memiliki kekuatan tak terbatas, dan sekujur tubuhnya dilapisi sisik yang sangat keras.
Zhao Junhong dengan tenang mengangkat senapannya, berjongkok setengah badan di tanah. Ketika naga tanah itu menerobos masuk dalam jarak seratus meter, moncong senapannya baru memancarkan kilau perak yang menyilaukan!
Naga tanah itu tiba-tiba mengeluarkan ratapan pilu. Seluruh rahang atasnya hampir terangkat habis oleh tembakan tunggal ini! Rasa sakit yang luar biasa membuatnya menjadi gila, terus menerjang Zhao Junhong secara membabi buta. Namun senapan perak itu telah meletuskan dua tembakan berturut-turut, masing-masing membuat lubang berdarah di dahi dan punggungnya!
Qianye diam-diam memperhitungkan jangkauan tembak, kecepatan, dan kekuatan sumber Zhao Junhong. Senapan perak yang memiliki daya hancur sangat mengerikan itu ternyata benar-benar merupakan senapan kekuatan sumber jenis tembakan beruntun.
Pada saat ini para pengawal juga mulai menembak secara silih berganti. Naga tanah berukuran lebih kecil terus-terus tertembak, dua ekor tingkat lima langsung tumbang di tempat, sementara yang tingkat enam dan tujuh memiliki daya hidup yang sangat ulet, berbalik arah dan melarikan diri tanpa mengurangi kecepatan sedikit pun.
Zhao Junhong melepaskan tiga tembakan berturut-turut, membuat wajahnya sedikit pucat. Dalam waktu yang dibutuhkannya untuk menarik napas, naga tanah tingkat tujuh yang sekarat itu telah melarikan diri sejauh seratus meter. Ini sudah menjadi batas jangkauan tembak Zhao Junhong, maka ia langsung mengambil langkah kejar. Melihat gerakannya yang lincah, naga tanah ini diperkirakan tidak akan bisa berlari jauh sebelum berhasil disusul.
Namun, tepat ketika Zhao Junhong baru saja melangkah, tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh dari kejauhan, bergemuruh bagaikan guntur musim semi! Itu adalah suara tembakan Eagle Strike!
Dalam bidang penglihatan Zhao Junhong, seberkas cahaya merah gelap terbang dengan kecepatan yang tidak masuk akal dari jarak hampir seribu meter, dan dengan tepat menghantam sisi tubuh naga tanah yang sedang berlari kencang, menghancurkan separuh sisa kepalanya berkeping-keping!